Melihat Sekolah Film Kulon Progo, Wadah Anak Muda Ciptakan Film Berkualitas

Jalu Rahman Dewantara - detikEdu
Senin, 13 Des 2021 07:00 WIB
Proses produksi film oleh Siswa Sekolah Film Kulon Progo.
Foto: Jali Rahman Dewantara
Kulon Progo -

Pemkab Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki wadah khusus bagi anak-anak muda yang tertarik terjun ke dunia perfilman. Bernama Sekolah Film Kulon Progo, program ini bagai kawah candradimuka yang menciptakan sineas profesional asli Bumi Menoreh. Bagaimana kisahnya?

Sekolah Film Kulon Progo pertama kali muncul pada 2019. Dimotori oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) setempat, sekolah ini merupakan tempat bagi muda mudi Kulon Progo yang bercita-cita menjadi sineas profesional.

"Tujuan utama menghadirkan sekolah film ini adalah untuk mendidik kawula muda Kulon Progo, yang ingin jadi sineas. Di sini mereka dibimbing oleh para mentor yang memang sudah lama berkecimpung dalam dunia perfilman," ujar Pengampu Sekolah Film Kulon Progo, Gunawan Edi Nugroho, saat ditemui detikcom, belum lama ini.

Gunawan yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Pemeliharaan Seni, Disbud Kulon Progo bercerita minat generasi muda mengikuti sekolah ini tergolong tinggi. Hal itu terlihat pada awal dibukanya sekolah film, di mana banyak muda mudi yang tertarik untuk gabung. Bahkan calon siswa itu tak hanya berasal dari Kulon Progo saja, tetapi juga dari wilayah lain di kawasan DIY dan Jawa Tengah.

"Tinggi banget, sampai hampir ratusan dan itu tak hanya Kulon Progo, ada yang dari luar. Tetapi mohon maaf, kami hanya memiliki 40 kuota saja, dan diutamakan warga asli Kulon Progo," jelas Mas Gun, sapaan akrabnya.

Sebelum masuk ke sekolah film, ada proses penyaringan untuk menentukan 40 siswa terpilih. Para kandidat diutamakan warga asli atau tinggal di wilayah Kulon Progo. Selanjutnya diprioritaskan calon peserta yang masih berusia muda yakni kisaran 17 hingga 30 tahunan.

Dari proses seleksi ini, akhirnya terpilih 40 anak-anak muda menjadi siswa sekolah film. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar SMA sederajat, mahasiswa, jurnalis, karyawan hingga konten kreator video.

Seluruh siswa itu kemudian menjalani pelatihan yang dimentori oleh 3 sineas profesional yaitu Agus Kencrot, Yopi Kurniawan dan Seno Aji Julius. Para mentor memberikan materi dasar tentang perfilman sebagai landasan sebelum mulai membuat film.

Usai pemaparan materi, baru kemudian masuk ke praktik pembuatan film. Pada tahap ini siswa diajarkan langsung bagaimana mengoperasikan peralatan film, sekaligus tata cara produksi hingga layak ditayangkan. Lokasi pelatihan berpindah-pindah, tapi dipusatkan di Taman Budaya Kulon Progo, Kapanewon Pengasih.

Di tahun perdana sekolah ini berdiri, para siswa tidak langsung membuat film, melainkan video pendek berisikan iklan layanan masyarakat. Barulah pada tahun kedua yaitu 2020 karya film berhasil diciptakan. Pada tahun itu para siswa mampu memproduksi 4 film masing-masing berjudul Juang, Manah, Gumun dan Teguh. Keempat film yang produksinya didanai Dana Keistimewaan DIY berdurasi sekitar 25 menit.

Proses produksi film oleh Siswa Sekolah Film Kulon Progo.Proses produksi film oleh Siswa Sekolah Film Kulon Progo. Foto: Jali Rahman Dewantara

Seluruh film itu mengangkat potensi yang ada di Kulon Progo, mulai dari pariwisata, budaya, olahraga, hingga kesenian yang dibalut dengan kearifan lokal serta problematika daerah.

Dalam film berjudul Juang, penonton disuguhi bagaimana perjuangan seorang pelajar bernama Juang dalam menemukan arti kedamaian. Juang digambarkan sebagai pentolan pelajar yang gemar tawuran. Namun di akhir cerita, Juang akhirnya sadar bahwa tidak ada yang lebih baik dari kedamaian.

Film berjudul Manah menggambarkan olahraga panahan yang dipadukan dengan kegiatan jemparingan. Jemparingan sendiri merupakan olahraga panahan khas Kerajaan Mataram. Olahraga ini berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau dikenal juga dengan jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta.

Untuk film Gumun mengisahkan tentang warga desa yang terlalu kagum dengan megahnya Yogyakarta International Airport (YIA). Namun kekaguman yang berlebihan itu justru tidak baik bagi masyarakat. Dalam film ditekankan agar masyarakat jangan hanya kagum, tetapi juga bisa terlibat langsung dalam peningkatan ekonomi seiring hadirnya YIA.

Adapun film Teguh bercerita tentang drama keluarga perdesaan. Film ini memiliki tokoh utama bernama Teguh yang selalu teguh dalam menghadapi setiap cobaan.

Tak sampai di situ, pada tahun ketiga, dengan personil yang sama, sekolah ini kembali memproduksi film, tetapi kini dengan durasi lebih panjang, berkisar 1-2 jam. Ada dua film yang diproduksi yakni berjudul Lenggok Wening dan Mulang Maling Malang.

Lenggok Wening sendiri bercerita soal perempuan disabilitas yang ingin jadi penari. Banyak rintangan yang dilalui. Namun akhirnya berhasil mewujudkan impiannya. Adapun film Mulang Maling Malang, merupakan film drama komedi tentang aksi pencurian rumah kosong tempat seorang pria yang sedang menjalani isolasi mandiri karena terpapar COVID-19. Ada pesan tersirat dalam film ini, salah satunya tentang bagaimana agar masyarakat lebih mematuhi protokol kesehatan (Prokes).

"Film-film ini jadi semacam media promosi daerah, beberapa ada yang kemudian diikutkan festival," ucap Mas Gun.

"Para siswa jebolan sekolah film ini sekarang juga kelarisan, jadi mentor-mentor pembuatan video atau film untuk teman-teman karang taruna," sambungnya.

Salah satu siswa Sekolah Film Kulon Progo, Wahyu Naufal (26) mengatakan dirinya sudah lama berminat menekuni dunia perfilman. Karena itu saat Disbud Kulon Progo, meluncurkan sekolah ini, ia langsung mendaftar.

"Karena memang saya sudah lama suka hal-hal terkait perfilman meski latar belakangnya saya adalah mahasiswa pertanian. Di sini saya benar-benar belajar bagaimana to cara buat film, dari dasar sampai akhirnya bisa produksi," ucap pria asal Sentolo, Kulon Progo itu.

Di sekolah Film, Naufal diplot sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Bidang ini tak lepas dari kepiawaiannya mengoordinir kru serta menulis cerita-cerita panjang.

"Saya dari dulu memang suka menulis, dan di sini ternyata ditempatkan sebagai penulis naskah, juga sutradara. Untuk penulis naskah sebelumnya saya memang gemar bikin karangan gitu, sehingga diplot di situ," ucapnya.

Naufal pun berharap, suatu hari nanti ia bisa menjadi seorang sineas profesional. Menurutnya sekolah film ini jadi batu loncatannya untuk berkiprah dalam dunia perfilman nasional.

"Harapan saya dan tentunya teman-teman di sini, pasti ingin ke sana (jadi sineas), semoga dapat terwujud," ujarnya.

Upaya Mencari Bibit Muda Sineas Profesional

Salah satu mentor Sekolah Film Kulon Progo, Agustinus Budi Setyanto, atau akrab disapa Agus Kencrot mengatakan Sekolah Film Kulon Progo menjadi satu-satunya program pencarian sineas muda yang dimotori pemerintah. Sejauh ini baru Kulon Progo yang getol dan memiliki perhatian terhadap generasi muda calon sineas profesional.

"Sejauh yang saya tahu, ini baru pertama kali ada di Indonesia, program ini sangat bagus karena kita bisa tahu bahwa di sini, Kulon Progo, ternyata banyak muda-mudi yang berbakat calon penerus perfilman Indonesia," ucap Agus.

Proses produksi film oleh Siswa Sekolah Film Kulon Progo.Proses produksi film oleh Siswa Sekolah Film Kulon Progo. Foto: Jali Rahman Dewantara

Pria yang pernah terlibat dalam pembuatan 9 Film Nasional di antaranya Dilan 1991 (2019), Bumi Manusia (2019), Malik dan Elsa (2020) hingga Love of Fate (2021) ini menuturkan para siswa di Sekolah Film Kulon Progo benar-benar digembleng agar menjadi sineas profesional. Mereka dididik untuk mengetahui bagaimana alur pembuatan film, hingga ke pemasarannya.
Menurut Agus, seluruh siswa ini memiliki bakat tersendiri, sesuai dengan bidang yang mereka sukai.

"Dari proses pelatihan ini, kita tahu mana yang berbakat menulis naskah, sutradara, editing, lighting dan sebagainya. Dari sifu kemudian kita arahkan mereka sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Hasilnya bisa kita lihat film yang telah mereka produksi," ucap asal Sleman, DIY ini.

Agus pun optimistis, siswa jebolan sekolah film Kulon Progo dapat berkecimpung dalam dunia perfilman nasional di kemudian hari. Ini karena ia melihat siswa punya keinginan besar untuk jadi sineas profesional.

"Saya optimis itu, melihat bagaimana mereka mau belajar, memperbaiki kesalahan-kesalahan, lalu jadilah produk film yang memang berkualitas," pungkasnya.



Simak Video "Antisipasi Gagal Panen, Petani Kulon Progo Belajar Ilmu 'Titen'"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia