90 Sekolah Tutup Imbas Kasus COVID-19, P2G Minta Anies Stop PTM 100 Persen

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 26 Jan 2022 14:27 WIB
Kota Depok mulai menggelar kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen hari ini. Seperti apa suasana hari pertama PTM di SMPN 3 Depok? Lihat yuk.
P2G desak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ganti skema PTM 100 persen. Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Sebanyak 90 sekolah menutup pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen imbas temuan kasus COVID-19 pada siswa hingga guru. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mendesak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan kepala daerah sekitar wilayah aglomerasi menghentikan skema PTM 100 persen demi keselamatan dan kesehatan warga sekolah.

"Kami memohon agar Pak Anies mengembalikan kepada skema PTM Terbatas 50 persen. Dengan metode belajar blended learning, sebagian siswa belajar dari rumah, dan sebagian dari sekolah. Metode ini cukup efektif mencegah learning loss sekaligus life loss," kata Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim dalam keterangan tertulis, Rabu (26/1/2022).

Satriwan mengatakan, saran P2G tersebut mempertimbangkan guru-guru dan siswa di DKI Jakarta yang sudah berpengalaman menggunakan skema PTM terbatas 50 persen dengan metode blended learning. Ia menambahkan, pendampingan orang tua selama PJJ juga akan membantu siswa yang relatif sudah didukung dukungan gawai pintar, komputer, sinyal internet, dan infrastruktur digital.

Pelanggaran PTM 100 Persen

Di sisi lain, sambungnya, P2G menilai penerapan PTM 100 persen tidak sepenuhnya aman, lancar, dan efektif. Satriwan mengatakan, P2G menemukan banyak pelanggaran selama PTM 100 persen.

Ia menjelaskan, beberapa pelanggaran PTM 100 persen tersebut di antaranya jarak 1 meter dalam kelas sulit dilakukan karena ruang kelas relatif kecil ketimbang jumlah siswa dan ruang sirkulasi udara tidak ada atau ventilasi udara tidak dibuka karena kelas ber-AC. Di samping itu, siswa masih berkerumun dan nongkrong bersama sepulang sekolah, serta masih ada kantin sekolah buka secara diam-diam.

Kondisi tersebut, sambungnya, membuat para guru, orang tua, dan siswa merasa cemas dalam melaksanakan PTM 100 persen yang masih berjalan. Sebab, PTM 100 persen di tengah kasus COVID-19 DKI tidak aman bagi guru dan siswa.

Pelanggaran sepanjang PTM 100 persen menurutnya muncul akibat lemahnya pengawasan dari Satgas Covid-19 termasuk dinas terkait. Ia menekankan, kedisiplinan terhadap prokes harus digaungkan terus mulai dari rumah, di jalan, angkutan umum, di sekolah, dan pulang sekolah.

Satriwan menambahkan, P2G berharap Pemprov DKI Jakarta tidak meremehkan kondisi tersebut dan menunggu hingga gelombang ketiga kasus Covid-19 memuncak.

"Coba rasakan bagaimana guru dan siswa berinteraksi kayak sekolah normal, sebab 100 persen siswa masuk setiap hari. Sementara itu angka kasus meningkat tajam tiap hari. Ini mengganggu pikiran dan kenyamanan belajar di sekolah," kata Satriwan.

Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan, P2G meminta dinas kesehatan provinsi juga gencar mendeteksi dan mitigasi kasus COVID-19. Iman mengatakan, tindakan tersebut penting mengingat Jakarta belum 1 bulan menerapkan PTM 100 persen.

"P2G meyakini, sebenarnya yang tutup lebih dari 90 sekolah. Sebab ada orang tua yang belum lapor ke sekolah dan Disdik," kata Iman.

"Kami meminta Dinas Kesehatan provinsi gencar melakukan swab PCR dan active case finding kepada sekolah, siswa, dan guru, untuk mendeteksi dan memitigasi kenaikan kasus," imbuhnya.

Simak Video 'Omicron Meningkat, Menko PMK: PTM Tetap Berjalan':

[Gambas:Video 20detik]



(twu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia