Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya menghadirkan kondisi sekolah yang kondusif dan mendukung pengembangan diri murid. Untuk itu, hadirlah Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
BSAN adalah keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah. Tujuannya, untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologi, dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keagamaan digital demi menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi warga sekolah.
Guru punya peran sentral dalam menghadirkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman ini. Tapi, di satu sisi guru juga punya tugas penting dalam mengejar target kurikulum dan prestasi akademik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bisakah kedua hal ini benar-benar berjalan seiringan? Mana hal yang paling mendesak untuk diperhatikan guru?
Terkait hal itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami beri jawaban. Baginya, sebagai seorang pendidik seharusnya guru tak perlu memilih salah satunya.
"Menurut saya sebenarnya kita tidak perlu memilih salah satu karena memang keduanya ini bukan dua agenda yang saling berkompetisi. Tapi, justru saling menguatkan," bebernya dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang ditayangkan secara daring, Jumat (2/10/2026).
Membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Bukan Pekerjaan Tambahan
Rusprita tidak bisa memungkiri bila guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan murid bisa mencapai kompetensi akademik terbaik. Namun, ia menekankan bila hal ini akan sulit tercapat jika sekolah dalam kondisi yang tidak dan nyaman untuk belajar.
"Kita juga harus menyadari bersama bahwa anak ini akan sangat sekali belajar secara optimal jika dia datang ke sekolah dalam keadaan tertekan, takut, tidak merasa diterima, atau justru malah mengalami kekerasan dalam bentuk misalnya perundungan," bebernya.
Dengan begitu, Rusprita menyebut memang budaya sekolah aman dan nyaman perlu dihadirkan. BSAN juga disampaikannya bukanlah pekerjaan tambahan guru di luar pembelajaran.
"Namun, justru ini adalah fondasi dari pembelajaran itu sendiri," sambung Rusprita.
Ruang belajar yang kuat tercermin dari kondisi ketika murid merasa aman secara fisik, psikologis, dihargai, memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya, berani bertanya, berani berpendapat, hingga berani mengaku kesalahannya.
"Jadi sebenarnya kalau menurut saya pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih penting antara prestasi atau rasa aman. Namun, justru bagiaman kita bisa menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman agar setiap anak bisa belajar, berkembang, dan berprestasi secara optimal," tegasnya lagi.
Menghadirkan BSAN memang tidak bisa dibebankan seluruhnya kepada guru. Guru memang disebutnya sebagai aktor penting, tapi BASN bisa dihadirkan dengan ekosistem yang saling mendukung.
Ekosistem yang dimaksud Rusprita adalah kepala sekolah, tenaga kependidikan, bahkan melibatkan orang tua atau wali murid, serta murid itu sendiri. Baginya, sekolah yang hebat bukan sekedar memiliki prestasi akademik, tapi sekolah yang mampu menghadirkan rasa aman pada muridnya.
"Menurut kami sekolah yang hebat itu bukan hanya sekolah yang anak-anaknya berprestasi, memenangkan kompetisi. Tapi, justru sekolah yang bisa memampukan setiap anak untuk belajar dengan rasa aman, kemudian mereka memiliki kenyamanan untuk bisa bertumbuh, dan juga memiliki kesempatan untuk bisa mencapai prestasi terbaik," tandasnya.
