5 Contoh Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Ramadhan

5 Contoh Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Ramadhan

Tia Kamilla - detikHikmah
Jumat, 06 Feb 2026 11:00 WIB
5 Contoh Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Ramadhan
Ilustrasi khutbah. Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash
Jakarta -

Menjelang Ramadhan, banyak khatib mulai mencari contoh khutbah Jumat persiapan menyambut Ramadhan yang penuh makna, jelas, dan mudah dipahami jemaah.

Khutbah Jumat menjelang Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk mengajak umat Islam mempersiapkan diri menyambut ibadah di bulan Ramadhan.

Lalu, seperti apa contoh khutbah Jumat yang santai, efektif, dan relevan untuk mengingatkan jemaah agar lebih siap menyambut bulan suci?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simak contoh khutbah Jumat persiapan menyambut Ramadhan berikut ini.

Contoh Khutbah Jumat Persiapan Menyambut Ramadhan

Berikut ini adalah beberapa contoh khutbah Jumat persiapan menyambut Ramadhan merangkum dari buku Materi khutbah Jumat setahun tulisan H. Ahmad Yani.

ADVERTISEMENT

1. Khutbah Jumat tentang Menyambut Ramadhan dengan Gembira

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيْمَانِهِمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّ ينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ. أَعُوذُ بِاللَّهِ منَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُو اللَّهُ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga tanpa disadari, bulan suci Ramadhan kembali menyapa kita. Sebuah bulan yang selalu dinanti dan disambut dengan rasa senang oleh umat Islam.

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita menyambut datangnya Ramadhan dengan perasaan gembira, baik di hadapan Allah SWT maupun dalam kehidupan bersama sesama manusia.

Kegembiraan ini bukan tanpa alasan, sebab Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan, seandainya kita benar-benar memahami keutamaan Ramadhan, tentu kita berharap setiap bulan yang Allah berikan adalah bulan Ramadhan.

Salah satu bentuk kegembiraan dalam menyambut Ramadhan adalah dengan mengucapkan marhaban ya Ramadhan atau selamat datang Ramadhan. Kata marhaban berasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Ucapan ini mencerminkan kesiapan hati yang lapang dan bahagia dalam menyambut Ramadhan, sehingga kita termasuk golongan orang yang dengan senang hati menjalani seluruh aktivitas ibadah di dalamnya sebagai bentuk tarbiyah atau pendidikan langsung dari Allah SWT untuk membentuk pribadi yang islami.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Rasa gembira menyambut Ramadhan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan sikap dan perbuatan nyata. Sebelum Ramadhan tiba, kita perlu membersihkan jiwa dari noda dosa serta menanamkan tekad yang kuat untuk melawan hawa nafsu.

Jika tekad tersebut telah tertanam dalam diri, maka Ramadhan tidak akan kita lewati begitu saja, melainkan menjadi sarana penguatan iman dan pembentukan kepribadian yang tangguh dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan.

Ramadhan juga memiliki makna "membakar" dan "mengasah". Disebut membakar karena pada bulan inilah dosa-dosa seorang muslim dapat dihapuskan melalui kesadaran yang mendalam dan amal saleh yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Disebut mengasah karena Ramadhan menjadi momentum mengasah dan membina kembali jiwa manusia melalui ibadah, hingga sifat-sifat buruk seperti kesombongan, mengikuti hawa nafsu, dan mementingkan diri sendiri dapat ditinggalkan.

Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya difungsikan sebagai bulan menanam benih kebaikan. Benih-benih inilah yang kemudian dipelihara dan dikembangkan pada bulan-bulan berikutnya hingga melahirkan pribadi muslim yang matang dan bermanfaat bagi sesama.

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Bukti nyata kegembiraan menyambut Ramadhan adalah dengan melakukan persiapan yang matang, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Persiapan ini mencakup pemahaman kembali tentang tata cara ibadah Ramadhan.

Seorang muslim perlu memahami syarat wajib puasa, syarat sah puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, sunnah-sunnah puasa, serta pelaksanaan ibadah pendukung seperti shalat tarawih dan amalan Ramadhan lainnya. Dengan pemahaman ini, Ramadhan dapat dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Selain persiapan pribadi, persiapan secara berjemaah juga penting dilakukan. Masjid, mushala, dan lembaga keislaman perlu menyusun program Ramadhan yang terarah untuk meningkatkan ketakwaan jemaah. Kegiatan seperti shalat tarawih, ceramah keagamaan, kuliah subuh, dan kajian rutin hendaknya direncanakan dengan baik agar Ramadhan benar-benar hidup dan bermakna.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Apabila Ramadhan disambut dengan jiwa yang gembira dan persiapan yang matang, lalu diisi dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan, maka insya Allah tujuan utama Ramadhan akan tercapai, yaitu meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan memiliki tujuan utama, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan dengan hati yang senang dan penuh kesungguhan menjadi bagian penting dari keberhasilan ibadah tersebut.

Rasulullah SAW juga bersabda,

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu bergembira menyambut datangnya Ramadhan dan mampu menjalaninya dengan penuh keimanan serta harapan akan ridha Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرَانِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

2. Khutbah Jumat tentang Perbaikan Diri Melalui Ibadah Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرٌ كَمَا أَمَرَ الَّذِي خَلَقَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ يُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَيُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينَ أَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللَّهِ اوْصِيكُمْ وَأَيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ : يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita tentu tidak ingin bulan Ramadhan yang mulia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perubahan berarti dalam diri kita. Oleh sebab itu, Ramadhan perlu kita sambut dengan tekad kuat untuk memperbaiki diri melalui ibadah.

Hasil dari ibadah Ramadhan tersebut harus terlihat nyata dalam kehidupan kita setelah bulan suci berakhir.

Dalam khutbah singkat ini, kita akan membahas hal-hal penting yang perlu diperbaiki melalui ibadah Ramadhan.

Jika kita mencermati ayat-ayat tentang puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183-188, terdapat enam aspek utama yang harus diperbaiki. Perbaikan ini diharapkan terus terjaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan.

Pertama, Ramadhan mendidik kita untuk memperbaiki keimanan kepada Allah SWT. Iman yang semakin kuat akan membuat kita terikat pada seluruh ketentuan dan nilai yang ditetapkan Allah.

Dengan iman yang mantap, sikap dan perilaku kita setelah Ramadhan menjadi cerminan ketakwaan kepada Allah dalam segala keadaan.

Pemantapan iman dan ketakwaan merupakan tujuan utama ibadah puasa Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Kedua, Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur'an. Melalui Ramadhan, kita didorong untuk lebih rajin membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an.

Kedekatan ini akan membentuk pribadi dan masyarakat yang hidup berdasarkan nilai-nilai Qur'an.

Jika kedekatan dengan Al-Qur'an benar-benar terwujud, maka Ramadhan layak disebut sebagai Syahrul Qur'an bagi kita. Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk hidup dan pembeda antara yang benar dan salah.

Allah SWT berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)...." (Al-Baqarah: 185)

Ketiga, Ramadhan melatih kita untuk merasa dekat dengan Allah.
Perasaan dekat kepada Allah akan mencegah kita dari perbuatan maksiat, meskipun tidak ada manusia yang melihat. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya.

Allah SWT menegaskan kedekatan-Nya dengan hamba-hamba-Nya melalui firman-Nya,

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ

"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat...." (Al-Baqarah: 186)

Seluruh ibadah dalam Islam mendidik kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah. Oleh karena itu, ibadah yang kita lakukan seharusnya membentuk pribadi yang konsisten berada di jalan Allah.

Keempat, Ramadhan mengajarkan ketundukan kepada Allah melalui doa. Doa menjadi bukti bahwa kita menyadari kelemahan diri dan sepenuhnya bergantung kepada Allah.

Sikap ini menjauhkan kita dari sifat sombong yang dibenci oleh-Nya. Allah SWT berfirman,

اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"...Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah: 186)

Kelima, Ramadhan memperbaiki hubungan sosial antar sesama muslim. Kebersamaan dalam shalat, berbuka puasa, zakat, dan Idul Fitri menumbuhkan semangat persatuan. Ramadhan membuktikan bahwa umat Islam mampu bersatu dan saling menguatkan.

Solidaritas umat Islam juga harus diwujudkan dengan kepedulian terhadap penderitaan sesama muslim di berbagai belahan dunia.
Sikap acuh tak acuh terhadap persoalan umat berpotensi mendatangkan murka Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidak memperhatikan (tidak peduli) dengan persoalan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan mereka."

Keenam, Ramadhan melatih ketajaman hati dalam membedakan yang hak dan batil. Puasa mengajarkan kita untuk tidak menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Pengendalian hawa nafsu menjadi kunci dalam menjaga kejujuran dan keadilan. Allah SWT berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 188)

Setelah Ramadhan berakhir, ketakwaan tidak boleh ikut berakhir. Keberhasilan Ramadhan harus dibuktikan melalui akhlak dan perilaku yang lebih baik. Inilah tanda bahwa ibadah Ramadhan benar-benar membekas dalam diri kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

3. Khutbah Jumat tentang Hakikat Bulan Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الإِيمَانِ وَالْأَسْلَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ. أَعُوذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيم : يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوالله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pemahaman yang utuh tentang hakikat bulan Ramadhan merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang muslim. Setiap muslim wajib memahami makna sejati Ramadhan, bukan sekadar memaknainya sebagai bulan "bonus pahala" atau "penebus dosa".

Pemahaman yang keliru terhadap Ramadhan dapat menjerumuskan seseorang pada sikap meremehkan dosa setelah bulan suci berlalu.

Sebagian orang mengira bahwa karena Ramadhan adalah bulan penuh pahala dan penghapus dosa, maka setelahnya bebas kembali berbuat maksiat.

Mereka merasa dosa-dosa lama telah dibakar habis dan kelak akan dibersihkan lagi oleh Ramadhan berikutnya. Cara pandang seperti ini menunjukkan kesalahpahaman terhadap tujuan sejati ibadah Ramadhan.

Pemahaman bahwa Ramadhan sebagai bulan pahala dan pengampunan dosa memang benar.

Namun, pemahaman itu tidak boleh melahirkan sikap meremehkan maksiat dan mengulang kesalahan dengan sengaja. Justru Ramadhan harus membentuk pribadi yang lebih berhati-hati dan takut untuk kembali melanggar ketentuan Allah.

Dalam kaitan inilah penting bagi kita memahami berbagai sebutan yang disematkan kepada bulan Ramadhan. Sebutan-sebutan tersebut menggambarkan hakikat dan kandungan nilai yang ada di dalamnya. Dari situlah arah perubahan diri seorang muslim seharusnya dibentuk.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Setidaknya, terdapat enam sebutan yang diberikan kepada bulan Ramadhan. Enam sebutan ini mencerminkan hakikat Ramadhan yang harus kita wujudkan dalam kehidupan.

Ramadhan tidak hanya dijalani, tetapi juga harus membekas dalam kepribadian seorang muslim.

Pertama, Ramadhan disebut sebagai syahrut tarbiyyah atau bulan pendidikan. Pada bulan inilah kaum muslimin dididik secara langsung oleh Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah. Keberhasilan pendidikan ini harus tampak pada perubahan akhlak dan kualitas keislaman setelah Ramadhan berakhir.

Jika perubahan itu tidak terlihat, bisa jadi ibadah Ramadhan hanya menghasilkan lapar dan haus semata. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,

"Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak dapat apa-apa dari puasanya itu kecuali hanya lapar dan haus." (HR Ahmad dan Al-Haakim)

Kedua, Ramadhan dikenal sebagai syahrul ibadah atau bulan ibadah. Sebutan ini menegaskan bahwa aktivitas ibadah ritual, baik yang wajib maupun sunnah, harus ditingkatkan pada bulan Ramadhan.

Peningkatan ibadah ini akan memperkuat kemampuan diri dalam mencegah kemungkaran dan kemaksiatan. Tujuan utama ibadah dalam Islam adalah menanamkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.

Kesadaran ini akan membuat seseorang enggan melakukan maksiat, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Dengan demikian, disiplin menjalankan perintah Allah semestinya semakin kuat setelah Ramadhan berlalu.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ketiga, Ramadhan disebut sebagai syahrul Qur'an. Sebutan ini diberikan karena pada bulan Ramadhan Allah pertama kali menurunkan Al-Qur'an. Oleh sebab itu, setiap muslim dituntut untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an melalui membaca, memahami, dan mengamalkannya.

Menjadi hal yang sangat memprihatinkan apabila seorang muslim tidak mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Lebih memprihatinkan lagi jika mampu membaca, tetapi jarang bahkan enggan membacanya. Interaksi dengan Al-Qur'an seharusnya menjadi ciri utama seorang muslim selama Ramadhan.

Melalui Ramadhan, Allah mengingatkan sejauh mana hubungan kita dengan Al-Qur'an. Al-Qur'an harus difungsikan sebagai petunjuk hidup dan pembeda antara yang hak dan yang batil.

Allah SWT berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)..." (Al-Baqarah: 185)

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Keempat, Ramadhan dikenal sebagai syahrud dakwah atau bulan dakwah. Pada bulan ini, aktivitas dakwah biasanya mengalami peningkatan di berbagai tempat dan media. Dakwah dilakukan di rumah, masjid, mushalla, perkantoran, kampus, hingga media massa.

Ramadhan seharusnya dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali semangat dakwah yang melemah di bulan-bulan lain. Kegiatan dakwah perlu dipersiapkan dan dikelola dengan baik agar dampaknya tidak berhenti saat Ramadhan berakhir. Ramadhan seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan dakwah di tengah masyarakat.

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda, "Sampaikan dariku walau hanya satu ayat."

Ramadhan sebagai bulan dakwah juga tercermin dari keberanian menegur sesama muslim yang berbuat tidak baik saat berpuasa. Teguran tersebut dilakukan dengan cara yang bijak dan tidak melukai perasaan. Inilah bentuk dakwah yang hidup di tengah masyarakat.

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kelima, Ramadhan disebut sebagai syahrul jemaah atau bulan kebersamaan. Pada bulan Ramadhan, jarak sosial antarsesama muslim relatif dapat dipersempit melalui kebersamaan di masjid dan mushalla. Ibadah berjemaah menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Rasa lapar dan haus saat berpuasa juga menumbuhkan empati terhadap kaum fakir dan miskin. Dari sinilah tumbuh kepedulian dan keinginan untuk saling menolong. Kewajiban zakat menjadi simbol nyata dari semangat kebersamaan tersebut.

Perbedaan pendapat dalam masalah furu'iyah seperti jumlah rakaat tarawih atau qunut tidak seharusnya memecah persatuan.

Perbedaan tersebut justru harus disikapi dengan tasamuh atau toleransi. Dengan sikap inilah ukhuwah Islamiyah akan semakin kokoh.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Keenam, Ramadhan disebut sebagai syahrul infaq atau bulan berinfak. Pada bulan ini, Allah dan Rasul-Nya mendorong kaum muslimin untuk lebih gemar menginfakkan harta. Ramadhan mendidik umat Islam untuk menghidupkan kembali ruhul infaq dalam diri mereka.

Jika semangat berinfak telah tumbuh, persoalan umat yang berkaitan dengan dana tidak lagi menjadi beban berat. Kepedulian sosial akan terbangun secara kolektif di tengah masyarakat muslim. Inilah wujud nyata dari keberkahan Ramadhan.

Oleh karena itu, Ramadhan yang kita jalani tahun ini tidak boleh berlalu tanpa peningkatan kualitas diri. Menjadi kewajiban kita bersama untuk memanfaatkan Ramadhan sesuai dengan hakikat dan sebutan-sebutannya.

Semoga Ramadhan benar-benar membentuk kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرَانِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، فَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

4. Khutbah Jumat tentang Puasa Membentuk Masyarakat Islam

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَاكْرَمَنَا اله الا اللهُ وَحْدَهُ بِخِلَافَتِهِ مِنْ جَمِيعِ العَالَمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ لاشَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللَّهُ أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله وَطَاعَته لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الكَرِيمِ. أَعُوذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُو اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan merupakan kewajiban yang harus diupayakan secara nyata oleh setiap muslim. Nilai-nilai Islam tidak akan tegak tanpa dimulai dari pembentukan pribadi muslim yang berkepribadian Islami. Dari pribadi inilah akan lahir keluarga Islami yang menjadi fondasi terbentuknya masyarakat Islami.

Pembentukan pribadi muslim yang Islami menjadi faktor utama bagi terwujudnya masyarakat yang berlandaskan ajaran Islam. Proses ini membutuhkan kesadaran, pembiasaan, dan ibadah yang konsisten. Salah satu ibadah yang memiliki peran besar dalam proses tersebut adalah ibadah puasa.

Berdasarkan Al-Qur'an dan hadits, puasa memiliki pengaruh yang sangat positif dalam pembentukan pribadi Islami. Puasa tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mendidik akhlak dan perilaku. Oleh karena itu, puasa memiliki fungsi penting dalam membangun individu dan masyarakat Islami.

Ikhwanul mukminin rahimakumullah,

Setidaknya terdapat enam fungsi utama puasa dalam pembentukan pribadi dan masyarakat Islami. Fungsi pertama adalah puasa sebagai pakaian takwa. Orang yang berpuasa akan lebih berhati-hati dalam bertindak karena mempertimbangkan ridha Allah dan Rasul-Nya.

Kehati-hatian ini diibaratkan seperti orang yang mengenakan pakaian putih. Setiap noda akan terlihat jelas jika tidak menjaga diri. Dengan puasa, seorang muslim dididik untuk selalu menjaga perilakunya agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Ketika ketakwaan telah tertanam melalui puasa, seorang muslim akan lebih mudah menjalankan perintah Allah. Ia juga mampu meninggalkan larangan-Nya dalam kondisi apa pun.

Fungsi kedua puasa adalah sebagai pelindung dari perbuatan kejahatan. Rasulullah SAW menyebut puasa sebagai junnah atau perisai yang melindungi seorang muslim. Puasa melatih pengendalian diri agar tidak menuruti hawa nafsu yang menyimpang.

Rasulullah SAW bersabda,

"Puasa itu benteng. Bila seseorang di antara kamu berpuasa, hendaklah dia tidak berkata kotor dan berlaku jahil. Bila ada seseorang memaki dengan kata-kata kasar dan hendak mengajaknya berkelahi, hendaklah dia berkata, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika setiap muslim mampu menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, maka masyarakat Islami akan terwujud. Puasa menjadi sarana efektif dalam menjaga ketertiban sosial dan akhlak umat.

Fungsi ketiga puasa adalah menumbuhkan tradisi taqarrub ilallah. Puasa mendidik seorang muslim untuk selalu merasa dekat dengan Allah SWT. Perasaan ini akan mencegahnya dari penyimpangan dan kemaksiatan.

Ibadah puasa di bulan Ramadhan diperkuat dengan rangkaian ibadah lainnya. Di antaranya adalah qiyamullail, tilawah Al-Qur'an, tadabbur, dan i'tikaf. Seluruh ibadah ini semakin meneguhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya.

Ikhwanul mukminin rahimakumullah,

Fungsi keempat puasa adalah mendidik keikhlasan dalam beribadah. Puasa merupakan ibadah yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Seseorang dapat terlihat berpuasa, padahal sebenarnya tidak. Karena itulah Allah mengkhususkan pahala puasa bagi-Nya.

Puasa melatih seorang muslim untuk beramal tanpa mengharapkan pujian manusia. Keikhlasan inilah yang menjadi kunci keberhasilan ibadah dan kehidupan seorang muslim.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Fungsi kelima puasa adalah mendidik kedisiplinan dalam menjalankan ajaran Islam. Puasa mengajarkan ketepatan waktu, baik saat menahan diri maupun saat berbuka. Disiplin ini juga tercermin dalam pelaksanaan shalat dan ibadah malam.

Meski lelah dan mengantuk, seorang muslim tetap berangkat ke masjid untuk shalat Isya, tarawih, dan witir. Bahkan waktu sahur pun dimanfaatkan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan berperan besar dalam membentuk karakter muslim yang disiplin. Disiplin ini akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan berlalu.

Fungsi keenam puasa adalah mempererat ukhuwah Islamiyah. Ramadhan memperbanyak pertemuan antar sesama muslim di masjid dan mushalla. Interaksi ini menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan.

Ukhuwah semakin diperteguh melalui zakat dan perayaan Idul Fitri. Seluruh lapisan masyarakat berkumpul sebagai simbol persatuan umat Islam. Ramadhan pun menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial.

Dengan demikian, ibadah Ramadhan memiliki peran besar dalam membentuk masyarakat Islami. Masyarakat yang disiplin, bertakwa, dan sungguh-sungguh menegakkan ajaran Islam di muka bumi. Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita semua.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرَانِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، فَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

5. Khutbah Jumat tentang Hidup Bersama Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَاكْرَمَنَا اله الا اللهُ وَحْدَهُ بِخِلَافَتِهِ مِنْ جَمِيعِ العَالَمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ لاشَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللَّهُ أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله وَطَاعَته لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الكَرِيمِ. أَعُوذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُو اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ikhwanul mukminin rahimakumullah.

Salah satu momentum penting di bulan Ramadhan adalah peringatan malam Nuzulul Qur'an. Peringatan ini bertujuan mengingatkan kembali fungsi dan peran Al-Qur'an dalam kehidupan manusia. Melalui peringatan ini, diharapkan tumbuh tekad untuk hidup bersama Al-Qur'an.

Hidup bersama Al-Qur'an berarti menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Al-Qur'an bukan sekadar dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan. Dari sinilah hubungan seorang muslim dengan Al-Qur'an akan semakin kuat.

Apabila kita ingin hidup bersama Al-Qur'an, maka terdapat kewajiban yang harus kita penuhi. Setidaknya ada lima kewajiban utama terhadap Al-Qur'an yang perlu kita pahami dan laksanakan dengan sungguh-sungguh.

Kewajiban pertama terhadap Al-Qur'an adalah mengimaninya sebagai wahyu Allah SWT. Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak yang terjamin keasliannya. Keimanan ini menutup segala keraguan terhadap kebenaran isi Al-Qur'an.

Seorang muslim tidak boleh beriman hanya kepada sebagian isi Al-Qur'an. Mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya adalah sikap yang berbahaya. Keraguan terhadap Al-Qur'an sering kali muncul akibat upaya penyesatan yang sengaja dilakukan oleh pihak yang memusuhi Islam.

Apabila seorang muslim beriman sepenuhnya kepada Al-Qur'an beserta konsekuensinya, maka ia termasuk golongan orang bertakwa. Allah SWT berfirman,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَوَةَ وَ مِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنفِقُونَ

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu." (Al-Baqarah: 2-3).

Kewajiban kedua terhadap Al-Qur'an adalah mampu membacanya dengan baik. Seorang muslim yang telah dewasa seharusnya tidak lagi buta huruf Al-Qur'an. Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk belajar membaca Al-Qur'an dengan benar.

Bagi yang sudah mampu membaca Al-Qur'an, kewajiban berikutnya adalah memperbanyak tilawah. Membaca Al-Qur'an merupakan amalan yang menghidupkan hati dan rumah seorang muslim.

Rasulullah SAW bersabda, "Sinari rumahmu dengan membaca Al-Qur'an." (HR Baihaqi dari Anas)

Namun, kenyataan menunjukkan banyak kaum muslimin yang lalai membaca Al-Qur'an. Masjid sering kali sepi dari lantunan Al-Qur'an, kecuali dari rekaman suara. Kondisi ini patut menjadi keprihatinan dan bahan muhasabah bersama.

Apabila Al-Qur'an dibacakan, maka kewajiban kita adalah mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sikap ini mendatangkan rahmat Allah SWT. Allah berfirman,

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Jika dibacakan Al-Qur'an, dengarkanlah (dengan saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati." (Al-A'raaf: 204)

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Kewajiban ketiga seorang muslim terhadap Al-Qur'an adalah memahaminya dengan sebaik-baiknya. Al-Qur'an tidak akan berfungsi sebagai petunjuk jika tidak dipahami. Pemahaman inilah yang mengarahkan seorang muslim pada jalan yang benar.

Dengan memahami Al-Qur'an, seorang muslim tidak akan menafsirkan ayat sesuai hawa nafsunya. Pemahaman yang benar akan menjaga kemurnian ajaran Islam. Hidup bersama Al-Qur'an menuntut ilmu dan kesungguhan.

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Kewajiban keempat terhadap Al-Qur'an adalah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengamalan merupakan bukti nyata hidup bersama Al-Qur'an. Tanpa pengamalan, Al-Qur'an hanya akan tinggal di dalam mushaf.

Jika ajaran Al-Qur'an diamalkan, maka seorang muslim menjadi Al-Qur'an yang hidup. Nilai-nilai Al-Qur'an tercermin dalam sikap, ucapan, dan perbuatan. Mengamalkan Al-Qur'an bukanlah hal yang mustahil bagi seorang muslim.

Dengan pengamalan, kemurnian Al-Qur'an terjaga tidak hanya dalam bacaan. Nilai-nilainya juga terwujud dalam kehidupan nyata. Pengamal Al-Qur'an termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.

Kewajiban kelima terhadap Al-Qur'an adalah memasyarakatkan nilai-nilainya. Hidup bersama Al-Qur'an tidak mungkin dilakukan sendirian. Banyak ajaran Al-Qur'an yang harus dijalankan secara bersama-sama.

Memasyarakatkan nilai Al-Qur'an dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dakwah bisa melalui lisan, tulisan, isyarat, maupun keteladanan. Pengamalan Al-Qur'an yang nyata merupakan dakwah paling efektif.

Akhirnya, semoga Ramadhan ini menjadi momentum untuk semakin dekat dengan Al-Qur'an. Kedekatan ini diharapkan melahirkan pribadi dan masyarakat Qur'ani. Inilah cita-cita besar umat Islam yang telah lama dinantikan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرَانِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، فَاسْتَغْفِرُ اللهُ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Itulah dia 5 contoh khutbah Jumat persiapan menyambut Ramadhan yang dapat dijadikan referensi bagi para khatib dalam menyampaikan pesan dakwah yang menyejukkan dan mudah dipahami jemaah.

Melalui khutbah Jumat menjelang Ramadhan, diharapkan umat Islam semakin siap secara iman, ilmu, dan amal untuk menyambut bulan suci dengan penuh kesungguhan.

Semoga contoh khutbah Jumat persiapan Ramadhan ini bermanfaat dan membantu menghadirkan khutbah yang mengajak jemaah memperbaiki diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.




(inf/inf)
ramadan penuh hikmah
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads