Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) beberkan perbandingan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD-SMP dan SMA/SMK. Disebutkan, pada mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia, nilai TKA SD-SMP lebih tinggi dibanding SMA.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati menyampaikan rerata nilai bahasa Indonesia SD dan SMP masing-masing 60,14 (SD) dan 60,83 (SMP). Hasil ini lebih tinggi dibanding SMA-SMK yang rerata nilainya adalah 55,38.
"Bahasa Indonesia capaiannya, baik SMP/sederajat maupun SD/sederajat, ini hasilnya lebih tinggi dibandingkan hasil TKA jenjang SMA/MA/SMK/sederajat. Untuk bahasa Indonesia antara SMP/sederajat dengan SD/sederajat ini senada, sama-sama di angka 60, beda di dua koma belakang digitnya," ungkap Rahmawati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Taklimat Media Hasil TKA jenjang SMP/MTs/sederajat dan SD/MI/sederajat di Gedung E Komplek Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Alasan Nilai Bahasa Indonesia SD-SMP Lebih Tinggi Dibanding SMA/SMK
Rahmawati juga membeberkan alasan mengapa nilai bahasa Indonesia jenjang SD-SMP lebih tinggi dibanding SMA/SMK. Secara umum, hal ini bisa terjadi, salah satunya karena proses sosialisasi TKA memakan waktu lebih panjang, sehingga murid bisa mempersiapkan diri lebih baik.
Namun, ia juga menyoroti dua aspek lain yang mendukung tingginya nilai mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD-SMP, yaitu:
1. Aspek Teknis
Secara teknis, waktu ujian menurut Rahmawati ikut berpengaruh. Peserta TKA SD dan SMP hanya menjalani satu mata pelajaran ujian di satu hari, sedangkan SMA/SMK tidak.
"Kemarin waktu SMA kan mapel wajib numpuk jadi satu, Bahasa Indonesia, setelah itu Matematika, langsung mengerjakan Bahasa Inggris," jelasnya.
Selain waktu pengerjaan, TKA SMA/SMK juga memiliki masa persiapan yang singkat, hanya 3-4 bulan. Sebaliknya, murid SD dan SMP memiliki waktu persiapan TKA yang panjang.
"Sedangkan untuk yang sekarang ini, persiapannya sudah jauh hari, anak-anak juga sudah lebih siap untuk melakukan TKA. Jadi, ini dari aspek teknis yang kemungkinan besar mempengaruhi hasil dari TKA jenjang SMP/sederajat maupun SD/sederajat," katanya.
2. Aspek Substansi
Aspek kedua terkait hal ini berkaitan dengan substansi. Bila melihat kerangka kerja atau framework, proporsi soal TKA dibedakan berdasarkan level kognitif.
"Jadi ada level kognitif 'knowing' (pengetahuan), 'applying' (penerapan), dan 'reasoning' (penalaran). Semakin tinggi jenjangnya, proporsi penalaran meningkat, proporsi knowing pengetahuannya berkurang," urainya.
Untuk itu, jenjang SMA/SMK menuntut level kognitif yang lebih tinggi dibanding SMP dan SD. Kerangka kerja ini menguji kemampuan bernalar murid seiring usia dan tahun belajar yang telah mereka lalui.
"Seharusnya kemampuan bernalar meningkat (seiring bertambahnya usia dan tahun belajar), maka instrumennya kita meng-assess lebih banyak penalaran, ternyata nilainya tidak mencapai. Artinya kemampuan bernalar harus lebih didorong di pembelajaran kita seiring dengan tuntasnya konsep-konsep," kata dia lagi.
Contohnya, pada jenjang SD, murid mungkin belajar tentang konsep geometri, konsep bilangan, konsep aljabar. Penerapan konsep itu kemudian lebih banyak di jenjang SMP.
"Sedangkan jenjang SMA, murid harusnya sudah mulai bisa diterapkan untuk bidang-bidang yang lain, lintas bidang, dan juga untuk masalah-masalah yang sifatnya tidak rutin. Jadi, seperti itu hasil analisa kami terhadap tren antara hasil SMA dibandingkan dengan SMP, (dan) dibandingkan dengan SD," ucapnya.











































