Zuhud

Kolom Hikmah

Zuhud

Aunur Rofiq, Penulis Kolom - detikHikmah
Jumat, 06 Mar 2026 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Zuhud dalam Islam adalah sikap tidak terikat secara berlebihan pada kemewahan duniawi dan lebih memprioritaskan akhirat. Keutamaan zuhud meliputi dicintai Allah dan manusia, hati yang tenang, serta terhindar dari tipu daya dunia. Dalil-dalil tentang zuhud terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis yang menganjurkan untuk mencari pahala akhirat dan tidak berlebihan dalam mengejar dunia.

Dicintai Allah SWT. Adalah dambaan setiap orang Islam. Beberapa ciri orang yang dicintai Allah SWT antara lain: beriman, bertakwa, berbuat baik, bertaubat, menyucikan diri, sabar, tawakal, dan adil.Adapun dicintai manusia adalah sesuatu yang baik dan dianjurkan, terutama jika cinta itu didasari oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Cinta yang didasari keimanan akan melahirkan hubungan yang harmonis, saling membantu, dan memperkuat persaudaraan antar sesama muslim. Namun, cinta juga perlu dikelola dengan baik agar tidak melanggar syariat Islam, seperti menghindari cinta yang berlebihan pada hal-hal duniawi atau cinta yang menjerumuskan pada perbuatan dosa.

Untuk terhindar dari tipu daya dunia dalam pandangan Islam, seorang muslim perlu menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan kehidupan akhirat adalah tujuan utama. Penting untuk selalu waspada terhadap godaan dunia yang dapat melupakan akhirat, serta memperbanyak amal shaleh sebagai bekal di akhirat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini kisah zuhud para kekasih-Nya yang bernama Abu Hadan al-Syafzili dan seorang Abid penghuni gubug.
Ia seorang wali quthun yang agung. Namanya Syekh Ali bin Abdul Jabbar, lebih dikenal sebagai Syekh Syadzili. Ia wafattahun 656 H dalam perjalanan naik haji.

Seorang lelaki pergi mengunjungi Abu Hasan al-Syafzili. Di tengah perjalanan ia melihat seorang abid tinggal di gubug kecil terpencil dan dekat pantai. Dari obrolannya lelaki itu tahu bahwa si Abid selalu berpuasa di siang hari dan shalat pada malam hari.

ADVERTISEMENT

Si Abid mengetahui bahwa lelaki itu bermaksud mengunjungi wali quthub Syekh Abu Hasan al-Syafzili maka sang Abid memohon lelaki itu agar memintakan dos kepada Syekh untuk dirinya, lelaku itu pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah Syekh. Ketika akan pamit, lelaki itu menyampaikan pesan sang Abid dan memohonkan doa untuk sang Abid.

Syekh Hasan mengangkat tangannya dan berdoa," Ya Allah, cabutlah cinta dunia dari hatinya."
Kemudian lelaki itu heran dan bertanya dalam hati, "dunia macam apa yang ada di hati sang Abid yang tinggal menyendiri di gubug tetpencil di dekat pantai ?

Lelaki itu pulang dan tiba kembali di gubug itu. Sang Abid bertanya dan tentang Syekh apa mendoakannya? Bagaimana doanya? Lelaki itu menceritakan semuanya. Maka sang Abid berkata,"segala puji hanya milik Allah. Aku mengerti dan sudah merasakan terkabulnya doa Syekh itu sejak waktu beliau panjatkan,"

Akhirnya lelaki itu bertanya," Apa dunia yang ada di hatimu?"
Maka berceritalah sang Abid,"Di siang hari aku berpuasa. Ketika dekat waktu maghrib, aku pergi memancing ikan di laut u tuk berbuka. Setiap hari Allah menggiring seekor ikan untukku, seolah seekor ikan yang sama aku peroleh setiap hari. Setiap kali aku berupaya keras memperoleh lebih dari seekor ikan, aku tak dapat memperolehnya. Maka selama hari-hari itu, setiap kali aku pergi memancing ke laut hatiku selalu berangan Allah memberiku ikan yang lebih besar. Ketika Syekh Abu Hadan berdoa untukku, lenyaplah angan-angan itu dan tak pernah tetlintas lagi di hatiku."

Dalam surah al-Hadid ayat 20 yang terjemahannya,"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya."

Adapun maknanya adalah : Wahai orang mukmin, ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan. Karena itu, jangan sampai kamu larut di dalamnya. Kehidupan dunia ini juga merupakan perhiasan bagimu dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Semua itu seperti hujan yang menumbuhkan tanam-tanamannya sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering saat kemarau dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Itulah permisalan bagi kehidupan dunia yang fana. Dan ketahuilah, di akhirat nanti ada azab yang keras bagi mereka yang ingkar dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya bagi orang yang beriman dan mematuhi ajaran-Nya. Dan kehidupan dunia yang sekarang kamu nikmati tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Semoga Allah SWT. Memberikan keteguhan iman agar kita tidak tergoda oleh tipu daya dunia, dan kita bisa bersikap zuhud

Aunur Rofiq

Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads