Viral Pemaksaan Jilbab di Sekolah Negeri Jogja, Ini Tanggapan Pakar

Nikita Rosa Damayati Waluyo - detikEdu
Selasa, 02 Agu 2022 15:00 WIB
Tahun Ajaran Baru 2020/2021 dimulai hari ini. Siswa-siswi di SMA Negeri 2 Kota Bekasi, Jawa Barat pun mengikuti apel Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2020/2021.
Foto: Agung Pambudhy/Ilustrasi MPLS
Jakarta -

Baru-baru ini, sebuah SMA Negeri di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi sorotan publik usai seorang siswi melaporkan dirinya dipaksa mengenakan jilbab di sekolah.

Pemaksaan ini dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) kepada seorang siswi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Bahkan siswi tersebut mengaku mengalami depresi hingga ingin pindah sekolah akibat pemaksaan ini, dikutip dari detikJateng

Bukan Kasus Pertama

Perdebatan tentang pemakaian jilbab di sekolah negeri bukan suatu hal yang baru. Beberapa tahun lalu, perdebatan serupa juga terjadi di Yogyakarta, Banyuwangi, Jakarta, dan beberapa wilayah di Indonesia.

Hasil perdebatan tersebut sudah bisa ditebak. Beberapa sekolah mengungkapkan permohonan maafnya atau mencabut aturan terkait keharusan penggunaan jilbab.

Fenomena ini pun akhirnya menuai beberapa tanggapan pakar pendidikan termasuk Radius Setiyawan, Dosen UM Surabaya yang aktif mengkaji fenomena sosial.

Menurut Radius, hal yang menarik untuk diulas adalah selalu ada usaha untuk mewajibkan penggunaan jilbab di sebuah institusi pendidikan.

"Sekolah negeri sebagai arena bertemunya etnis, ras, dan agama (terutama di sekolah negeri) kerap kali menjadi arena pertarungan identitas. Perdebatan kerap hadir dipicu oleh usaha memaksakan penggunaan jilbab untuk siswi yang merasa tidak menjadi bagian dari identitas tersebut," jelasnya dikutip dari laman UM Surabaya, Selasa (2/8/2022).

Bagaimana Solusinya?

Dalam permasalahan ini, Radius menganjurkan agar negara hadir untuk memastikan tidak ada unsur pemaksaan dalam penggunaan atribut tertentu.

"Negara perlu memastikan hal tersebut karena sekolah sejatinya adalah ruang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," terang pengajar mata kuliah Cultural Studies itu.

Alumnus Kajian Budaya dan Media UGM itu juga menegaskan bahwa sekolah seharusnya mengedepankan moral intelektual. Maksudnya, sekolah harus memastikan tidak ada pemaksaan soal atribut tersebut.

Intinya, persoalan ini perlu diperhatikan oleh negara maupun institusi pendidikan. Sehingga ke depannya, siswa diperbolehkan menggunakan atau tidak menggunakan jilbab di lingkungan tanpa unsur keharusan.

"Tentunya hal tersebut juga berlaku bagi siswa yang ingin menggunakan jilbab di mayoritas yang tidak menggunakan jilbab. Negara harus memastikan juga tidak ada larangan tersebut," tutup Dosen UM Surabaya tersebut.



Simak Video "Tiga Ruang Kelas SD di Grobogan Rusak Parah, Siswa Ujian di Teras"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia