Kemendikbudristek Bicara Soal Learning Loss: Itu Masalah Tiap Negara

Anatasia Anjani - detikEdu
Kamis, 14 Apr 2022 20:00 WIB
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di SMA Negeri 87, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kapasitas siswa 100 persen sejak Kamis (7/4). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Sekolah di Jakarta yang telah menggelar pembelajaran tatap muka.Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Pandemi COVID-19 berdampak pada seluruh aspek termasuk pendidikan. Masalah pendidikan yang dialami yaitu adanya learning loss atau kemunduran secara akademis berkaitan dengan kesenjangan yang berkepanjangan.

Menurut Dirjen GTK Kemendikbudristek Iwan Syahril mengatakan di era pandemi ini tiap negara tentu mengalami learning loss. Hal ini ia ketahui saat melakukan diskusi dengan negara anggota G20 lainnya.

"Pada diskusi negara-negara G20 kemarin, ada pengalaman yang sama dirasakan tiap negara. Mereka sama-sama merasakan learning loss ," ujar Iwan dalam acara Ngopi Sore via Youtube, Kamis (14/4/2022).

"Selain itu pada saat yang sama juga teknologi berkembang cepat namun belum siap akan disrupsi teknologi bahkan negara maju seperti Jerman dan Jepang mengalami kesulitan," tambah Iwan.

Dalam menghadapi learning loss, salah satu solusi yang dilakukan Kemendikbudristek adalah mengeluarkan program Merdeka Belajar. Iwan menambahkan, Merdeka Belajar sendiri telah mendapatkan penilaian positif di depan negara G20.

"Misalnya dalam merdeka belajar ada link and match yang bekerja sama dengan industri. Sehingga ada komunikasi dan saling sharing antara perguruan tinggi dan industri. Negara-negara lain juga menyoroti pentingnya peran pendidikan dan industri," kata Iwan.

Dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, mahasiswa dapat mengikuti magang merdeka atau merdeka mengajar yang menggantikan SKS kuliah. Menurut Iwan langkah tersebut sangat diapresiasi negara lain.

"Kegiatan ini juga memunculkan skill-skill baru seperti berpikir kritis, kerja kelompok, menangani krisis, dan lain sebagainya," papar Iwan.

Adapun Iwan menjelaskan, learning loss yang dihadapi Indonesia itu timpang dan tidak sama tiap daerahnya.

"Kami melihat berbagai intervensi dilakukan dengan keadilan sosial. Misalnya dengan mengadakan pemahaman gizi, program literasi dan numerasi untuk kelompok marginal," jelas Iwan.

Lebih lanjut, masalah learning loss yang ada di Indonesia dapat diatasi dengan adanya gotong royong. Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi yang meningkatkan interaksi antar guru.

"Dalam hal teknologi Kemendikbudristek mengembangkan cara agar guru saling berjejaring sehingga dapat belajar satu sama lain. Guru-guru itu baiknya belajar dengan komunitas. Ketika komunitas terbentuk learning loss bisa selesai. Spirit belajar satu sama lain menjadi sangat penting," ujar Iwan.



Simak Video "Respons Masyarakat Tentang Kebijakan Kemendikbudristek"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia