Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengaku tak khawatir kehadiran sekaligus pemanfaatan mata pelajaran (mapel) artificial intelligence (AI) akan buat murid malas. Ia menegaskan pihaknya sudah punya strategi untuk menghadapi hal tersebut.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran teknologi menjadi bagian hidup manusia masa kini, termasuk anak sekolah. Untuk itu, pendidikan harus bisa mengakomodasi kemajuan teknologi tersebut.
Meskipun begitu, Mu'ti menyatakan pihaknya tetap tidak akan meninggalkan metode pembelajaran konvensional atau tradisional. Dengan demikian, Kemendikdasmen akan mengkombinasikan keduanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan mengkombinasikan itu dengan model pembelajaran yang dalam tanda petik konvensional atau tradisional," tutur Menteri Mu'ti dikutip dari Antara, Jumat (13/3/2026).
Tugas Ditulis Tangan
Salah satu contoh yang dibeberkan Menteri Mu'ti terkait kombinasi model pembelajaran teknologi dan tradisional hadir dalam proses penugasan. Ia ingin mengaktifkan kegiatan menulis pada murid.
"Jadi misalnya dia dengan IFP (interactive flat panel/smartboard) itu dia bisa nonton film atau pembelajaran dalam bentuk video dan tayangan lain, tapi mereka nanti membuat resume (rangkuman) itu dengan tulis tangan," katanya lagi.
Ke depan, Kemendikdasmen akan mendorong penugasan pada murid agar tidak hanya tentang mengerjakan soal. Penugasan akan berbentuk lebih variatif, seperti membaca buku atau menulis resume.
"Selama ini kan PR-nya (pekerjaan rumah) itu kan LKS, lembar kerja siswa yang isinya mengerjakan soal. Ya, kita gak tau yang mengerjakan siapa, bisa jadi orang tuanya, bisa jadi misalnya guru privatnya," jelas menteri Mu'ti.
Dengan tugas yang mengharuskan murid menulis secara mandiri, ia yakin PR tersebut akan dikerjakan sendiri. Kombinasi teknologi dan sistem pembelajaran tradisional ini akan menekankan pada kemampuan-kemampuan otentik anak.
"Kita kombinasikan antara penggunaan teknologi pembelajaran yang modern dengan sistem pembelajaran dalam tanda petik ya tradisional yang menekankan kemampuan otentik anak dalam berpikir, mengembalikan gagasan dan menulis," kata Sekum PP Muhammadiyah itu lagi.
Menulis menurut Mu'ti tidak hanya soal mengembangkan gagasan dalam bentuk tulisan, tapi juga melatih motorik anak. Dengan begitu, mereka juga tetap bisa bergerak aktif tidak seperti bermain ponsel.
"Kan kalau pakai HP kan cuma dua jari, kalau menulis kan semuanya ikut gerak, sehingga ada sinergi, dan itu banyak sekali kajian yang mendukung bagaimana agar kegiatan seperti itu bisa kita tingkatkan," tegasnya.
Pastikan Materi Mapel Koding-AI Aman
Sebelumnya, Mu'ti meneken Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penandatanganan SKB ini melibatkan tujuh kementerian, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Agama; Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; Kementerian Komunikasi dan Digital; Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN; serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
SKB 7 Menteri menjadi langkah strategis pemerintah dalam memastikan pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pendidikan dilakukan secara bijak, terarah, dan sesuai dengan kesiapan peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan tinggi, serta pada pendidikan nonformal dan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Meskipun ada kebijakan tersebut, ia menjamin mata pelajaran koding dan AI memberikan materi yang aman dan mendukung kegiatan belajar murid. Termasuk, murid yang masih berusia di bawah 16 tahun.
Ia menjamin kehadiran dua mata pelajaran tersebut bertujuan agar murid punya kemampuan dalam menggunakan koding maupun AI. Bukan hanya murid, Kemendikdasmen juga memberikan pelatihan pada guru pengajar mapel koding-AI.
Selain itu, materi pembelajaran juga diberikan secara terpusat oleh Kemendikdasmen.
"Sehingga karena ada materi dari kami, maka bisa kami berikan jaminan bahwa apa yang diajarkan adalah penggunaan koding dan AI yang aman dan mendukung kegiatan pembelajaran," tandasnya.
(det/twu)











































