Ramadan dan Green Tech: Etika Lingkungan di Era AI

detikKultum Ramadan Bersama Prof. Nasaruddin Umar

Ramadan dan Green Tech: Etika Lingkungan di Era AI

Devi Setya - detikHikmah
Sabtu, 07 Mar 2026 17:45 WIB
detikKultum Prof Nasaruddin Umar Eps 17, Sabtu (7/3/2026).
detikKultum Prof Nasaruddin Umar Eps 17, Sabtu (7/3/2026). Foto: Tim detikKultum
Jakarta -

Ramadan memberikan pelajaran penting tentang bagaimana manusia menjaga keseimbangan kehidupan, termasuk dalam hubungannya dengan alam. Dalam perspektif ini, Islam mendorong umatnya untuk membangun kesadaran terhadap lingkungan alam yang sejalan dengan perkembangan teknologi modern.

Prof. Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan menjelaskan bahwa salah satu konsep penting yang perlu dipahami dalam kehidupan modern adalah green technology atau teknologi ramah lingkungan. Istilah ini berkaitan dengan upaya manusia menciptakan teknologi yang tidak merusak alam, melainkan justru menjaga kelestarian lingkungan.

"Apa yang dimaksud dengan green technology? Green itu identik dengan pepohonan yang hijau. Green itu identik dengan sesuatu yang segar, sesuatu yang sejuk," kata Prof. Nasaruddin Umar pada detikKultum Ramadan bersama detikcom, Sabtu (7/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kata lain, green technology adalah teknologi yang menghadirkan kesejukan bagi kehidupan dan tidak merusak ekosistem bumi. Teknologi seperti ini sangat penting di tengah perkembangan industri dan teknologi yang semakin pesat.

Dalam konteks tersebut, Prof. Nasaruddin yang juga Menag ini memaparkan bahwa Kementerian Agama juga memperkenalkan pendekatan yang disebut sebagai eco-theology atau teologi lingkungan. Konsep ini mengajak umat beragama untuk melihat bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.

ADVERTISEMENT

Melalui pendekatan ini, agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga.

"Kita mau menciptakan green teknologi. Jadi apa pun hasil teknologi itu jangan merusak alam. Jangan sampai menciptakan suatu alat yang justru bahan bakunya menghabiskan unsur-unsur vital dari alam semesta kita," lanjut Prof. Nasaruddin Umar.

Saat ini, banyak sumber energi yang berasal dari eksploitasi alam secara besar-besaran, seperti batubara dan minyak bumi. Aktivitas pengeboran dan penambangan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius.

"Batubara, bumi kita jadi bolong-bolong. Minyak dibor sana sini," ujarnya menggambarkan dampak eksploitasi tersebut.

Padahal sebenarnya alam telah menyediakan banyak sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Energi terbarukan seperti air dan matahari dapat dimanfaatkan tanpa merusak bumi.

"Misalnya kita gunakan energi sungai. Air sungai diputar dengan baling-baling, ternyata bisa melahirkan energi. Matahari juga bisa menjadi green technology. Kita tidak perlu memakai batubara untuk menyalakan listrik, cukup menangkap energi matahari untuk membangkitkan tenaga listrik," paparnya.

Konsep teknologi hijau ini, menurutnya, juga dapat dipelajari dari nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah puasa di bulan Ramadan. Puasa melatih manusia untuk menahan diri dari berbagai hal yang dapat merusak kesehatan dan lingkungan.

"Ramadan ini mengajari kita untuk mengenal apa yang disebut green technology. Dalam bulan Ramadan kita tidak merokok, karena merokok itu merusak atmosfer kehidupan kita," lanjutnya.

Menurut Prof. Nasaruddin Umar, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab moral yang harus diwariskan kepada generasi mendatang. Kerusakan alam dapat berdampak besar terhadap keseimbangan ekosistem, termasuk siklus air dan iklim.

"Mari kita sayang anak cucu kita ke depan dengan memanfaatkan green technology. Jangan sampai kita melupakan anak cucu kita yang akan datang," pesan Prof. Nasaruddin Umar.

Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan dan Green Tech: Etika Lingkungan di Era AI tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).

(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads