Sekolah Katolik di Negara Ini Ditutup untuk Rayakan Ramadan, Picu Kontroversi

ADVERTISEMENT

Sekolah Katolik di Negara Ini Ditutup untuk Rayakan Ramadan, Picu Kontroversi

fahri zulfikar - detikEdu
Kamis, 19 Feb 2026 08:00 WIB
Muslim merayakan Idulfitri di kawasan industri Parco Dora di Turin pada 21 April 2023.
Foto: AFP via Getty Images/MARCO BERTORELLO/Muslim merayakan Idulfitri di kawasan industri Parco Dora di Turin pada 21 April 2023.
Jakarta -

Sekolah Katolik di wilayah Pioltello, Italia pernah memutuskan meliburkan sekolah untuk merayakan akhir Ramadan. Keputusan ini memicu kontroversi nasional usai disebut sebagai sekolah di Italia pertama yang ditutup untuk memeringati hari raya Islam.

Sekolah yang dimaksud yaitu "Iqbhal Masih", terletak di Pioltello, kota madya di bagian timur laut Milan. Kota berpenduduk 40.000 jiwa tersebut dikenal sebagai wilayah dengan imigran tertinggi di Italia, demikian menurut The Catholic Herald, dikutip Rabu (18/2/2026).

Alasan Sekolah Memutuskan Libur pada Akhir Ramadan

Pihak sekolah semula memutuskan untuk tutup pada akhir Ramadan 2024 untuk menandai perayaan Idulfitri bagi umat Islam. Kebijakan ini berkaitan dengan sekolah Iqbhal Masih yang memiliki sekitar 40 persen siswa beragama Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Sekolah Iqbhal Masih, Alessandro Fanfoni mengatakan, penutupan sekolah dilakukan karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya, hanya ada 3 atau 4 siswa muslim yang berangkat sekolah ketika akhir Ramadan. Menurutnya, absennya banyak siswa merupakan hari yang sia-sia.

"Sebagian besar hari itu menjadi hari yang sia-sia," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pihak Fanfoni, memanfaatkan peraturan yang mengizinkan sekolah untuk menambah tiga hari libur tambahan pada hari libur yang ditetapkan oleh hukum regional dan nasional, dewan pengelola sekolah, yang meliputi taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama. Dengan acuan aturan tersebut, sekolah memutuskan untuk tutup pada Hari Raya Idulfitri.

Keputusan ini juga dilakukan pada Ramadan 2025. Namun, untuk Ramadan 2026, belum ada berita atau laporan resmi.

Picu Kontroversi

Keputusan libur sekolah ini memicu kontroversi. Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, menyebut itu sebagai pilihan yang bertentangan dengan nilai dan tradisi di Italia.

Ia mengatakan, untuk menghormati agama lain, sebagian orang hanya menghilangkan simbol-simbol Katolik di ruang kelas.

"Sementara sebagian orang ingin menghilangkan simbol-simbol Katolik, seperti salib di ruang kelas, karena takut menyinggung perasaan, di Provinsi Milan seorang kepala sekolah memutuskan untuk menutup sekolah menjelang akhir Ramadan," katanya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Italia, Giuseppe Valditara, meminta klarifikasi dari pihak sekolah usai keputusan libur sekolah saat Ramadan dan jelang Idulfitri. Ia mengatakan bahwa hanya pemerintah daerah dan nasional yang memiliki wewenang untuk menambahkan hari libur ke kalender sekolah.

Meski begitu, keputusan sekolah didukung oleh Keuskupan Agung Milan. Diakon Roberto Pagani, yang memimpin kantor ekumenisme dan dialog antaragama keuskupan agung sejak 2013, mengatakan mendukung keputusan sekolah Iqbhal Masih.

Menurutnya, keputusan tersebut bisa menjadi jembatan bagi kaum muda untuk memahami perbedaan. Terlebih, umat Islam di Italia juga ikut berbagi saat ada perayaan Natal dan Paskah bersama umat Katolik.

"Saya merasa indah bahwa inisiatif untuk dialog antaragama dimulai dengan sebuah sekolah yang berupaya membangun jembatan antara kaum muda yang menganut kepercayaan berbeda di rumah," ucap Pagani.

"Di Keuskupan Milan, kami berupaya menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang dari agama lain yang tinggal di wilayah kami, dan yang ingin berdialog, berinteraksi, dan berintegrasi," imbuhnya.



(faz/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads