Ortu Was-was Anak Harus PTM 100 Persen? Psikolog Pendidikan Sarankan Ini

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 06 Jan 2022 19:00 WIB
PTM 100 persen di sekolah DKI Jakarta mulai dilaksanakan hari ini, Senin (3/1/2021). Bagaimana fakta terbarunya hari ini?
Foto: A.Prasetia/detikcom
Jakarta -

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara penuh dengan kapasitas murid 100 persen sudah diwajibkan di beberapa wilayah tertentu sesuai Keputusan Bersama Empat Menteri akhir Desember 2021 lalu.

Kebijakan itu menuai pro dan kontra. Orang tua murid pun tak sedikit yang mengkhawatirkan anaknya ketika harus berada di sekolah minimal selama enam jam.

Menghadapi keadaan baru di mana siswa sudah bisa kembali ke sekolah ini, psikolog pendidikan dari Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Tangerang Selatan, Runi Rulanggi, mengatakan akan selalu ada peluang dan tantangan dalam kebijakan semacam ini.

"Selalu ada risiko, apalagi di masa sekarang yang kita tidak tahu kita akan terpapar oleh ancaman apa. Selalu ada risiko bahwa akan ada yang seperti COVID-19 ini lagi sih, yang akan terjadi," kata dosen lulusan Magister Profesi Psikologi Pendidikan UGM Yogyakarta ini dalam keterangannya, Kamis (6/1/2022).

Tips agar Orang Tua Tidak Was-was PTM 100%

Menurut perempuan yang akrab disapa Anggi ini, orang tua perlu pelan-pelan menggeser pola pikir mengingat kenyataannya saat ini anak-anak sudah bisa PTM bahkan secara penuh.

"Jadi saya rasa sih untuk orang tua, pelan-pelan ya untuk mengubah mindset-nya untuk pelan-pelan mengembalikan anak ke sekolah," ujar

Anggi menyebutkan, dampak yang dihadapi anak-anak saat tidak sekolah akan lebih besar dibandingkan ketakutan orang tua atas ancaman COVID-19. "Sebenarnya ada treatment juga sih, untuk sekolah bagaimana caranya supaya orang tua merasa tenang ketika anaknya kembali ke sekolah," imbuhnya.

Dia menyebutkan, ada dampak learning loss. "Istilahnya mohon maaf ya, dalam tanda kutip gitu, pilihannya kalau misalnya kita di rumah itu akan terpapar bodoh atau di luar terpapar sakit gitu kan, ya," pungkas Anggi.

Dirinya mengatakan, dampak 'terpapar bodoh' ini lebih besar daripada ancaman virus COVID-19. "Karena kita tahu kan, pemerintah juga sudah berupaya untuk menanggulangi virus ini, dan sudah sedemikian orang diberi vaksinasi, dan sedemikian orang sudah diberi edukasi bagaimana caranya tetap menjaga prokes dan lain-lain," paparnya.

Sehingga, menurutnya sekarang tinggal bagaimana orang tua mengurangi ketakutan dan pelan-pelan memberanikan diri mengubah pola pikir untuk mengembalikan anak-anaknya ke sekolah.

"Interaksi dengan teman itu tidak bisa digantikan kan, dengan interaksi virtual. Tetap saja ada perbedaan. Interaksi dengan guru secara nyata tidak bisa digantikan dengan interaksi secara virtual, walaupun pengetahuannya dapat," ungkap Anggi. Pakar psikologi tersebut menyebutkan, kedua hal ini akan lebih bermakna ketika dilakukan secara langsung.

Saat ini menurut Anggi, sudah saatnya untuk mengedukasi orang tua mengembalikan putra-putrinya ke sekolah. Orang tua juga dapat belajar dari motivasi-motivasi yang ada di media sosial agar mereka merasa yakin.

Katakan Ini pada Putra Putri

Anggi menyatakan, orang tua perlu tetap menjaga prokes di lingkungan mereka tinggal. Contohnya dengan mendaftarkan anaknya vaksinasi COVID-19.

Selanjutnya, orang tua wajib terus menjaga kesehatan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan dan menjalankan segala macam prokes yang dianjurkan Kementerian Kesehatan.

Orang tua bisa mengingatkan anaknya untuk tetap menjaga prokes dengan bahasa yang sederhana, misalnya untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas.

Saat menyampaikan hal semacam ini pada anak-anak yang lebih muda, perlu diterapkan bahasa yang lebih sederhana dibandingkan pada yang lebih tua.

"Nak, kamu akan kembali ke sekolah. Tapi, akan ada yang berbeda dengan sebelum masa pandemi. Nah, sekarang ketika di sekolah jangan lupa untuk cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas dan jaga jarak dengan teman," kata Anggi mencontohkan cara mengingatkan putra-putri.

Di samping itu, saat para siswa sudah ikut PTM seperti saat ini, orang tua perlu menyampaikan agar anak-anaknya pelan-pelan kembali ke ritme sebelum pandemi. Sampaikan pada putra-putri bahwa mereka boleh bermain bersama teman-teman, tetapi dibatasi dengan prokes.

Anggi membenarkan bahwa para peserta didik bisa saja akan lupa melakukan prokes sesekali. Namun ketika orang tua terus mengingatkan secara konsisten, maka anak kecil pun akan memahami.

Ketika kembali ke sekolah, anak pun juga akan menghadapi tantangan selain harus mematuhi prokes dengan ketat. Pasalnya selama hampir dua tahun mereka harus mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Pertama mager (malas gerak) kali ya. Sudah terbiasa dengan ritme di masa pandemi yang istilahnya habis mandi tinggal pakai baju langsung berhadapan dengan tablet, laptop, kita langsung bisa ketemu," ujar Anggi.

Kemudian, selama dua tahun ini tentunya ada gap pengetahuan yang bisa saja membuat siswa lupa atau kurang memahami materi selama PJJ.
Menurutnya, hal itu adalah tantangan paling besar bagi pendidik saat PTM.

Apalagi, hal ini dapat berimbas pada jenjang-jenjang berikutnya. Dengan kondisi saat ini, Anggi menyatakan dibutuhkan matrikulasi untuk membantu para murid yang tertinggal.



Simak Video "Nadiem Makarim: Jika PPKM Level 4 Artinya PTM Dihentikan"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia