8.500 Murid SD-SMP Dapat Nilai 100 di TKA 2026 Mapel Ini, Simak Datanya!

ADVERTISEMENT

8.500 Murid SD-SMP Dapat Nilai 100 di TKA 2026 Mapel Ini, Simak Datanya!

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 26 Mei 2026 14:30 WIB
Simulasi TKA SMP
Sejumlah murid SD-SMP dapat nilai 100 di mapel tertentu pada TKA 2026. Foto: Dok. Kemendikdasmen
Jakarta -

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kapusmendik Kemendikdasmen) Rahmawati ungkap ada murid yang dapat nilai sempurna atau 100 di Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia atau Matematika. Murid-murid ini tersebar di jenjang SD/MI/sederajat dan SMP/MTs/sederajat.

"Ada yang dapat nilai sempurna, betul semua di semua soal. Dan jumlahnya kalau untuk Bahasa Indonesia memang lebih banyak, dibandingkan untuk Matematika," katanya di Taklimat Media Hasil TKA jenjang SMP/MTs/sederajat dan SD/MI/sederajat di Gedung E Komplek Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmawati menyatakan, secara umum, capaian Bahasa Indonesia di jenjang SD maupun SMP lebih baik dibanding Matematika. Hal ini juga terlihat dalam jumlah murid yang mendapatkan nilai 100.

Di TKA SD/MI/sederajat, sebanyak 4.509 murid mendapatkan nilai 100 pada mapel Bahasa Indonesia. Sedangkan di mata pelajaran Matematika, sebanyak 814 murid SD/MI/sederajat mendapat nilai 100.

ADVERTISEMENT

Pada TKA mapel Bahasa Indonesia jenjang SMP/MTs/sederajat, peraih nilai 100 mencapai 4.051 anak. Sementara di mapel Matematika, jumlah murid SMP/MTs/sederajat yang mendapat nilai 100 sebanyak 271 peserta didik.

Cara Kemendikdasmen Mengolah Nilai TKA

Lebih lanjut, Rahmawati menjelaskan bagaimana Kemendikdasmen mengolah nilai TKA. Untuk jenjang SD-SMP, nilai yang diperoleh murid berasal dari proporsi menjawab benar yang ditransformasikan ke dalam skala 0-100.

"Jadi kalau soal yang diterima murid 30, dia betul 15 soal, maka nilainya 50. Kalau dia betul 27, maka nilainya 90. Jadi masih pakai rumus yang seperti zaman saya Ebtanas begitu ya, percent correct ditransformasi menjadi 0-100," ungkapnya.

Berbeda dengan soal jenjang SMA/SMK yang seluruhnya dibuat oleh pemerintah pusat, soal TKA SD-SMP memiliki komposisinya tersendiri. Sebanyak 70% soal TKA SD-SMP dibuat oleh pusat dan 30% sisanya disampaikan dari kabupaten/kota masing-masing yang diacak untuk provinsi.

"Jadi, beda provinsi akan berbeda soalnya, dan untuk semua soal tersebut, sebelum melakukan proses scoring, kami melakukan verifikasi dan validasi," paparnya.

Rahmawati menyatakan, pihaknya memiliki data empirik untuk merespons setiap butir soal, paket soal, dan jawaban murid. Data yang dimaksud berbentuk statistik untuk mengukur tingkat kesukaran maupun variasi dari paket soal yang diujikan.

"Hal ini kami lakukan untuk memastikan tidak ada murid yang dirugikan karena mendapatkan paket yang ekstrem lebih sulit, atau murid yang diuntungkan karena mendapat paket soal yang lebih mudah," ungkap Rahmawati lagi.

Setelah verifikasi dan validasi selesai, Kemendikdasmen akan melakukan proses scoring atau nilai. Selain nilai, murid akan menerima kategori capaian yang tertera di Sertifikat Hasil Tes Kemampuan Akademik (SHTKA).

"Apakah kurang memadai, atau baik. Bedanya, (kategori capaian) memadai dengan baik adalah nilai batasnya. Nilai batasnya (ditentukan) menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, yang disebut sebagai metode standard setting dan melibatkan 140 guru mata pelajaran sesuai yang tersebar dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia," bebernya.

Sebaran Kategori Nilai Per Mata Pelajaran

Pada TKA SD-SMP, Kemendikdasmen menambahkan satu kategori baru, yakni istimewa untuk murid yang nilainya 95 atau lebih. Adapun data sebaran kategori nilai per mata pelajaran, yakni:

SD/MI/sederajat

Bahasa Indonesia

  • Kurang (nilai <50): 27,58% murid
  • Memadai (>50 sampai <76,67): 49,16% murid
  • Baik (nilai >76,67): 22,67% murid
  • Baik-Istimewa (nilai >= 95): 0,59% murid

Matematika

  • Kurang (nilai <50): 20,42% murid
  • Memadai (>50 sampai <76,67): 60,64% murid
  • Baik (nilai >76,67): 18,87% murid
  • Baik-Istimewa (nilai >= 95): 0,07% murid

SMP/MTs/sederajat

Bahasa Indonesia

  • Kurang (nilai <50): 25,25% murid
  • Memadai (>50 sampai <76,67): 51,21% murid
  • Baik (nilai >76,67): 22,97% murid
  • Baik-Istimewa (nilai >= 95): 0,57% murid

Matematika

  • Kurang (nilai <50): 23,24% murid
  • Memadai (>50 sampai <76,67): 67,06% murid
  • Baik (nilai >76,67): 9,67% murid
  • Baik-Istimewa (nilai >= 95): 0,03% murid

Kategori capaian ini digunakan untuk memudahkan dalam membantu setiap murid merefleksikan kemampuannya. Jika nilainya belum baik, maka guru dan orang tua bisa menyiapkan strategi dalam meningkatkan kemampuan murid ke depannya.

"Fokus utama dari TKA di mana hasil TKA tidak berhenti kepada nilai dan capaian, tetapi berujung kepada perbaikan dan refleksi strategi pembelajaran," kata Rahmawati.




(det/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads