Viral 2 Kasus Kekerasan oleh Remaja, KPAI Sebut Faktor Pola Asuh-Kurangnya Panutan

Viral 2 Kasus Kekerasan oleh Remaja, KPAI Sebut Faktor Pola Asuh-Kurangnya Panutan

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 22 Nov 2022 14:00 WIB
Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati m
Wakil Kepala KPAI Rita Pranawati. (Foto: Istimewa)/Viral 2 Kasus Kekerasan oleh Remaja, KPAI Sebut Faktor Pola Asuh-Kurangnya Panutan
Jakarta -

Belum lama ini, viral dua kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja. Pertama kasus pelajar menendang nenek di Tapanuli Selatan dan yang kedua, siswa tendang siswi di Nganjuk, Jawa Timur (Jatim).

Menyoroti tindakan remaja tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kekerasan oleh remaja adalah permasalahan yang kompleks.

Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati menyampaikan, kasus kekerasan yang dilakukan remaja tersebut memang permasalahan yang kompleks. Sebab, terdapat beragam faktor yang mempengaruhi seperti pola asuh hingga situasi di lingkungan sekitar.

"Jadi itu lumayan kompleks, mulai dari situasi pengasuhan anak itu sendiri, kemudian contoh yang ada di sekelilingnya, kemudian bagaimana orang dewasa di sekitarnya membantu untuk anak menemukan identitas diri dan apa proses-proses yang bisa dilalui oleh anak," ungkapnya dalam detikNews , Selasa (22/11/2022).

Faktor Lingkungan hingga Kurangnya Panutan

Rita menilai kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak bisa terjadi karena contoh yang didapatkan dari lingkungan sekitar.

Pihaknya meyakini, para remaja sering kali salah mengekspresikan diri karena kurangnya panutan ataupun referensi.

"Selain itu juga ada perilaku-perilaku yang tidak mudah, misalnya mengekspresikan rasa, misalnya sebal, marah atau tidak suka itu referensinya terbatas, banyak cara yang kurang tepat, misalnya nggak suka terus ditendang. Referensi-referensi karakter itu dilihat sesuai dengan contoh yang ada di sekelilingnya," jelasnya.

Masa Pencarian Jati Diri

Rita juga menjelaskan bahwa masa remaja juga termasuk dalam masa pencarian jati diri.

"Remaja itu kan masa mencari identitas, masa mencari bentuk perilaku, masa mencari perhatian, itu menurut saya fase yang harus dipahami," kata Rita.

Menurut Rita, ada pendekatan tersendiri dalam memperlakukan remaja. Dia menilai remaja yang melakukan kekerasan seperti dalam kasus di Tapsel dan Nganjuk harus ditanggapi dengan cara berbeda.

Misalnya dengan melakukan treatment kepada remaja dengan mendengarkan, menjadi teman, dan tidak interogatif.

"Masa-masa itu sering tidak didapatkan dalam rumah dan itu didapatkan lebih sering didapatkan di luar rumah dari teman sebaya. Untuk menunjukkan identitas itu sering kali dengan cara yang salah. Itu menjadi problem," jelasnya.

Rita menegaskan bahwa remaja harus diberikan perhatian yang ketat. Hal itu, menurutnya, agar para remaja menemukan identitas yang tepat.

"Sehingga kemudian masa remajanya itu bisa menemukan identitas diri, dengan tetap menguatkan karakter humanisme," imbuhnya.

Pentingnya Pendidikan Logika dan Rasa

Merujuk pada dua kasus tersebut, Rita menyebut harus dilakukan pendidikan logika dan rasa kepada remaja. Dia meminta agar latar belakang remaja melakukan aksi kekerasan itu diusut secara mendalam.

"Kalau kita melihat kasus-kasus seperti ini, antara logika, antara rasa tentu harus terdidik. Kita prihatin dengan adanya perilaku-perilaku anak muda yang kondisinya seperti ini. Jadi misalnya melakukan begal, menendang teman, itu harus dikulik, apakah itu menjadi tradisi, ataukah dia menjadi percobaan semata atau dia menjadi hal yang spontan," sebut Rita.

"Kalau dia menjadi tradisi tentu harus ekstra memberikan contoh yang baik, menyalurkan energinya, membangun logikanya bahwa itu tidak boleh. Sekaligus juga memberikan perhatian, kasih sayang, tidak judgement kepada anak itu. Kalau itu spontanitas itu harus diajarkan bagaimana mengendalikan diri agar tidak melakukan kekerasan kepada orang lain," imbuhnya.

Kasus Pelajar Tendang Nenek

Sebagai informasi, sebelumnya telah terjadi kasus pelajar di Tapsel menendang nenek hingga tersungkur viral di media sosial.

Dalam video tersebut, tampak tiga sepeda motor yang berhenti dengan masing-masing ditumpangi dua orang.

Kasus ini dibawa ke kepolisian. Polisi kemudian mengamankan enam pelajar dan memanggil para orang tua dari para pelajar tersebut, pihak sekolah, hingga kepala desa setempat. Polisi juga mencari nenek yang menjadi korban.

Orang tua pelajar telah meminta maaf atas aksi anak-anaknya. Mereka menyampaikan permintaan maaf kepada korban, keluarga korban, dan masyarakat umum.

Siswa Tendang Siswi hingga Tersungkur

Kemudian ada juga kasus kekerasan oleh pelajar di Nganjuk dimulai saat seorang siswa dan siswi adu mulut di lapangan.

Di tengah guyuran hujan, siswa yang memakai jas hujan tiba-tiba melayangkan pukulan kepada siswi berseragam Pramuka. Dia lalu menendang siswi tersebut hingga tersungkur.

Peristiwa yang terjadi di pinggir lapangan itu viral di media sosial. Kini kasus sedang diusut oleh pihak kepolisian. Dilansir dari detikJatim, motif kekerasan oleh remaja ini adalah cemburu.



Simak Video "Berkas Perkara Remaja Bunuh Bocah untuk Dijual Organnya Dikirim ke Jaksa"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia