Khutbah Jumat Akhir Bulan Syawal: Istikamah dalam Ibadah

Khutbah Jumat Akhir Bulan Syawal: Istikamah dalam Ibadah

Alvin Setiawan - detikHikmah
Kamis, 02 Mei 2024 17:00 WIB
Khutbah Jumat Akhir Bulan Syawal: Istikamah dalam Ibadah
Ilustrasi khutbah Jumat. (Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash)
Jakarta -

Penurunan semangat dalam beribadah pasca bulan Ramadan bisa ditumbuhkan lagi lewat khutbah Jumat. Untuk itu, khatib dapat menyampaikan bagaimana cara bersikap istikamah kepada muslim dalam khutbah Jumat.

Syekh Musnid al-Qahthani mengatakan dalam bukunya berjudul Meniti Jalan Istiqomah terjemahan Muh Ihsan, Allah SWT akan memudahkan segala urusan bagi hamba-Nya yang istikamah di jalan-Nya.

Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu 'Abbas, Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah Allah, niscaya la akan menjagamu. Jagalah Allah SWT niscaya engkau akan temukan la di hadapanmu." (HR Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang shahih)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai referensi, berikut teks naskah Jumat akhir Syawal tentang cara bersikap istikamah dalam beribadah yang diambil dari Kumpulan Naskah Khutbah Jumat: Membentuk Generasi Qur'ani susunan Direktorat Penerangan Agama Islam Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama (Kemenag) RI 2007.

Naskah Khutbah Jumat Akhir Bulan Syawal: Istikamah dalam Beribadah

Khutbah Pertama

Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽŲ„Ø§Ų…Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ… ŲˆŲŽØąŲŽØ­Ų’Ų…ŲŽØŠŲ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ŲˆŲŽØ¨ŲŽØąŲŽŲƒŲŽØ§ØĒŲŲ‡Ų

ADVERTISEMENT

Ø§Ų„Ų’Ø­ŲŽŲ…Ų’Ø¯Ų ؄؄؇ؐ ŲˆŲŽØ­Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų ØĩŲŽØ¯ŲŽŲ‚ŲŽ ŲˆŲŽØšŲ’Ø¯ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽŲ†ŲŽØĩŲŽØąŲŽ ØšŲŽØ¨Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽØŖŲŽØšŲŽØ˛ŲŽØŦŲŲ†Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽŲ‡ŲŽØ˛ŲŽŲ…ŲŽ Ø§Ų„Ų’ØŖŲŽØ­Ų’Ø˛ŲŽØ§Ø¨ŲŽ ŲˆŲŽØ­Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų Ø§ŲŽØ´Ų’Ų‡ŲŽØ¯ŲØ§Ų†Ų’ Ų„Ø§ŲŽ ØĨŲŲ„ŲŽŲ‡ŲŽ ØĨŲŲ„Ø§ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽØ­Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų Ų„Ø§ Ø´ŲŽØąŲŲŠŲƒŲŽ Ų„ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽØŖŲŽØ´Ų’Ų‡ŲŽØ¯Ø§Ų†ŲŽ ØŗŲŽŲŠØ¯ŲŽŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯Ų‹Ø§ ØšŲŽØ¨Ų’Ø¯ŲŲ‡Ų ŲˆŲŽØąŲŽØŗŲŲˆŲ„ŲŲ‡Ų Ų„ŲŽØ§ Ų†ŲŽØ¨ŲŲŠŲŽ Ø¨ŲŽØšŲ’Ø¯ŲŽŲ‡Ų Ø§Ų„Ų„Ų‡ŲŲ…ŲŽ ØĩŲŽŲ„Ų‘Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŗŲŽŲŠØ¯ŲŽŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…ŲŽØ¯Ų’ ŲˆŲŽØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Øĸ؄ؐ؇ؐ ŲˆŲŽØĩŲŽØ­Ų’Ø¨ŲŲ‡Ų ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ ØĒŲŽØ¨ŲØšŲŽŲ‡ŲŲ…Ų’ Ø¨ŲØĨŲØ­Ų’ØŗŲŽØ§Ų†Ų ØĨŲŲ„ŲŽŲ‰ ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…Ų Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲŲŠŲŽØ§Ų…ŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲ…ŲŽ ØĒŲŽØŗŲ’Ų„ŲŲ…Ų‹Ø§ ŲƒŲŽØĢŲŲŠØąŲ‹Ø§ ØŖŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ§ Ø¨ŲŽØšŲ’Ø¯Ų ŲŲŽŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ØŖŲŽŲˆŲ’ØĩŲŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĨŲŲŠŲŽØ§ŲŠŲŽ ŲŠŲŽØĒŲŽŲ‚ŲŲˆØ§ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ŲŲŽŲ‚ŲŽØ¯Ų’ ŲŲŽØ§Ø˛ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØĒŲ‘ŲŽŲ‚ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØĒŲŽØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ‰ ؁ؐ؊ ؃ؐØĒŲŽØ§Ø¨ŲŲ‡Ų Ø§Ų„Ų’ŲƒŲŽØąŲŲŠŲ…Ų ØŖŲŽØšŲŲˆŲ’Ø°Ų Ø¨ŲØ§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų Ų…ŲŲ†ŲŽ Ø§Ų„Ø´Ų‘ŲŽŲŠŲ’ØˇŲŽØ§Ų†Ų Ø§Ų„ØąŲ‘ŲŽØ­ŲŲŠŲ…Ų ŲˆŲŽØŗŲŽØ§ØąŲØšŲŲˆØ§ ØĨŲŲ„ŲŽŲ‰ Ų…ŲŽØēŲ’ŲŲØąŲŽØŠŲ ؅ؐ؆ؒ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŽŲ†Ų‘ŲŽØŠŲ ØšŲŽØąŲ’ØļŲŲ‡ŲŽØ§ Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽŲ…ŲŽŲˆŲŽØ§ØĒŲ ŲˆŲŽØ§Ų„ØŖŲŽØąŲ’Øļؐ ØŖŲØšØ¯ØĒ Ø§Ų„Ų„Ų’Ų…ŲØĒŲ‘ŲŽŲ‚ŲŲŠŲ†ŲŽØŒ ØĩŲŽØ¯ŲŽŲ‚ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‡ Ø§Ų„ØšØ¸ŲŠŲ….

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Marilah sama-sama kita bertaqwa kepada Allah SWT, sesungguhnya orang yang bertakwa itu akan mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Khutbah kita pada hari ini ialah bersikap istikamah. Firman Allah SWT dalam surah Fussilat ayat 30:

Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŲˆŲ’Ø§ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŲ†ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø§ØŗŲ’ØĒŲŽŲ‚ŲŽØ§Ų…ŲŲˆŲ’Ø§ ØĒŲŽØĒŲŽŲ†ŲŽØ˛Ų‘ŲŽŲ„Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡ŲŲ…Ų Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲ„Ų°Û¤Ų‰Ų•ŲŲƒŲŽØŠŲ Ø§ŲŽŲ„Ų‘ŲŽØ§ ØĒŲŽØŽŲŽØ§ŲŲŲˆŲ’Ø§ ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ§ ØĒŲŽØ­Ų’Ø˛ŲŽŲ†ŲŲˆŲ’Ø§ ŲˆŲŽØ§ŲŽØ¨Ų’Ø´ŲØąŲŲˆŲ’Ø§ Ø¨ŲØ§Ų„Ų’ØŦŲŽŲ†Ų‘ŲŽØŠŲ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØĒŲŲŠŲ’ ŲƒŲŲ†Ų’ØĒŲŲ…Ų’ ØĒŲŲˆŲ’ØšŲŽØ¯ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), "Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu."

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

Syihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi dalam tafsirnya "Ruh ai-Ma'ani" menjelaskan sikap istikamah adalah sikap berpendirian teguh kepada tauhidullah dan tidak akan kembali pada kemusyrikan. Beberapa sahabat Rasulullah SAW pun telah memberikan batasan dan pengertian tentang istikamah ini.

Misalnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA menjelaskan istikamah adalah engkau bersikap teguh dalam menjalani taat kepada Allah. Sementara itu Sufyan At-Tsauri mengartikan istiqomah adalah satunya perkataan dengan perbuatan.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Setiap orang yang menyatakan dirinya sebagai orang yang beriman pasti pada suatu masa ia akan memperoleh ujian yang sesuai dengan kadar keimanan masing-masing sebagaimana Allah SWT telah menguji kepada orang-orang terdahulu karena tidak menginginkan keimanan itu hanya sampai pada tataran ucapan atau kata-kata saja tetapi kebenaran kata-kata dan pernyataan keimanan dan tauhid seorang beriman harus dibuktikan kebenarannya.

Pembuktian kebenaran keimanan dan tauhid adalah dengan ujian atau musibah yang menimpa kepada seseorang. Dengan ujian inilah seseorang dapat diketahui kualitas keimanan dan tauhidnya kepada Allah SWT. Apakah ia benar-benar seorang mukmin yang sejati atau seorang munafik?

Hamba Allah yang telah berhasil lulus dari berbagai macam cobaan dan ujian yang datang kepada dirinya, karena dalam diri mereka telah tertanam dengan kokoh sikap dan sifat istikamah. Merekalah mendapat pertolongan Allah SWT dengan pendampingnya para malaikat baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan kepada jalan yang baik dan maslahat bagi dirinya. Sebaliknya sebagian orang beriman ada yang ketika ujian datang kepadanya ia bersikap keluh kesah, gelisah, kufur nikmat bahkan tidak jarang yang kembali menyekutukan Allah SWT.

Kaum muslimin, sikap istikamah bagi seorang mukmin adalah sangat diperlukan. Oleh karena itu Rasulullah SAW telah memberi petunjuk kepada seseorang yang meminta sesuatu yang dapat memelihara dirinya. Rasulullah SAW bersabda, "Katakanlah Allah Tuhan-ku kemudian istikamahlah kamu."(HR Bukhari)

Bagaimanakah agar dapat bersikap istikamah? Pertama, kita harus mempunyai ilmu. Dengan ilmu kita mengetahui dan memahami agama kita dengan benar dan tepat.

Kedua dengan bersikap ikhlas kepada Allah. Inti dari amal adalah keikhlasan. Oleh karena disebutkan bahwa semua orang akan merugi kecuali mereka yang beramal. Semua orang yang beramal pun akan merugi kecuali mereka yang mengikhlaskan amalnya. Orang beriman telah mengikhlaskan seluruh sholatnya, ibadahnya, hidup dan matinya semata mata untuk Allah. Dan demikianlah orang-orang mukmin diperintahkan oleh Allah.

Ketiga, lakukanlah apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepada orang-orang mukmin. Allah SWT telah mewajibkan kepada kita semua perintah-perintahnya dan melarang kepada kita perbuatan-perbuatan yang tidak halal dilakukan oleh seorang mukmin.

Kewajiban kita semua melaksanakan kewajiban-kewajiban itu dengan penuh kesungguhan dan disiplin yang tinggi, tidak sekedar melepaskan kewajiban semata-mata. Karena seluruh perintah Allah SWT yang telah diwajibkan kepada seorang mukmin adalah mempunyai hikmah yang dalam dan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.

Ketahuilah Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan kepada amal hambanya. Andaikan seluruh manusia terdahulu dan yang akan datang tidak mematuhi Allah SWT niscaya tidak akan mengurangi kemuliaan dan kekuasaan Allah SWT dan sebaliknya seandainya seluruh manusia terdahulu dan yang akan datang taat mematuhi Allah SWT niscaya tidak akan menambah kemuliaan dan kekuasaan Allah.

Keempat, agar kita dapat bersikap istikamah adalah dengan mempelajari dan mencontoh para nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT serta generasi umat Islam yang telah lalu.

Al-Qur'an dengan jelas dan gamblang menyampaikan kepada kita orang mukmin kisah-kisah telah terdahulu yang menunjuk sikap dan kepribadian yang mulia antara lain adalah sikap istikamah. Bukan 2/3 dari isi Al-Qur'an itu kisah kisah. Kisah Al-Qur'an sungguh sangat berbeda dengan kisah yang ada di dunia ini. Karena kisah itu adalah bukan kisah fiktif yang dibuat-dibuat. Kisah yang tidak ada keraguan di dalamnya. Allah SWT mempunyai kisah terbaik dalam Al-Qur'an yaitu surah Yusuf.

Dalam kisah itu sungguh banyak hikmah dan pelajaran yang harus diambil oleh seorang mukmin terlebih lagi menempuh hidup saat ini yang penuh dengan ujian dan cobaan keimanan yang menggiurkan. Nabi Yaqub AS dan keluarga telah diuji oleh Allah SWT dengan beraneka ragam cobaan keimanan, jiwa, harta, tahta, wanita bahkan martabat keluarga. Nabi Yaqub AS dan keluarga telah berhasil lulus dalam ujian oleh karenanya Allah SWT memberikan predikat kepada nya sebagai orang-orang yang muhsinin, orang yang shalihin.

Demikian juga masih banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang memberikan pelajaran kepada kita yang dapat meneguhkan iman dan menanamkan sikap istikamah. Demikianlah khutbah yang singkat ini semoga bermanfaat.

Ø¨ŲŽØ§ØąŲŽŲƒŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų Ų„ŲŲŠ ŲˆŲŽ Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ؁ؐ؊ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲØąŲ’Øĸ؆ؐ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽØ¸ŲŲŠŲ…ŲØŒ ŲˆŲŽŲ†ŲŽŲŲŽØšŲŽŲ†ŲŽØ§ Ø¨ŲŲ…ŲŽØ§ ŲŲŲŠŲ’Ų‡Ų Ų…ŲŲ†ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø¨ŲŽŲŠŲŽØ§Ų†Ų ŲˆŲŽØ§Ų„Ø°ŲŲƒŲ’ØąŲ Ø§Ų„Ų’Ø­ŲŽŲƒŲŲŠŲ…ŲØŒ ØŖŲŽŲ‚ŲŲˆŲ„Ų Ų‚ŲŽŲˆŲ’Ų„ŲŲŠ Ų‡ŲŽØ°ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽØēŲ’ŲŲØąŲ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŽ Ų„ŲŲŠ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽŲ„ŲØŦŲŽŲ…ŲŲŠØšŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŲŠŲ†ŲŽØŒ ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽØēŲ’ŲŲØąŲŲˆŲ’Ų‡Ų ØĨŲŲ†Ų‘ŲŽŲ‡Ų Ų‡ŲŲˆŲŽ Ø§Ų„Ų’ØēŲŽŲŲŲˆŲ’ØąŲ Ø§Ų„ØąŲ‘ŲŽØ­ŲŲŠŲ…Ų

Khutbah Kedua

Ø§Ų„Ų’Ø­ŲŽŲ…Ų’Ø¯Ų Ų„ŲŲ„Ų‘ŲŽŲ‡Ų Ø­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯Ų‹Ø§ ŲƒŲŽØĢŲŲŠØąŲ‹Ø§ ŲƒŲŽŲ…ŲŽØ§ ØŖŲŽŲ…ŲŽØą ŲˆŲŽØŖŲŽØ´Ų’Ų‡ŲŽØ¯Ų ØŖŲ†Ų’ Ų„Ø§ ØĨŲ„Ų‡ŲŽ ØĨŲŲ„Ø§ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽØ­Ų’Ø¯ŲŽŲ‡Ų Ų„ŲŽØ§ Ø´ŲŽØąŲŲŠŲƒŲŽ Ų„Ų‡ØŒ ØĨŲØąŲ’ØēŲŽØ§Ų…Ų‹Ø§ Ų„ŲŲ…ŲŽŲ†Ų’ ØŦŲŽØ­ŲŽØ¯ŲŽ Ø¨ŲŲ‡Ų ØŒŲˆŲŽŲƒŲŽŲŲŽØą ŲˆŲŽØŖŲŽØ´Ų’Ų‡ŲŽØ¯Ų ØŖŲŽŲ†Ų‘ŲŽ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŽŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯Ų‹Ø§ ØšŲŽØ¨Ų’Ø¯ŲŲ‡Ų ŲˆŲŽØąŲŽØŗŲŲˆŲ„ŲŲ‡Ų ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯Ų Ø§Ų„ØĨŲŲ†Ų’ØŗŲ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ø¨ŲŽØ´ŲŽØąŲ . Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų‘ŲŽ ØĩŲŽŲ„Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘Ų…Ų’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯Ų ŲˆŲŽØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Øĸ؄ؐ؇ؐ ŲˆŲŽØĩŲŽØ­Ų’Ø¨ŲŲ‡Ų

Ų…ŲŽØ§ اØĒŲ‘ŲŽØĩŲŽŲ„ŲŽØĒŲ’ ØšŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŒ Ø¨ŲŲ†ŲŽØ¸ŲŽØąŲ ŲˆŲŽØŖŲØ°ŲŲ†ŲŒ Ø¨ŲØŽŲŽØ¨ŲŽØą ØŖŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ§ Ø¨ŲŽØšŲ’Ø¯Ų ŲŲŽŲŠŲŽØ§ ØŖŲŽŲŠŲ‘ŲŲ‡ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØ§ØŗŲ اØĒŲ‘ŲŽŲ‚ŲŲˆØ§ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŽ ØĒŲŽØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ‰ØŒ ŲˆŲŽØ°ŲŽØąŲŲˆ Ø§Ų„Ų’ŲŲŽŲˆŲŽØ§Ø­ŲØ´ŲŽ Ų…ŲŽØ§ Ø¸ŲŽŲ‡ŲŽØąŲŽ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ Ø¨ŲŽØˇŲŽŲ†ØŒ ŲˆŲŽØ­ŲŽØ§ŲŲØ¸ŲŲˆØ§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„ØˇŲ‘ŲŽØ§ØšŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ­ŲØļŲŲˆŲ’ØąŲ Ø§Ų„Ų’ØŦŲŲ…Ų’ØšŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ§Ų„ØŦŲŽŲ…ŲŽØ§ØšŲŽØŠŲ.

ŲˆŲŽØ§ØšŲ’Ų„ŲŽŲ…ŲŲˆØ§ ØŖŲŽŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŽ ØŖŲŽŲ…ŲŽØąŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ø¨ŲØŖŲŽŲ…Ų’ØąŲ Ø¨ŲŽØ¯ŲŽØŖŲŽ ŲŲŲŠŲ’Ų‡Ų Ø¨ŲŲ†ŲŽŲŲ’ØŗŲŲ‡ŲØŒ ŲˆŲŽØĢŲŽŲ†Ų‘ŲŽŲ‰ Ø¨ŲŲ…ŲŽŲ„ŲŽØ§ØĻŲŲƒŲŽØĒؐ؇ؐ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲŽØ¨Ų‘ŲØ­ŲŽØŠŲ Ø¨ŲŲ‚ŲØ¯Ų’ØŗŲŲ‡ØŒ ŲŲŽŲ‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ ØĒŲŽØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ‰ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ˛ŲŽŲ„Ų’ Ų‚ŲŽØ§ØĻŲŲ„Ø§Ų‹ ØšŲŽŲ„ŲŲŠŲ…Ų‹Ø§ : ØĨŲŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŽ ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ„ŲŽØ§ØĻŲŲƒŲŽØĒŲŽŲ‡Ų ŲŠŲØĩŲŽŲ„Ų‘ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØ¨ŲŲŠŲ‘ŲØŒ ŲŠŲŽØ§ ØŖŲŽŲŠŲ‘ŲŲ‡ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ØĸŲ…ŲŽŲ†ŲŲˆŲ’Ø§ ØĩŲŽŲ„Ų‘ŲŲˆŲ’Ø§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘ŲŲ…ŲŲˆØ§ ØĒŲŽØŗŲ’Ų„ŲŲŠŲ…Ų‹Ø§ ØŖŲŽŲ„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų‘ŲŽ ØĩŲŽŲ„Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘Ų…Ų’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯Ų ŲˆŲŽØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Øĸ؄ؐ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯ŲØŒ ŲƒŲŽŲ…ŲŽØ§ ØĩŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ ØĨŲØ¨Ų’ØąŲŽØ§Ų‡ŲŲŠŲ…ŲŽ ŲˆŲŽØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Øĸ؄ؐ ØŗŲŽŲŠŲ‘ŲØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ ØĨŲØ¨Ų’ØąŲŽØ§Ų‡ŲŲŠŲ’Ų…ŲŽ ؁ؐ؊ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ØĨŲŲ†Ų‘ŲŽŲƒŲŽ Ø­ŲŽŲ…ŲŲŠØ¯ŲŒ Ų…ŲŽØŦŲŲŠØ¯ŲŒ. Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų‘ŲŽ اØēŲ’ŲŲØąŲ’ Ų„ŲŲ„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŲŠŲ†ŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŽØ§ØĒŲØŒ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŲŠŲ†ŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŽØ§ØĒؐ Ø§Ų„Ų’ØŖŲŽØ­Ų’ŲŠŲŽØ§ØĄŲ Ų…ŲŲ†Ų’Ų‡ŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØ§Ų„ØŖŲŽŲ…Ų’ŲˆŲŽØ§ØĒ Ø¨ŲØąŲŽØ­Ų’Ų…ŲŽØĒŲŲƒŲŽ ŲŠŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§Ų‡ŲØ¨ŲŽ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽØˇŲŲŠŲ‘ŲŽØ§ØĒ، Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø§Ø¯Ų’ŲŲŽØšŲ’ ØšŲŽŲ†Ų‘ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų’ØēŲŽŲ„ŲŽØ§ŲŽØĄŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’ŲˆŲŽØ¨ŲŽØ§ØĄŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„ØąŲ‘ŲŲ†ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§Ų„Ø˛Ų‘ŲŽŲ„Ø§Ø˛ŲŲ„ŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØ­ŲŽŲ†ŲØŒ ŲˆŲŽØŗŲŲˆŲ’ØĄŲŽ Ø§Ų„Ų’ŲŲØĒŲŽŲ†Ų Ų…ŲŽØ§ Ø¸ŲŽŲ‡ŲŽØąŲŽ Ų…ŲŲ†Ų’Ų‡ŲŽØ§ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ Ø¨ŲŽØˇŲŽŲ†ØŒ ØšŲŽŲ†Ų’ Ø¨ŲŽŲ„ŲŽØ¯ŲŲ†ŲŽØ§ Ų‡ŲŽØ°ŲŽØ§ ØŽŲŽØ§ØĩŲ‘ŲŽØŠŲ‹ ŲˆŲŽØšŲŽŲ†Ų’ ØŗŲŽØ§ØĻŲØąŲ Ø¨ŲŽŲ„ŲŽØ§Ø¯Ų Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ØšŲŽØ§Ų…Ų‘ŲŽØŠŲ‹ ŲŠŲŽØ§ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ…ŲŲŠŲ†ŲŽØŒ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲ†ŲŽØ§ ØĸØĒŲŲ†ŲŽØ§ ؁ؐ؊ Ø§Ų„Ø¯Ų‘ŲŲ†Ų’ŲŠŲŽØ§ Ø­ŲŽØŗŲŽŲ†ŲŽØŠŲ‹ ŲˆŲŽŲŲŲŠ Ø§Ų„Ų’ØĸØŽŲØąŲŽØŠŲ Ø­ŲŽØŗŲŽŲ†ŲŽØŠŲ‹ ŲˆŲŽŲ‚ŲŲ†ŲŽØ§ ØšŲŽØ°ŲŽØ§Ø¨ŲŽ Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØ§ØąŲ




(rah/rah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads