Hasil TKA SMA: Literasi-Karakter Sosial Kuat, STEM Perlu Diperkuat

ADVERTISEMENT

Hasil TKA SMA: Literasi-Karakter Sosial Kuat, STEM Perlu Diperkuat

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 04 Feb 2026 10:03 WIB
Hasil TKA SMA: Literasi-Karakter Sosial Kuat, STEM Perlu Diperkuat
Kemendikdasmen baca hasil TKA SMA 2025. Begini hasilnya. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (BSKAP Kemendikdasmen) mencermati hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) murid jenjang SMA. Bagaimana hasilnya?

Kepala Pusmendik BSKAP Kemendikdasmen Rahmawati menyatakan, karakter sosial murid Indonesia berkembang dengan baik. Hal ini dinilai dari capaian mata pelajaran berbasis literasi dan nilai sosial.

Sementara itu, baik pada mata pelajaran (mapel) wajib Bahasa Indonesia maupun mapel pilihan seperti PPKn, Antropologi, dan Geografi, nilai yang dicapai murid dinilai cukup memuaskan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil Mapel Bahasa Indonesia-|Bidang Sosial di TKA SMA

Berdasarkan data nasional dari 3.466.018 peserta didik di 43.461 sekolah, murid disebut memiliki kemampuan yang baik dalam pemahaman tekstual di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka mampu memahami kosakata, baik itu kata serapan dari bahasa daerah maupun asing.

ADVERTISEMENT

Selain itu, murid juga cukup mampu mengidentifikasi latar, karakter, dan fenomena dalam teks fiksi maupun nonfiksi. Meski teks yang diberikan cukup panjang, mereka punya kemampuan yang baik dalam menjelaskan hubungan makna antar kalimat atau paragraf hingga memprediksi lanjutan atau akhir cerita berdasarkan bagian tertentu.

"Secara nasional, capaian kompetensi menunjukkan pemahaman tekstual berada pada angka 49,21 persen, pemahaman inferensial sebesar 43,21 persen, serta evaluasi dan apresiasi sebesar 45,32 persen," tutur Rahmawati, dalam keterangan yang diterima detikEdu, ditulis Rabu (4/2/2026).

Berlanjut ke mapel pilihan PPKn dan Antropologi, Rahmawati membeberkan rata-rata nilai nasional mapel ini mencapai 60,91. Mapel PPKn, dipilih oleh sebanyak 1.087.283 peserta didik.

Dari jumlah tersebut, 10 persen murid di antaranya berada pada kategori nilai istimewa, 15 persen kategori baik, 30,9 persen kategori memadai, dan 44,1 persen kategori kurang.

Pada kelompok mapel pilihan, nilai rata-rata tertinggi secara nasional hadir di Antropologi sebesar 70,43 dan Geografi dengan nilai 70,36. Provinsi DI Yogyakarta menjadi daerah dengan capaian tertinggi untuk kedua mapel tersebut.

Nilai rata-rata yang dicapai Provinsi DI Yogyakarta yakni Antropologi sebesar 77,96 dan Geografi sebesar 77,25.

"Capaian ini menunjukkan kekuatan murid Indonesia pada aspek karakter sosial dan literasi," jelas Rahmawati.

Hasil TKA Mapel Matematika

Berbanding terbalik dengan hasil baik yang dicapai murid pada mapel Bahasa Indonesia dan sosial, peserta didik terlihat kesulitan di mapel Matematika. Dari 3.464.569 murid yang mengikuti ujian TKA, materi yang relatif lebih mudah dipahami murid adalah bilangan.

Mereka mampu untuk menentukan gabungan atau irisan dari beberapa himpunan bilangan hingga menerapkan sifat operasi hitung bilangan asli. Namun, untuk materi lain seperti data dan peluang, Rahmawati menilai perlu adanya penguatan.

Hal ini terlihat pada capaian kompetensi antar materi tersebut. Pada materi bilangan, capaian kompetensi murid sebesar 30,9 persen, aljabar 28,40 persen, serta geometri dan pengukuran sebesar 30,41 persen.

Sedangkan pada materi data dan peluang, capaian secara nasionalnya berada pada angka 25,12 persen. Berbagai materi yang diuji berkaitan dengan menginterpretasi penyajian data dalam bentuk diagram garis serta penerapan konsep peluang kejadian majemuk dalam permasalahan kontekstual sehari-hari.

Hasil TKA Mapel Bahasa Inggris

Selain Matematika, kemampuan dalam menyelesaikan mapel Bahasa Inggris murid juga dinilai perlu ditingkatkan.

Dari 3.462.201 peserta di 43.461 sekolah yang mengikuti TKA, murid punya pemahaman yang cukup baik dalam pemahaman tekstual. Capaian pemahaman tekstual tercatat sebesar 32,77 persen dan pemahaman inferensial sebesar 28,53 persen.

Kendati demikian, mereka kesulitan dalam aspek evaluasi dan apresiasi. Aspek yang dimaksud seperti kemampuan membuat penilaian terhadap ide, menanggapi teks secara emosional dan estetis, serta mempertimbangkan dampak penggunaan bahasa terhadap perasaan dan imajinasi pembaca.

Secara nasional, capaian evaluasi dan apresiasi Bahasa Inggris berada pada angka 17,43 persen.

Karakter Sosial-Literasi Sudah Baik, STEM Perlu Diperkuat

Rahmawati menegaskan bila hasil TKA adalah sebuah gambaran utuh mengenai apa mapel yang sudah baik dan mana mapel yang perlu diberi penguatan selama pembelajaran. Hasil TKA juga memperlihatkan capaian nilai murid secara nasional.

Untuk kategori mata pelajaran wajib jenjang SMA/SMK sederajat, Bahasa Indonesia mencatat nilai rata-rata nasional sebesar 55,38. Sementara itu, nilai rata-rata Matematika tercatat sebesar 36,10. Adapun Bahasa Inggris memiliki nilai rata-rata nasional sebesar 24,93.

Berdasarkan hal itu, Rahmawati menegaskan memang karakter sosial dan literasi murid telah berkembang dengan baik. Namun, pada bidang STEM (sains, teknologi, engineering/rekayasa, dan matematika), pembelajarannya perlu mendapatkan penguatan.

"Karakter sosial dan literasi murid telah berkembang dengan baik, sementara penguatan pembelajaran STEM khususnya numerasi, pengolahan data, dan pemecahan masalah menjadi langkah lanjutan untuk melengkapi capaian tersebut secara seimbang dan berkelanjutan," tegasnya.




(det/twu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads