Setan merupakan musuh yang memikat bagi manusia. Demikian juga dunia. Keduanya disatukan dalam suatu firman-Nya dalam surah al -Fathir ayat 5 yang terjemahannya," Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah SWT."
Maknanya adalah : Usai mengisyaratkan bahwa Kiamat pasti akan tiba, Allah SWT. lalu secara tegas menyatakan bahwa janji tentang Kiamat, pahala, dan siksa adalah benar adanya. Karenanya, manusia tidak boleh terlena dan teperdaya oleh kehidupan dunia. Wahai manusia! Sungguh, janji Allah tentang pahala dan siksa itu benar, maka janganlah kehidupan dunia seperti kekayaan dan kekuasaan memperdayakan kamu sehingga kamu sedikit bahkan tidak sama sekali menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Dan janganlah setan yang pandai menipu dapat memperdayakan kamu tentang Allah dan ajaran agama-Nya. Demikian juga setiap setan yang berwujud manusia mengajakmu untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
Setan terburukmu adalah nafsumu sendiri yang berada dalam kedua sisimu. Sebab, dunia dan setan mengajakmu untuk tipu daya. Juga setan manusia. Ajakan mereka ( dunia,setan, dan setan manusia ) kepada kemaksiatan tidak membahayakanmu. justru yang membahayakanmu di dunia dan di akhirat adalah manerima ajakan mereka. Mereka adalah perantara saja, sementara nafsu adalah pelakunya. Jadi perlu melakukan perlindungan terhadap nafsu ( pelaku ) bukan untuk perantara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada hari kiamat kelak setan berkata sebagaimana firman-Nya dalam surah Ibrahim ayat 22 yang terjemahannya," Setan berkata ketika urusan (hisab) telah diselesaikan, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku mengingkarinya. Tidak ada kekuasaan bagiku sedikit pun terhadapmu, kecuali aku (sekadar) menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh karena itu, janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menjadi penolongmu dan kamu pun tidak dapat menjadi penolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang zalim akan mendapat siksaan yang sangat pedih."
Maknanya adalah : Dan setan berkata ketika perkara hisab telah diselesaikan dan Allah SWT. telah memasukkan penghuni surga dan penghuni neraka ke tempat masing-masing, "Sesungguhnya Allah Yang Maha Menepati janji telah menjanjikan kepadamu sebuah janji yang benar. Dia telah menjanjikan kepadamu kebangkitan dan hari Pembalasan, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu sebuah janji bahwa kebangkitan dan hari
Pembalasan adalah dusta belaka, tetapi aku menyalahi dan tidak menepati-nya. Sekarang aku tegaskan kepadamu bahwa tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu untuk memaksamu mengikutiku, melainkan aku hanya menyeru kamu menuju kekafiran lalu kamu mematuhi seruanku dengan suka rela. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri karena kemauanmu mengikutiku. Aku tidak dapat menolong dan menyelamatkanmu dari siksa Allah, dan kamu pun tidak dapat menolong dan menyelamatkanku darinya. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku dengan Allah SWT. sejak dahulu di dunia." Sungguh, orang yang zalim, berpaling dari kebenaran, dan memilih kesesatan pasti akan mendapat siksaan yang sangat pedih. Jelas jangan mencerca setan karena yang melakukan maksiat adalah nafsumu sendiri.
Dalam pandangan Islam, nafsu (hawa nafsu) memiliki peran ganda dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, nafsu adalah dorongan alami yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mencari kesenangan. Di sisi lain, nafsu yang tidak terkendali dapat menjadi sumber maksiat dan menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT.
Peran Nafsu dalam Kemaksiatan:
* Pendorong Maksiat:
Nafsu, terutama nafsu ammarah (yang selalu mendorong pada keburukan), dapat menjadi pendorong utama seseorang melakukan kemaksiatan. Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan nafsunya, ia akan mudah terjerumus pada perbuatan dosa seperti zina, mencuri, berbohong, dan lain sebagainya.
* Menutup Hati:
Godaan nafsu dapat membuat hati menjadi gelap dan lalai dari mengingat Allah SWT. Akibatnya, seseorang akan lebih fokus pada kesenangan duniawi dan melupakan tujuan akhirat.
* Menyesatkan:
Jika nafsu mendominasi pikiran dan tindakan, seseorang bisa tersesat dari jalan yang benar. Ia akan lebih mudah mengikuti bisikan setan dan hawa nafsunya, daripada mengikuti petunjuk Allah SWT.
Tujuan nafsu mengajak melakukan kemaksiatan yang jelas dan samar bukanlah untuk menghancurkanmu dan menghadapkan dirimu pada azab Allah SWT. Tujuan nafsu hanyalah untuk memenuhi hasratnya dan kenikmatannya. Hal yang berbeda dengan setan. Ia menyuruhmu patuh pada hawa nafsu karena ingin menghancurkanmu, bukan agar engkau merasakan nikmat karena kau mendapatkan hasratmu. Dalam surah Yusuf ayat 53 yang terjemahannya," Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Makna adalah : Setelah peristiwa yang dialami Nabi Yusuf berlalu dan ia terbukti tidak bersalah, ia pun berkata, "Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan apa pun, karena sesungguhnya salah satu jenis nafsu manusia itu adalah nafsu amarah, yang selalu mendorong manusia kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku sehingga tidak membawaku kepada kejahatan. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun atas segala dosa, Maha Penyayang bagi siapa saja yang Dia kehendaki.
Oleh katena iru, prntingnya dalam menjaga diri :
* Menjaga Pandangan:
Mengendalikan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan adalah salah satu cara untuk mengendalikan nafsu.
* Membaca Al-Quran:
Membaca Al-Quran dan memahami maknanya dapat membantu mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri pada Allah.
* Berkumpul dengan Orang Shaleh:
Bergaul dengan orang-orang shaleh dapat memberikan pengaruh positif dan membantu dalam mengendalikan nafsu.
Nafsu memang memiliki potensi untuk mendorong perbuatan maksiat, namun Islam juga mengajarkan cara untuk mengendalikan dan bahkan memanfaatkannya untuk meningkatkan keimanan. Dengan memahami hakikat nafsu dan berusaha mengendalikannya, seorang muslim dapat terhindar dari keburukan dan meraih ridha Allah SWT.
Semoga Allah SWT. menghindarkan kita semua tergelincir karena bisikan setan dan nafsu yang melakukannya.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Geger Raja Charles III Disebut Memeluk Islam, Ini Kronologinya
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi