Khutbah Jumat Bulan Ramadan Terbaik dan Menyentuh Hati

Langkah Emas Raih Kemenangan

Khutbah Jumat Bulan Ramadan Terbaik dan Menyentuh Hati

Kristina - detikHikmah
Jumat, 20 Feb 2026 09:28 WIB
Muslims are performing the Holy Friday prayer. Worshipers are worshiping inside the mosque. Sylhet, Bangladesh, 24 March 2023.
Ilustrasi mendengarkan khutbah Jumat Ramadan. Foto: Getty Images/H M Shahidul Islam
Jakarta -

Salat Jumat hari ini bertepatan dengan minggu pertama bulan Ramadan 1447 H/2026 M. Ini adalah waktu yang tepat bagi khatib menyampaikan khutbah Jumat awal Ramadan yang menyentuh hati.

Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal ibadah dan memohon ampun kepada Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa, sebagaimana Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah: 183)

ADVERTISEMENT

Para ulama menganjurkan menghidupkan malam dan hari-hari Ramadan dengan berbagai amal saleh. Untuk itu, khatib Jumat bisa menyebarkan syiar kebaikan ini dalam khutbah Jumat.

Berikut naskah khutbah Jumat bulan Ramadan yang dihimpun dari naskah khutbah Jumat terbitan Kementerian Agama RI.

Khutbah Jumat Sambut Ramadan dengan Riang dan Gembira

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيقِهِ الْقَرِيمِ وَفَقْهَنَا فِي دِينِهِ الْمُسْتَقِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِلُنَا إِلَى جَنَّاتِ النُّعِيمِ، وَتَكُونُ سَبَبًا لِلنَّظرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ السَّيِّدُ السُندُ الْعَظِيمُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ الْجَسِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيمِ، فَإِنِّي أَوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْحَكِيمِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيْنَتٍ مِّنَ الْهُدى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدِيكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hadirin jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Segala puji bagi Allah SWT atas karunia-Nya kita berjumpa dengan hari Jumat ini, Jumat yang semakin mendekatkan kita dengan bulan Ramadan. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan. Sholawat dan salam kita sampaikan kepada nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya.

Sebagai seorang khatib, tentunya memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan jemaah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan berarti melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat. Dunia ini hanyalah ladang untuk menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat kita memetik hasil dari apa yang telah kita kerjakan.

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Tidak seorang muslim pun yang tidak gembira menyambut kedatangan Ramadan, meski alasan gembiranya berbeda-beda. Di Indonesia, Ramadan bukan hanya momentum agama spiritual, tetapi juga adalah momentum sosial, ekonomi, dan sedikit politik. Semua momentum tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Jelas Ramadan adalah momentum spiritual agama, karena itu adalah kesempatan bagi setiap muslim untuk me-restart dan me-refresh kehidupan spritualnya agar kembali bersih dari segala dosa dan juga segar dari kepengapan disorientasi kehidupan dari yang sesungguhnya.

Ketika Ramadan datang, Allah SWT seperti menyediakan pusat pelatihan selama sebulan yang dilengkapi instruktur yaitu para ulama, materi berupa ceramah dan renungan, dan ritual-ritual seperti tarawih, tahajud, dan membaca Al-Qur'an. Targetnya adalah kehidupan spiritual yang lebih baik setelah Ramadan.

Hadirin jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai momentum sosial, Ramadan menjadi wahana kohesi sosial, yaitu mengeratkan kembali hubungan-hubungan sosial yang sebelumnya terbengkalai akibat padatnya urusan masing-masing. Karena itu, biasanya mendekati Ramadan, ada ucapan maaf yang saling dikirimkan satu sama lain. Bahkan di Indonesia ada tradisi "nyekar" yang berarti tidak jarang sebuah keluarga besar pulang kampung untuk berziarah kepada makam keluarga yang telah lebih dahulu wafat. Tentu saja kenyataannya itu bukan hanya berarti ziarah kubur, tetapi juga perjumpaan secara fisik dengan orang-orang atau keluarga yang telah lama tidak ditemui. Semua itu kemudian memuncak pada Hari Raya Idul Fitri, sebuah momentum kohesi sosial yang sangat besar.

Sebagai momentum ekonomi, Ramadan adalah momentum yang sangat kuat mendorong aktivitas ekonomi, terutama yang melibatkan makanan, sandang, dan jasa. Tidak hanya ekonomi makro yang melibatkan perusahaan, ekonomi mikro berupa usaha rumah tangga juga merasakan denyut yang kuat di bulan Ramadan.

Barangkali ada pandangan negatif terhadap menguatnya aktivitas ekonomi selama Ramadan karena dianggap sebagai sisi duniawi dari yang seharusnya Ramadan berorientasi akhirat. Namun, di saat ekonomi lesu seperti sekarang ini, belanja tidak semata-mata aspek duniawi, tetapi juga akhirat karena itu sama saja dengan membantu ekonomi keluarga tetangga dengan dagangannya yang kecil-kecil tetapi sangat berarti bagi mereka. Karena itu, belanja bukan hanya belanja, tetapi bernilai sedekah.

Ternyata Ramadan juga adalah momentum politik, terutama politik luhur. Paling tidak, aura Ramadan bisa menekan kata-kata atau jargon-jargon yang harusnya kasar menjadi sedikit terkendali. Paling tidak, di acara buka puasa bersama, di antara banyaknya perbedaan kepentingan politik, ada yang sama yaitu sama-sama muslim dan sesama muslim seharusnya saling menghargai.

Hadirin jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada doa dari menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib yang layak dibaca tentang Ramadan. Doa itu berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الشَّهْرِ

"Ya Allah, aku memohon kebaikan bulan ini."

وَفَتْحَهُ وَدُورَهُ وَنَصْرَهُ

"Aku juga memohon keterbukaan dan cahayanya serta kemenangannya."

وَبَرَكَتَهُ وَطُهُورَهُ وَرِزْقَهُ

"Aku juga memohon keberkahannya, kesuciannya, dan rezekinya."

وَأَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيهِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ

"Aku juga memohon kebaikan yang dikandungnya dan kebaikan setelahnya."

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

"Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang ada atau terjadi pada bulan ini dan sesudahnya."

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ

"Ya Allah, hadirkanlah bulan ini kepada kami dengan membawa rasa aman dan iman, keselamatan dan Islam."

وَالْبَرَكَةِ وَالتَّقْوَى وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى

"Hadirkanlah bulan ini kepada kami juga dengan keberkahan dan takwa serta keberhasilan meraih apa yang Engkau sukai dan ridai."

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Seandainya Allah SWT mengizinkan kita berjumpa dengan Ramadan, maka mari kita syukuri izin itu dengan memanfaatkan sebaik-baiknya Ramadan dengan semampu kita. Di dalam doa di atas disebutkan bahwa kita juga berlindung kepada Allah SWT dari keburukan yang ada pada bulan Ramadan.

Apa keburukan yang ada di bulan Ramadan?
Ramadan adalah bulan fasilitas dari Allah SWT untuk manusia memperbaiki diri. Jika manusia tidak memanfaatkan fasilitas tersebut, maka paling tidak Ramadan menjadi buruk baginya karena pasti akan menyesalinya.

Semoga kita dapat memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan siap menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Amin ya rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَجَمِيعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ جَمِيعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي لَا نبي بعدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي يَتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاء وَالْبَلَاء وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلينَا إِنْدُونِيْسيًا حَاصَةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللهُم أَرنَا الْحَقِّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتَّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبُّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ. عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى لِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Khutbah Jumat: Berburu Ampun dan Rahmat Bulan Ramadan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّوْمَ حِصْنًا لِأَوْلِيَائِهِ وَ جُنَّةً، وَفَتَحَ لَهُمْ بِهِ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَائِدِ الْخَلْقِ وَمُمَهِّدِ السُّنَّةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِيْ الْأَبْصَارِ الثَّاقِبَةِ وَالْعُقُوْلِ الْمُرَجِّحَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.

Jamah yang dimuliakan Allah.

Alhamdulillah, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Bulan yang di dalamnya mempunyai sejuta keistimewaan dan keutamaan bagi umat Muslim. Oleh karena itu, tidak heran jika pada bulan ini intensitas ibadah umat Islam semakin meningkat, baik dengan lebih serius lagi menunaikan kewajiban-kewajiban agama maupun rajin mengamalkan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.

Rasulullah sendiri pernah menyampaikan bahwa saat tiba bulan Ramadan umat Muslim didorong untuk memperbanyak ibadah. Sebab, pahala amal kebaikan di dalamnya mendapat balasan berkali-kali lipat. Dalam satu hadits diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصائم أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Artinya, "Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, 'Rasulullah saw bersabda, 'Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu (amal) kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah azza wajalla berfirman, 'Kecuali puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Sebab, dia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.'

Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika dia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Ada tiga hal besar yang Allah janjikan untuk umat Muslim saat Ramadan tiba, yaitu ampunan, rahmat, dan balasan surga. Rasulullah pernah bersabda,

.أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya, "Awal Bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (Ibnu Khuzaimah)

Pertama adalah rahmat. Rahmat merupakan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Berkat rahmat inilah kelak umat Muslim bisa mendapat ampunan di akhirat dan memperoleh balasan surga. Bahkan dikatakan bahwa rahmat merupakan penentu nasib seseorang kelak di hari akhir. Boleh jadi orang rajin beribadah, tapi jika belum meraih rahmat Allah ia tidak mendapat jaminan masuk surga.

Meski demikian, bukan berarti kita meremehkan ibadah dengan alasan mengandalkan rahmat, karena penyebab rahmat sendiri adalah ketaatan seorang hamba kepada Allah.

Berkaitan dengan ini, ada kisah menarik tentang seorang hamba taat yang sepanjang hayatnya digunakan untuk beribadah, tapi ia masuk surga bukan sebab ibadahnya itu, melainkan karena anugerah rahmat Allah. Kisah ini disampaikan Syekh Abul Laits as-Samarqandi dalam Tanbīhul Ghāfilīn dengan mengutip riwayat Al-Hakim dalam Mustadrak-nya.

Dikisahkan, sekali waktu Malaikat Jibril as bercerita kepada Nabi Muhammad saw, "Hai, Muhammad! demi Allah yang telah menugaskan engkau menjadi nabi. Allah memiliki seorang hamba yang ahli ibadah. Hamba tersebut hidup dan beribadah selama 500 tahun di atas gunung."

Ringkas kisah, hamba itu memohon kepada Allah untuk mencabut nyawanya dalam keadaan sujud dan jasadnya tetap utuh sampai tiba hari kiamat. Doanya dikabulkan. Begitu di akhirat, Allah berkata padanya, "Hamba-Ku, engkau Aku masukkan ke surga berkat rahmat-Ku!"

Hamba tersebut menyangkal. Seharusnya, protes dia, yang membuatnya masuk surga adalah ibadahnya yang ratusan tahun itu, bukan rahmat Allah. Setelah ditimbang, ternyata bobot rahmat-Nya lebih besar daripada amal ibadah tersebut. Allah pun memerintahkan malaikat untuk memasukan dia ke neraka.

Sebelum dimasukkan ke dalam neraka, hamba itu mau mengakui bahwa rahmat Allah lebih besar dan bisa membuatnya masuk surga. Ia pun tidak jadi dimasukkan ke dalam neraka. (Abul Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin)

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Keutamaan Ramadan berikutnya adalah maghfirah atau ampunan Allah. Sebagai manusia, tentu sadar diri bahwa kita memiliki banyak dosa yang kian hari semakin bertambah. Sebab, berbuat salah dan dosa merupakan fitrah manusia. Rasulullah saw bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Artinya, "Setiap anak Adam (manusia) pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR Tirmidzi).

Hadits ini menegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak bisa terbebas dari dosa. Tidak peduli dia rakyat biasa atau pejabat, seorang awam atau agamawan, santri ataupun kiai, semua pasti memiliki dosa. Hanya, yang membedakan kita semua adalah siapa yang mau mengakui atas dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah. Pada momen Ramadhan ini, Allah menjanjikan limpahan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Oleh karena ini, jangan sia-siakan kesempatan emas yang hanya datang satu bulan dalam setahun ini.

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Keistimewaan yang Allah janjikan saat Ramadan berikutnya adalah balasan surga bagi hamba-Nya yang taat. Rasulullah pernah bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ

Artinya, "Ketika Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu." (HR Muslim)

Berkaitan dengan hadits di atas, Syekh 'Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan, maksud 'dibukanya pintu surga' merupakan simbol imbauan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal ibadah di bulan suci Ramadhan, sementara 'dibelengguhnya setan' merupakan simbol untuk mencegah diri dari perbuatan maksiat. (Syekh 'Izzuddin bin Abdissalam, Maqashidush Shaum, 1922: 12).

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Sekian khutbah yang bisa khatib sampaikan. Semoga kita bisa melalui Ramadan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya dengan maksimal sehingga bisa meraih ampunan, rahmat, dan balasan surga dari Allah SWT.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Jumat Minggu Pertama Ramadan Menyentuh Hati

الحمد لله، الحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات أعمالنا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبدهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمَ وَبَارِكَ على سيدنا محمد، وعلى آل سيدنا محمد، صلاة وسلاما متلازمين إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اتَّقُوا الله القوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا والتم مُسْلِمُونَ، قال الله تعالى في القرآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كتب عَلَيْكُمُ الصَّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini kecuali dalam
keadaan husnul khatimah. Kita telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Bulan yang kehadirannya selalu dirindukan, bukan hanya karena pahala yang berlipat, tetapi karena Ramadan adalah bulan pendidikan jiwa.

Secara bahasa, Ramadan bermakna panas yang membakar. Makna ini mengandung pesan yang dalam: Ramadan hadir untuk membakar hawa nafsu, membersihkan hati dari kerak dosa, serta melatih manusia agar mampu mengendalikan dirinya. Karena itu, menyambut bulan rahmat ini tidak cukup hanya dengan persiapan fisik dan tradisi seremonial. Jauh lebih penting adalah menyiapkan dua hal utama: disiplin rohani dan kesalehan sosial.

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Disiplin rohani menjadi fondasi utama ibadah puasa. Allah Swt berfirman dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 183:

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصيام كما كتب على الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Perhatikanlah bagaimana Allah mengawali perintah puasa dengan sebuah seruan yang sarat penghormatan dan kemuliaan: "Wahai orang-orang yang beriman". Para ulama menjelaskan, panggilan ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran iman agar puasa dijalani bukan dengan keterpaksaan, tetapi dengan kesadaran dan kerelaan hati.

Redaksi "Kutiba alaikum al-shiyam" mengisyaratkan bahwa puasa adalah kebutuhan jiwa. Seakan-akan manusia beriman sendiri yang menyadari bahwa tanpa latihan menahan diri, hawa nafsu dapat menguasai hidupnya. Inilah makna disiplin rohani: melatih diri untuk patuh, sabar, dan tertib dalam ketaatan kepada Allah.

Tujuan dari semua itu adalah takwa. Kata "Tattaqun" dalam ayat tersebut menunjukkan proses yang berkelanjutan. Artinya. Ramadan bukan sekadar momentum sesaat, tetapi madrasah pembentukan karakter agar setelah bulan mulia ini berlalu, ketaatan tetap terjaga. akhlak tetap hidup, dan iman tetap rumbuh.

Hadirin yang berbahagia,

Namun Islam tidak mengajarkan kesalehan yang berhenti pada sajadah. Puasa Ramadan juga menuntut kesalehan sosial. Ibadah yang kita lakukan kepada Allah harus membekas dalam cara kita memperlakukan sesama manusia.

Ramadan hadir sebagai bulan penuh rahmat dan keberkahan, yang mendorong umat Islam untuk berlomba-lomba memperbanyak perbuatan saleh. Untuk menyambut syahrul maghfirah ini dengan baik. Sebagai umat Islam kita sebaiknya mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal saleh, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial.

عن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجُودُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جبريل، وكان بلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن، فلرَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجودُ بالخير من الربح المرسلة.

"Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: "Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling dermawan. Sifat dermawannya yang paling menonjol itu tampak ketika bulan suci Ramadan, saat bertemu dengan malaikat Jibril. Jibril menemui Rasulullah SAW pada setiap malam di bulan tersebut dan mengajarkan beliau Al-Qur'an. Sungguh kedermawanan Rasulullah terhadap kebaikan itu laksana angin yang berhembus. (HR Bukhari)

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Hadis di atas menjelaskan bagaimana aktivitas Rasulullah SAW pada bulan Ramadan yang dipenuhi dengan ibadah kepada Allah. Tidak hanya mengisinya dengan ibadah yang bersifat spiritual yaitu membaca Al-Qur'an, Rasulullah juga mengisi bulan berkah tersebut dengan sifat kedermawanan yang merupakan bentuk kesalehan sosial.

Sifat kedermawanan yang merupakan ibadah sosial ditingkatkan oleh Rasulullah di bulan Ramadan lebih daripada bulan-bulan lainnya. Ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk tidak hanya saleh secara spiritual namun juga perlu saleh secara sosial. Umat Islam perlu meningkatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari amal saleh.

Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, juz 9 halaman 45, menjelaskan bahwa hadis di atas menerangkan sifat dermawan pada diri Nabi Muhammad. Bahkan, pada bulan Ramadan beliau menjadi lebih dermawan, sehingga disamakan dengan angin yang berhembus.

وذلك أنه أثبت له أولا وصف الأحودية ثم أراد أن يصفة بأزيد من ذلك قشبه لجودة بالربح المرسلة.

"Hadits di atas menetapkan sifat dermawan pada diri Nabi Muhammad. Kemudian (di bulan Ramadan) Nabi Muhammad bersifat lebih dermawan oleh karenanya disamakan dengan angin yang berhembus."

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Spirit Ramadan sangat erat dengan kepedulian sosial. Ketentuan kafarat bagi pelanggaran puasa, serta fidyah bagi mereka yang tidak mampu menjalankannya, pada hakikatnya diarahkan untuk memberikan makanan kepada kaum fakir miskin. Ini menegaskan bahwa jika seseorang tidak sanggup menjalankan ritualnya, maka jangan sampai ia meninggalkan pesan kemanusiaannya.

Karena itu, marilah kita sambut bulan mulia penuh berkah ini dengan sikap seimbang. Menjadi hamba yang disiplin dalam ibadah, namun juga lembut dalam pergaulan. Tekun berdoa kepada Allah, sekaligus ringan tangan membantu sesama. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadan dalam keadaan iman yang kuat, hati yang bersih, dan kepedulian sosial yang semakin hidup.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل الله مني ومنكم تلاوتة، إله هو السميع العليم، واسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم.

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، وبه استعيل على أمور الدنيا والدين، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأَشْهَدُ أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد، فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، وأحتُكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ قال الله تعالى في القرآن الكريم: يا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: اتَّقِ اللهَ حَيثما كنت، وأتبع الشيقة الحسنة تمحها، وخالقِ النَّاسَ بخلق حسن

صدق الله العظيم وصدق رسولة النبي الكريم، والمحن على ذلك من الشاهدين والشاكرين، والحمد لله رب العالمين، إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ والْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضي الحاجات زينا أننا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، عباد الله إن الله يأمر بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وإبقاء في القرى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نعمه يزدكم واسألوه من فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ الله أكبر.




(kri/inf)
ramadan penuh hikmah

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads