Amankah PTM 100 Persen di Tengah Ancaman Hepatitis Misterius?

Kristina - detikEdu
Rabu, 25 Mei 2022 19:00 WIB
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di SMA Negeri 87, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kapasitas siswa 100 persen sejak Kamis (7/4). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di SMA Negeri 87, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Pemerintah mewajibkan sekolah di wilayah PPKM level 1-3 untuk melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap ancaman kasus hepatitis akut misterius membayangi orang tua siswa.

Aturan PTM tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 01/KB/2022, Nomor 408 Tahun 2022, Nomor HK.01.08/MENKES/1140/2022, Nomor 420-1026 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19.

Dalam SKB Empat Menteri yang terbit awal Mei ini, orang tua masih bisa memilih anaknya untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sampai tahun ajaran 2021/2022 berakhir. Syaratnya dengan melampirkan surat keterangan kesehatan dari dokter.

Sejumlah aturan juga mengalami pelonggaran dalam kebijakan terbaru ini. Di antaranya, kantin sudah boleh dibuka dan kegiatan ekstrakurikuler di luar ruangan sudah boleh dilakukan lagi.

Kemunculan Hepatitis Misterius Menimbulkan Kekhawatiran Orang Tua

Niat baik pemerintah untuk mengembalikan pembelajaran tatap muka yang sempat terhenti akibat COVID-19 ternyata menimbulkan kekhawatiran baru bagi masyarakat. Sejak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan temuan kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak, kekhawatiran akan keamanan PTM 100 persen muncul.

Tiga kasus pertama di Indonesia ditemukan pada 27 April 2022. Ketiganya adalah anak-anak usia di bawah 16 tahun.

Kemenkes mengatakan belum mengetahui secara pasti apakah efek penyebaran hepatitis akut tersebut akan berlangsung dengan cepat layaknya COVID-19. Sebab, proses penyebarannya berbeda.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Muzal Kadim, SpA(K), menjelaskan bahwa penyebab terbanyak terjadinya hepatitis pada anak adalah infeksi virus yang ditularkan lewat saluran cerna.

"Karena ini memang dugaan utama penularan saluran cerna, tentunya, pencegahannya yang terbaik adalah mencegah penularan fecal, oral, penularan lewat mulut," ujarnya pada agenda daring yang diselenggarakan IDAI, Sabtu (7/5/2022) lalu.

Pada Jumat (20/5/2022), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menduga penyakit hepatitis akut misterius pada anak disebabkan oleh infeksi adenovirus.

Adenovirus adalah sejenis virus yang menyebabkan infeksi di saluran pernapasan, mata, dan pencernaan. Virus inilah yang menyebabkan flu dan batuk.

Sejumlah orang tua siswa di Jabodetabek menyatakan kekhawatirannya atas kemungkinan terjadi penularan kasus hepatitis misterius di lingkungan sekolah. Rasa khawatir tersebut turut dialami oleh Tutik (41) yang tinggal di Setiabudi, Jakarta Selatan.

Kedua putrinya masih duduk di bangku kelas 3 SD dan 1 SMP. Meskipun sempat timbul rasa khawatir, terlebih saat baru bangkit dari pandemi COVID-19, menurutnya yang terpenting adalah selalu menjaga protokol kesehatan dan disiplin dalam menjaga kebersihan. Ia juga memilih membawakan bekal dari rumah untuk anaknya, sehingga tidak jajan di sekolah.

"Tapi demi kelancaran belajar anak-anak yang terpenting sekarang masih selalu menjaga protokol kesehatan dan yang pasti mengajak anak-anak tetap menerapkan kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan," ucapnya kepada detikEdu, Rabu (25/5/2022).

Widya (40) juga sempat merasa deg-degan terkait adanya kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak. Sebagai orang tua, ia selalu mengingatkan anaknya yang masih duduk di kelas 3 di SDIT Ruhama Depok ini untuk rajin mencuci tangan dan tidak jajan sembarangan.

Ia juga memilih membawakan bekal dari rumah untuk anaknya. "Anak-anak harus diingetin berkali-kali untuk cuci tangan sebelum makan dan minum. Soalnya anak-anak kan suka lupa. Terus juga anak-anak diingetin biar nggak jajan sembarangan," tuturnya kepada detikEdu, Selasa (24/5/2022).

PGRI Sarankan Perkuat Prokes dan Lakukan Mitigasi Kesehatan

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menekankan betapa pentingnya protokol kesehatan untuk menjadi sebuah kultur, meskipun pandemi COVID-19 sudah kian membaik.

Menurut Ketua Departemen Litbang PB PGRI, Sumardiansyah Perdana Kusuma, protokol kesehatan mengandung kesadaran dan kemampuan untuk menjaga kesehatan, seperti tradisi memakai masker, mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan sebagainya.

"Yang pertama kami dari PGRI memang menganjurkan walaupun pandemi berganti, walaupun pandemi sudah lewat, ya COVID-19 sesungguhnya protokol kesehatan itu menjadi sebuah kewajiban," ucap Sumardiansyah kepada detikEdu, Sabtu (21/5/2022).

Selain itu, dalam rangka mengantisipasi penularan hepatitis akut di kalangan warga sekolah, khususnya siswa, PGRI mendorong agar sekolah melakukan mitigasi kesehatan. Upaya ini dapat dilakukan melalui kerja sama antara instansi pendidikan dan dinas kesehatan.

"Yang kedua, kami mendorong agar sekolah-sekolah yang utama di DKI itu juga bisa memasukkan yang namanya mitigasi kesehatan. Nah, mungkin mitigasi kesehatan ini bisa diperoleh melalui kerja sama antara sekolah, orang tua, kemudian dinas kesehatan atau puskesmas, kemudian dinas pendidikan dan juga berbagai pihak lain," sambungnya.

Mitigasi kesehatan tersebut dapat diimplementasikan melalui program-program sekolah. Baik itu program intrakurikulum, intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler. Begitu kata Sumardiansyah yang juga guru sejarah SMAN 13 Jakarta ini.

4 Tahap Pencegahan Penyebaran Hepatitis Akut

Kemenkes mewanti-wanti masyarakat untuk mewaspadai kasus hepatitis akut misterius yang ditemukan di Indonesia. Kemenkes menyebut ada sejumlah tahapan yang bisa dilakukan masyarakat sebagai langkah antisipasi.

Pertama, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih. Kedua, tidak memakai alat makan bersamaan. Ketiga, mencuci tangan. Keempat, menghindari kontak dengan orang sakit.

Terkait makanan yang aman dikonsumsi terutama ketika jajan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta Lies Dwi Oktavia, turut mengingatkan agar memilih makanan yang sehat, tertutup, dan dimasak dengan sempurna.

"Prinsipnya kan kita kewaspadaan. Kewaspadaan supaya masyarakat agar mewaspadai kalau makan atau jajan, tentu pilih makanan yang tertutup, dimasak sempurna, cuci tangan sebelum makan, kemudian tidak menggunakan alat makan bersama," ucap Dwi dilansir dari detikNews, Rabu (25/4/2022).

Sementara itu, terkait pencegahan penularan hepatitis akut misterius, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyarankan agar masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan dalam hal kebersihan dan konsumsi makanan. Selain itu, memakai masker juga masih perlu digalakkan.

"Ya jauh lebih ditingkatkan kualitas kewaspadaan, kebersihan, konsumsi makanan, dan termasuk masalah perilaku memakai masker di orang-orang sekitar," ucapnya.



Simak Video "Cegah Penularan Hepatitis Akut Lewat PHBS-Perhatikan Konsumsi Makanan"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia