Dalam pandangan Islam, hati yang tunduk pada nafsu adalah hati yang lalai, tersesat, dan mengarah pada keburukan, karena hawa nafsu cenderung memerintah pada kejahatan dan dimurkai Allah SWT. Untuk mengendalikan nafsu dan mengembalikan hati agar tunduk pada perintah Allah, umat Muslim perlu memperbanyak ibadah, berdoa, berpuasa, mendekatkan diri kepada Allah, menjaga pandangan dan pikiran, serta beristighfar secara rutin.
Ibnu Atha'illah berkata," Hati yang tunduk pada nafsu seperti orang bergantung kepada orang tenggelam sehingga keduanya sama-sama tenggelam. Sebaliknya, nafsu yang tunduk kepada hati seperti orang yang menyerahkan diri kepada perenang handal sehingga selamat. Karena itu, janganlah seperti orang yang menyerahkan hatinya kepada nafsu. Pernakah engkau melihat orang yang dapat melihat meminta dituntun oleh orang yang buta? !"
Bahaya Hati yang Tunduk pada Nafsu
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesesatan: Hati yang dikuasai nafsu akan mudah tersesat dari jalan kebenaran dan kebaikan.Dalam surah al-Ahzab ayat 36 yang terjemahannya," Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata."
Maknanya adalah : Ketaatan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. tidak cukup dibuktikan dengan memiliki sepuluh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Ia harus pula tunduk kepada hukum-hukum yang Allah SWT. tetapkan. Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah SWT. dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan hukum, maka tidak akan ada pilihan hukum yang lain bagi mereka tentang urusan mereka.
Mereka harus menaati hukum yang Allah SWT. dan Rasul-Nya tetapkan. Dan barang siapa mendurhakai Allah SWT. dan Rasul-Nya dengan menolak hukum-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. Ayat ini turun berkenaan dengan salah satu wanita terpandang dikalngan Quraisy bernama Zainab binti Jahsy. Ia ialah putri bibi Rasulullah, 'Umaimah binti 'Abdul Muthallib. Rasulullah pernah melamar Zainab untuk dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, budak yang dimerdekakan dan dijadikan anak angkat oleh Rasulullah. Zainab dan keluarganya menolak lamaran itu karena menganggap status sosial keduanya tidak setara.
Pasca turunnya ayat ini, Zainab menerima lamaran Rasulullah meski dengan hati terpaksa. Ayat ini menegaskan bahwa status sosial tidak menjadi tolok ukur kedudukan seseorang dimata Allah. Kedudukan dan keutamaan seseorang dimata Allah ditentukan olehketakwaan dan ketaatannya kepada Allah. Dan ingatlah, ketika engkau, wahai Nabi Muhammad, beberapa kali berkata kepada Zaid bin Harisah, yang telah diberi nikmat oleh Allah dengan memeluk agama Islam dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakannya dan mengangkatnya menjadi anak, "Pertahankanlah terus istrimu, Zainab binti Jahsy! Jangan kau ceraikan ia, dan bertakwalah kepada Allah dengan bersabar menjalani pernikahanmu meski istrimu kurang menghormatimu." Allah selalu mengatur Nabi Muhammad "Engkau memberi Zaid nasihat demikian, Zaid, sedang engkau menyembunyikan didalam hati mu apa yang akan dinyatakan, yakni diberitahukan, oleh Allah bahwa Zainab akan menjadi salah satu istrimu, dan engkau menyembunyikan hal itu karena engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti." Ternyata Zaid tidak mampu mempertahankan pernikahannya sesuai saran rasulullah. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya, yakni menceraikannya dan telah habis masa 'iddahnya, Kami nikahkan engkau, wahai Nabi Muhammad, dengan dia, Zainab, agar tidak ada keberatan dan perasaan berdosa bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak-anak angkat mereka,apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya, yakni menceraikannya. Dan ketetapan serta kehendak Allah itu pasti terjadi.
Kelalaian mengingat Allah SWT: Orang yang menuruti hawa nafsunya akan lalai dari mengingat Allah SWT. yang bisa berujung pada kemaksiatan.
Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Munafiqun ayat 9 yang terjemahannya," Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi."
Adapun maknanya adalah : Pada ayat ini Allah SWT. mengingatkan orang-orang beriman agar kesibukan mengurus harta dan memperhatikan urusan anak tidak menghalangi ibadah kepada-Nya. Wahai orang-orang yang beriman di mana pun berada! Janganlah harta bendamu yang kamu cari dan anak-anakmu yang kamu sayangi, melalaikan kamu dari mengingat Allah SWT. yakni shalat lima waktu dan aturan-aturan Allah SWT. tentang bekerja, bermasyarakat, dan bernegara. Dan barang siapa berbuat demikian, melalaikan ibadah dan aturan Allah SWT. maka mereka itulah orang-orang yang rugi, karena kebutuhan ruhaninya tidak terpenuhi dan hidupnya tidak seimbang.Mengikuti Keinginan Buruk: Hawa nafsu digambarkan seperti setan yang selalu mengajak pada hal-hal yang mudarat dan mendatangkan murka Allah SWT.
Dalam surah Qashash ayat 50 yang terjemahannya," Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim."
Adapun maknanya adalah : Sudah barang tentu mereka tidak akan mampu mendatangkannya. Maka jika mereka tidak mampu menjawab tantanganmu untuk mendatangkan kitab berisi petunjuk yang lebih baik daripada Al-Qur`an, bahkan yang semisal dengannya, atau jika mereka tidak menyambut ajakanmu untuk beriman, maka ketahuilah, wahai Nabi Muhammad SAW. atau siapa pun, bahwa mereka tidak lagi memiliki dalih atau alasan penolakan.
Dengan begitu, jika mereka tetap menolak, maka sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti keinginan hawa nafsu mereka tanpa alasan yang kuat dan benar, dan dengan demikian mereka pada hakikatnya tidak memperoleh petunjuk, bahkan mereka adalah orang-orang yang sesat. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan hawa nafsu-nya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun dan tanpa memiliki pijakan yang logis? Pastilah tidak ada yang lebih sesat daripada mereka. Sungguh, Allah SWT. tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim yang melampaui batas-batas yang telah ditentukan-Nya.
Semoga Allah SWT. terus memperteguh keimanan kita agar hati kita tidak tunduk dengan nafsu.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?