Sebanyak 27 kasus penggunaan joki sebagai peserta pengganti pada Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 teridentifikasi. Sebanyak tujuh di antaranya benar-benar hadir di lokasi ujian.
Ketua Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok mengatakan, kasus ini dilaporkan ke kepolisian oleh pusat UTBK.
"Iya, jadi semua yang saat ini proses pelaporan itu dilakukan masing-masing pusat UTBK dulu, karena kecurangannya dilakukan di pusat UTBK masing-masing," ucapnya usai konferensi pers pengumuman hasil UTBK SNBT di Graha Kemdiktisaintek, Jl Pintu 1 Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) ini mengatakan, pihaknya kemudian dapat melaporkan kasus joki UTBK secara kelembagaan jika diperlukan.
"Setelah berproses dan setelah selesai pengumuman, baru kita akan merekap seluruhnya dan kita akan melihat kembali, apakah ada yang memang kasus yang harus dilaporkan secara kelembagaan oleh MRPTNI ataukah seluruhnya sudah tertangani melalui aparat hukum di wilayah lokus tempat kejadian pelanggaran tadi," ucapnya.
Terlacak dari Database
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) mengatakan joki UTBK 2026 kebanyakan memiliki klien calon mahasiswa yang hendak mendaftar ke fakultas kedokteran. Para joki salah satunya terungkap dari face recognition dan AI yang memanfaatkan database wajah joki atau peserta ujian sebelumnya.
"Pakai joki, kita dari situ pakai face recognition, kita juga pakai AI, memanfaatkan database-database tahun sebelumnya. Karena kita mensinyalir bahwa pelaku kecurangan itu kan berasal dari satu kelompok tertentu, artinya satu, seperti kelompok yang memang mereka by design melakukan proses kecurangan, jadi orangnya itu-itu saja," ucapnya di sela konferensi pers.
"Sehingga kita punya database banyak foto-foto, yang sebelum-sebelumnya, sehingga begitu database ini masuk, kita cocokkan dengan database yang sudah ada sebelumnya. 'Itu kok misalnya 4 tahun lalu pernah ikut ujian?' Kan tidak mungkin ya 4 tahun lalu (ikut), sekarang ikut ujian. Utau 3 tahun lalu. Nah itu sudah ada keanehan-keanehan itu," ucapnya.
Tawarkan Jasa Joki ke Orang Tua Camaba
Brian mengungkapkan, pada UTBK juga terungkap jaringan yang menawari orang tua calon mahasiswa baru (camaba) cara masuk ilegal dengan jasanya. Terkait praktik ini, ia mengingatkan orang tua untuk tetap mengedepankan integritas dalam mendukung pendidikan anak.
"Ada satu jaringan yang berhasil dibongkar, bahwa mereka memang by intention melakukan penawaran pada orang tua-orang tua, dan lain sebagainya. Nah ini kita betul-betul mengingatkan kepada seluruh orang tua, seluruh perseta, bagaimanapun ini adalah pendidikan itu membangun masa depan, tentu tidak mungkin dibarengi dengan proses-proses yang melanggar integritas," ucapnya.
