Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Peran Guru Wali dalam Atasi Kekerasan, Apa Itu?

ADVERTISEMENT

Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Peran Guru Wali dalam Atasi Kekerasan, Apa Itu?

Devita Savitri, Antara - detikEdu
Selasa, 11 Nov 2025 15:00 WIB
Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Peran Guru Wali dalam Atasi Kekerasan, Apa Itu?
Mendikdasmen usai membuka International Conference Cross-Cultural Religious Literacy, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025). Foto: Devita Savitri/detikcom
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menekankan tiga pendekatan dalam upaya memberantas tindak kekerasan di satuan pendidikan. Ketiga pendekatan tersebut adalah humanis, komprehensif, dan partisipatif.

Humanis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan pendekatan yang didasarkan pada asas perikemanusiaan. Pendekatan ini juga menganggap manusia sebagai objek yang terpenting.

Dalam upaya mengatasi kekerasan di sekolah, pendekatan humanis akan memperkuat bimbingan dan konseling yanh disampaikan secara dekat. Dengan demikian, murid bisa bercerita dengan rasa percaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pendekatan yang lebih humanis itu kita mencoba untuk memperkuat bimbingan dan konseling sehingga pendekatannya adalah pendekatan yang head to head, heart to heart gitu. Supaya murid ini bisa bercerita lah dari hati ke hati, dari perasaan yang penuh percaya diri untuk bisa menyampaikan berbagai hal," kata Mu'ti.

Hal itu disampaikannya usai membuka International Conference Cross-Cultural Religious Literacy, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025).

ADVERTISEMENT

Peran Guru Wali

Berbagai hal yang diceritakan murid secara bebas ini nantinya disampaikan kepada guru wali. Menteri Mu'ti menilai guru wali berbeda dengan wali kelas.

Sebelumnya, Kemendikdasmen telah mengeluarkan kebijakan di mana semua guru harus memiliki tugas konseling, walaupun ia bukan guru bimbingan dan koseling (BK). Guru wali memiliki tugas penting dalam mengenali potensi murid, berdialog, dan menjadi penghubung dengan orang tua.

"Tugasnya guru wali ini itu adalah mereka mengenali potensi muridnya kemudian memitigasi, berdialog dan mereka bisa menjadi penghubung antara sekolah dengan orang tua," jelas Sekum PP Muhammadiyah itu.

Menurut Mu'ti selama ini komunikasi antara orang tua dan sekolah belum terjalin dengan baik. Meskipun, beberapa sekolah sudah melakukannya.

Komunikasi yang bisa terjalin dengan baik bisa menjadi sarana agar anak-anak bisa merasa sepeti di rumah. Hal ini juga menyaratkan bila anak diterima di sekolah bagaimana pun keadaanya.

"Komunikasi yang baik itu bisa menjadi sarana agar anak-anak ini merasa at home di sekolah dan keberadaannya diterima apapun keadaan fisiknya, apapun keadaan ekonominya dan mungkin juga capaian akademiknya," tegas Mu'ti.

Melansir Antara, peran guru wali akan dikonversi dengan jam mengajar. Sehingga, guru tidak harus mengajar selama 24 jam dalam satu minggu.

Guru Besar UIN Jakarta itu menyatakan seseorang bisa dirundung karena dia dianggap lemah dibanding yang lain. Untuk itu, pendekatan humanis dihadirkan agar menumbuhkan budaya saling menerima antarsesama.

"Mereka yang selama ini menjadi korban perundungan itu kan yang powerless yang secara power dianggap lebih lemah dari yang lain. Kalau kita mengembangkan sikap yang lebih humanis maka kita bisa mengembangkan budaya saling menerima diantara semua insan pendidikan," pungkasnya.



(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads