Kemendikdasmen Ingin Hadirkan Influencer Pelajar untuk Hadapi Bullying, Ini Tugasnya

ADVERTISEMENT

Kemendikdasmen Ingin Hadirkan Influencer Pelajar untuk Hadapi Bullying, Ini Tugasnya

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 11 Nov 2025 15:30 WIB
Kemendikdasmen Ingin Hadirkan Influencer Pelajar untuk Hadapi Bullying, Ini Tugasnya
Mendikdasmen Abdul Mu'ti, ingin hadirkan influence pelajar untuk hadapi banyaknya kasus bullying. Foto: (dok detikcom)
Jakarta -

Partisipatif menjadi salah satu pendekatan yang akan ditekankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menghadapi kekerasan di satuan pendidikan, termasuk perundungan atau bullying. Bagaimana penerapannya?

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyatakan dalam menghadapi kekerasan dan perundungan diperlukan peran berbagai pihak. Tidak hanya sekolah, tetapi juga orang tua maupun murid.

Pada kesempatan sebelumnya, Sekum PP Muhammadiyah itu telah menyebut akan menghadirkan Duta Antikekerasan di sekolah. Mereka akan menjadi semacam 'influencer' atau pemengaruh di kalangan pelajar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita ingin partisipatif ya, melibatkan orang tua (dan) melibatkan sesama murid. Beberapa waktu yang lalu saya sebut dengan para Duta Antikekerasan atau istilah lain yang nanti bisa kita pakai, mereka ini akan menjadi semacam influencer di kalangan sesama pelajar," katanya usai membuka International Conference Cross-Cultural Religious Literacy, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025).

ADVERTISEMENT

Tugas Influencer Pelajar

Mengutip arsip detikEdu, para influencer pelajar ini nanti direkrut dari kalangan murid. Anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) atau Pramuka juga diperkenankan untuk mendaftar.

Tugas utama influencer pelajar adalah sebagai peer educator atau rekan sebaya. Mereka akan diajarkan bagaimana cara membina relasi yang lebih saling menghormati, terbuka, dan bisa menerima perbedaan yang ada.

"Influencer di kalangan sesama pelajar (hadir) untuk bagaimana mereka ini membina relasi yang lebih saling menghormati, relasi yang lebih terbuka dan sekali lagi saling menerima di antara semua murid dengan berbagai perbedaan," urainya lagi.

Pendekatan Humanis dan Komprehensif

Selain pendekatan partisipatif, ada dua pendekatan lain yang juga akan ditekankan oleh Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam menghadapi kekerasan. Keduanya adalah pendekatan humanis dan komprehensif.

Pendekatan yang lebih humanis akan dilakukan dengan memperkuat peran bimbingan bimbingan dan konseling di sekolah. Sedangkan pendekatan komprehensif akan melihat permasalah secara menyeluruh, termasuk hal-hal yang sifatnya spiritual.

"(Murid) perlu mendapatkan bimbingan dan spiritualitas, ini adalah bagian penting dari tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional itu kan tujuannya diantaranya adalah membangun generasi yang beriman dan bertakwa dan berakhlak mulia nah ini yang coba kita bangun," pungkasnya.




(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads