Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak memerlukan pengawalan ketat seperti Ujian Nasional pada masa lalu. Menurutnya, sistem TKA yang diterapkan saat ini telah dirancang untuk menjamin kerahasiaan dan objektivitas soal.
Mu'ti menyinggung sempat beredarnya video siaran langsung peserta TKA tingkat SMA di media sosial, khususnya TikTok, yang memicu kekhawatiran publik soal potensi kebocoran soal. Namun, ia memastikan isu tersebut tidak terbukti.
"Ternyata tidak bocor. Karena antara kanan dengan kiri soalnya beda," ujar Mu'ti saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Persiapan Pelaksanaan TKA Jenjang SD/MI/Sederajat dan Jenjang SMP/MTS/sederajat Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan paket soal antarpeserta, kata Mu'ti, membuat praktik menyontek seperti yang terjadi pada masa lalu menjadi mustahil dilakukan. Ia bahkan mengisahkan pengalamannya saat masih sekolah, ketika sistem ujian masih memungkinkan adanya "kode-kode" jawaban.
"Jadi enggak bisa lagi guru-guru sekarang tuh seperti guru saya zaman dulu. Diajarin clue-nya kalau pertanyaan jawabannya A itu garuknya sekali. Kalau B pegang telinga, diajarin nyontek. Dengan sistem sekarang ini nggak bisa lagi begitu.," katanya.
Selain memiliki beragam paket, soal TKA kini dibuka langsung oleh masing-masing peserta dengan sistem pengamanan berbasis kode individual. Hal ini berbeda jauh dengan model ujian konvensional yang memerlukan penyimpanan soal di kantor polisi, disegel, dan dikawal ketat hingga ke ruang ujian.
"Jadi enggak perlu polisi kawal soal (TKA). Dulu soal ujian nasional dikawal polisi, ditaruh di kantor polisi, disegel. Terus kalau masuk kelas, pengawasnya itu bilang anak-anakku sekalian masih terbungkus ya. Ya pas di situ, di tempat lain siapa yang jamin. Sekarang enggak perlu lagi begitu. Kerahasiaannya bisa kita jamin," ujar Mu'ti.
Mu'ti menyebut, dengan sistem tersebut, hasil TKA dapat menjadi salah satu parameter capaian akademik siswa yang objektif. Meski demikian, ia menekankan bahwa TKA bukan sekadar tes akademik murni.
"TKA tidak akademik murni, karena murid dibiasakan untuk jujur. Itu bagian dari pembentukan karakter," jelasnya.
Selain kejujuran, TKA juga dinilai melatih kesiapan mental siswa dalam menghadapi tantangan. Mu'ti menilai kesiapan psikologis berperan penting dalam keberhasilan peserta saat mengerjakan tes.
Ia bahkan mendorong siswa untuk mengerjakan TKA dengan perasaan gembira. Menurutnya, suasana mental yang positif akan memudahkan siswa dalam menyelesaikan soal.
"Kalau mengerjakan sesuatu dengan gembira, itu menjadi lebih mudah. Kalau ditakut-takuti susah, berat, ruwet. Maka peserta bisa mengalami mental block. Jika seseorang mengalami mental block, sesuatu yang sebenarnya mudah itu menjadi susah," ujarnya.
(pal/nah)











































