Salah satu pembaruan yang hadir di pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat 2026 adalah integrasi dengan Asesmen Nasional (AN). Integrasi TKA dan AN pada dasarnya sudah terjadi di jenjang SD dan SMP.
Namun, ini adalah kali pertama TKA dan AN digabungkan dalam pelaksanaan tes jenjang SMA/SMK/sederajat. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kapusmendik Kemendikdasmen) Rahmawati membeberkan AN akan digabungkan ke beberapa mapel (mata pelajaran) TKA.
Mapel yang dimaksud adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Sedangkan dua komponen AN lainnya, yakni Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar, akan menjadi subtes terpisah.
"Saat ini di tahun 2026, pelaksanaan TKA diintegrasikan dengan Asesmen Nasional. Jadi, semua peserta TKA secara otomatis menjadi sampel Asesmen Nasional," tutur Rahmawati dalam Webinar Bincang SMA TKA, dikutip dari tayangan ulang YouTube Direktorat SMA.
Murid Tak Perlu Takut Hadirnya Materi AN di TKA
Soal AN akan disisipkan pada mapel wajib di hari pertama, kedua, dan ketiga. Pada hari pertama, murid akan mengerjakan mapel bahasa Indonesia wajib sekaligus soal literasi membaca.
"Apa sih bedanya mengerjakan soal bahasa Indonesia TKA dengan literasi membaca di Asesmen Nasional? Nyaris tidak ada bedanya," ungkap Rahmawati.
Pada mapel bahasa Indonesia, murid akan melihat suatu informasi berupa teks, baik itu teks sastra, nonfiksi, maupun teks informasi, yang diikuti oleh beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan akan terdiri dari beberapa level.
"Dari level hanya mengakses informasi yang ada di wacana sampai menginterpretasi atau mengintegrasikan informasi yang ada di wacana, sampai kemudian yang terakhir diharapkan juga mampu mengevaluasi teks yang disajikan. Semua kompetensi yang diukur ini sangat selaras antara TKA dengan literasi membaca," bebernya.
Berlanjut pada hari kedua, murid akan melaksanakan mapel wajib bahasa Inggris yang juga dilengkapi dengan AN. Sementara pada hari ketiga, mereka akan bertemu dengan mapel matematika wajib yang sebagian soalnya hadir untuk mengukur kemampuan numerasi murid.
"Nah, bedanya apa antara matematika TKA dengan numerasi? Jadi sebenarnya perbedaan utamanya adalah ketika kemampuan matematika itu diujikan dalam konteks keseharian, soal-soal cerita sehari-hari, permasalahan sehari-hari, maka sebenarnya sedang dilakukan pengukuran numerasi," papar Rahmawati.
Murid nantinya akan menghadapi soal matematika yang menyajikan teks, grafik, infografis, dan tabel. Mereka kemudian akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dengan tujuan memotret kemampuan numerasi murid.
Rahmawati menyebut murid tidak perlu takut dalam menghadapi soal-soal ini. Kemendikdasmen yakin bahwa murid mampu mengerjakan karena telah memahami materi dengan metode pembelajaran mendalam yang telah diterapkan.
"Apakah menakutkan? Tidak perlu takut ya, karena kami menyakini dengan pembelajaran mendalam, teman-teman sebelum belajar suatu topik, kita akan berupaya untuk sadar, kita mindful, kita belajar ini sebenarnya untuk apa, manfaatnya bagaimana," jelasnya.
"Kita juga meaningful, kita mengetahui betul konsep yang kita pelajari ini bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sesuai dengan numerasi dan pada akhirnya kita akan joyful dengan apa yang kita pelajari," tegas Rahmawati lagi.
Simak Video "Video Prabowo: Anak-anak Harus Dapat Pendidikan yang Baik, MBG Saja Tak Cukup"
(det/faz)