Dalam detikKultum kali ini, Ustaz Koh Dennis Lim mengajak jemaah merenungkan satu hal penting, untuk apa sebenarnya puasa dijalani?
Beliau membuka dengan firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Di akhir ayat itu ada tujuan yang jelas, agar menjadi orang yang bertakwa. Takwa inilah yang berkaitan dengan kebahagiaan dan keberuntungan.
Ada ayat lain yang memerintahkan, "Bertakwalah kepada Allah agar kamu berbahagia."
Semua orang tentunya ingin bahagia, tetapi jalan menuju ke sana sering kali tidak disadari.
Ustaz Koh Dennis Lim menjelaskan, puasa melatih manusia mengendalikan keinginan paling mendasar. Di awal Ramadan, banyak yang mengalami lapar mata. Saat berbuka, ingin semua makanan tersedia. Namun ketika hari demi hari berlalu, tubuh dan jiwa mulai terbiasa. Menu sederhana sudah cukup. Tidak lagi berlebihan.
Menjelang akhir Ramadan, banyak orang merasa lebih tenang. Makanan yang dulu terasa sangat menggoda menjadi biasa saja. Padahal latihan itu baru berjalan sekitar tiga puluh hari.
Ustaz Koh Dennis Lim memberi contoh tentang orang yang terbiasa puasa sunnah seperti puasa Daud. Bagi mereka, makan bukan pusat hidup. Jika ada, bersyukur. Jika tidak ada, tetap tenang. Kalau makan pun diniatkan agar tubuh sehat sehingga ibadah lebih mudah dilakukan.
Padahal makan adalah kebutuhan paling dasar. Tanpa makan, manusia bisa meninggal. Jika kebutuhan yang paling kuat saja bisa dikendalikan, maka urusan lain tentu lebih ringan.
Ia memberi contoh, saat melihat tetangga memiliki mobil lebih bagus atau rumah lebih besar. Hati yang terlatih tidak mudah gelisah. Bila ada, syukur, kalau tidak ada, tetap tenang. Dari sinilah mulai tumbuh sikap zuhud.
Inilah didikan Allah melalui puasa. Hati dilatih agar tidak silau oleh dunia. Saat orang lain mendapat nikmat, tidak muncul iri. Justru bisa ikut senang.
"Ikut senang saat saudaranya senang," ujar Ustaz Koh Dennis Lim.
Ia menyebut bahwa banyak orang merasa susah bukan karena kekurangan harta, melainkan karena tidak mampu menahan hawa nafsu. Puasa menjadi latihan utama untuk menguasai diri. Dari menahan lapar, seseorang belajar menahan iri, menahan marah, dan menahan ambisi berlebihan.
Ketika nafsu mulai terkendali, hati menjadi lebih lapang. Dari situlah rasa cukup tumbuh, dan dari rasa cukup itulah kebahagiaan hadir. Puasa mendidik jiwa agar tidak mudah goyah oleh apa pun yang terlihat di mata.
Lihat video detikKultum bersama dengan ustaz Koh Dennis Lim dengan klik di sini.
Baca juga: Hati-hati Digocek Iblis |












































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre
Diskusi Seru DPR dan Kemenhaj soal Strategi Pangkas Antrean Jemaah Haji