Psikolog Sarankan 7 Trik Ini buat Siswa yang Gagal Libur Nataru

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 07 Des 2021 16:30 WIB
Siswa jenjang TK hingga SMA di Kota Cimahi mulai jalani kegiatan sekolah tatap muka hari ini. Kegiatan itu digelar dengan terapkan protokol kesehatan ketat.
Bagaimana trik agar tetap bisa merasakan liburan tanpa libur Nataru? Berikut tips dari psikolog. Foto: Whisnu Pradana/Detikcom
Jakarta - Berbagai sekolah di Indonesia meniadakan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sesuai Inmendagri, Surat Edaran (SE) Kemendikbudristek, dan SE Dinas Pendidikan daerah setempat untuk menekan angka COVID-19. Beberapa sekolah di antaranya sudah mengumumkan jadwal libur akhir semester ganjil 2021/2022 dipindahkan setelah 2 Januari 2022.

Sementara ada juga yang belum merilis edaran resmi. Pada periode Nataru 24 Desember 2021-2 Januari 2022, sejumlah sekolah mengganti libur dengan menjadwalkan kegiatan daring dan school project.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Jovita Maria menuturkan, kekecewaan siswa atas peniadaan libur Nataru dan libur akhir semester yang belakangan dituangkan di media sosial merupakan hal wajar. Sebab liburan sudah ditunggu dan disiapkan setelah sekolah dan ujian.

"Semua orang butuh liburan. Dan memang liburan itu penting, enggak cuma buat anak-anak, tapi juga remaja, dan orang dewasa," kata Jovita pada detikEdu, Selasa (7/12/2021).

Jovita menuturkan, libur panjang seperti libur Nataru penting secara psikologis. Sebab, liburan sudah menjadi tujuan dan semacam reward bagi diri sendiri setelah aktivitas yang padat dan melelahkan. Di samping itu, para siswa juga sudah hampir 2 tahun tidak liburan karena pandemi.

Jadwal pengganti libur akhir semester ganjil setelah periode Nataru, kata Jovita, merupakan usaha terbaik yang bisa dilakukan sekolah. Jadwal yang tak terlalu jauh dari jadwal semula, tuturnya, baik agar siswa tidak kehilangan momen Nataru.

Kendati penggantian libur akhir semester dijadwalkan Januari 2022 di beberapa sekolah, sambungnya, orang tua dapat mengurus jadwal cuti agar dapat dipakai berlibur bersama anak.

Di sisi lain, Jovita menekankan, tujuan dan makna liburan yakni untuk menjadi happy dan sehat. Liburan ke luar kota dan di keramaian di masa pandemi, sambungnya, justru dapat memicu was-was dan berisiko menaikkan angka COVID-19.

"Saya percaya pemerintah mengeluarkan kebijakan ini sudah dipikirkan matang sebelumnya, sudah tahu angka statistiknya seperti apa. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi itu seperti apa. Membaca data-data (COVID-19) kemarin dan adanya varian baru, jadi tetap utamakan kesehatan," tuturnya.

Lantas, bagaimana memenuhi kebutuhan liburan saat libur Nataru ditiadakan?

Trik Liburan Tanpa Libur Nataru buat Siswa

1. Menyiasati Durasi Liburan Harian

Jovita menjelaskan, konsep liburan pada dasarnya melakukan sesuatu yang menyenangkan, keluar dari rutinitas yang menjenuhkan, beristirahat, menyegarkan kembali badan, pikiran, dan jiwa. Prinsip ini, tuturnya, dapat disesuaikan dengan durasi libur yang didapat, baik libur harian, mingguan, bulanan, per enam bulan, dan tahunan.

Jika belum ada tanda-tanda jadwal pengganti libur semester ganjil dari sekolah, kata Jovita, maksimalkan hari-hari sekolah daring dan akhir pekan untuk libur yang bersifat me-time. "Jadi kata lain liburan itu me-time, yaitu melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan bagi kita," tuturnya.

Ia mencontohkan, beberapa kegiatan harian yang bisa jadi jadwal me-time di antaranya jalan ke taman 30 menit, ke kebun, dan ruang publik dekat rumah, bersepeda tiap jam 4 sore, dan lain-lain.

Prinsipnya, imbuh Jovita, panjang-pendek durasi liburan tidak menentukan kesehatan mental pascaliburan. Makna liburan yang terpenuhilah, menurutnya, yang punya andil.

"Tujuh hari kalau keluar kota, masing-masing sibuk, sama saja nggak liburan. Bandingkan dengan 3 hari tapi tinggalin gadget dan quality time," tuturnya.

2. Liburan Sambil Cramming?

Bagi siswa yang sedang bersiap Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), kata Jovita, bisa mencoba mengatur time schedule kegiatan sekolah daring, persiapan UTBK, dan liburan. Ia mengingatkan, liburan di masa Nataru tetap perlu mematuhi prokes dan kebijakan pemerintah.

"Misalnya atur waktu school project, lalu jam sekolah, lalu UTBK 2-3 jam, lalu tetap libur, terutama di Sabtu dan Minggu. Jadi liburan tetap bisa harian mingguan, sambil persiapan UTBK. Arrange waktu untuk diisi kegiatan menyenangkan dan beda dengan biasanya. Jika bisa jalan, ganti destinasi ke dalam kota," tuturnya.

3. Liburan Kecil di Rumah

Libur kecil di rumah dan pekarangan bisa jadi alternatif untuk merasakan liburan di periode Nataru. Jovita mencontohkan, berkebun, membuat kemah kecil dengan teman dan keluarga, api unggun mini, dan barbeku sederhana juga bisa meredakan lelah dari rutinitas.

4. Destinasi Dalam dan Pinggir Kota

Jika memungkinkan, kata Jovita, ganti destinasi dengan jalan-jalan ke pinggir kota yang tidak memakan waktu banyak seperti ke luar kota sambil menerapkan prokes. Ganti destinasi, tuturnya, membantu siswa tetap merasakan liburan.

Kendati tidak ke Labuan Bajo atau Bali, siswa tetap bisa ke curug, Sentul, dan lain-lain di dalam kota yang tidak ramai sambil menerapkan prokes.

5. Tur Lokal

Jalan dengan pemandu atau local guide, kata Jovita, bisa juga dijadikan alternatif liburan dalam kota. Sebab, banyak hal yang bisa jadi belum diketahui dan belum dikunjungi, seperti ke museum-museum dan kota lama.

6. Buat Itinerary


Membuat itinerary dan merencanakan liburan, kata Jovita, membantu memunculkan hormon kesenangan atau endorfin. "Jadi merencanakannya saja udah sebuah kesenangan," tuturnya.

Ia mengatakan, siswa bisa merancang kegiatan di luar rutinitas setiap hari di periode Nataru atau hari pengganti libur semester untuk merasakan liburan. Menyusun itinerary, tuturnya, bisa dilakukan setelah sekolah daring, terutama jika sekolah memberi jadwal mata pelajaran yang tidak terlalu berat, seperti pendidikan karakter, kepemimpinan, dan rohani.

"Jadi susun jadwal, hari Senin barbeku, kemah, nginep, besoknya berkebun dan makan dari hasil kebun sendiri, arrange dengan hal-hal kreatif dan unik alternatif, jadi tetap dapat makna liburan seperti, refreshed, hilang capek, dan seneng-senengnya dapet," tuturnya.

Ia menambahkan, orang tua juga dapat membantu siswa untuk menyusun itinerary dan destinasi pengganti setelah mendapat surat edaran dari sekolah tentang jadwal terbaru anak.

7. Penting! Komunikasi dengan Orang Tua

Jovita menuturkan, komunikasi orang tua dan siswa penting untuk memaknai liburan tetap bisa diadakan dengan penggantian jadwal dan penggantian destinasi. Jika ada libur pengganti akhir semester, sambungnya, orang tua dan siswa juga bisa menyiapkan dua tahap liburan, seperti libur harian di periode Nataru dan libur ke destinasi baru di masa pengganti libur semester.

Jovita menuturkan, bagi siswa usia praremaja dan remaja, periode Nataru punya moral pembelajaran bahwa kian dewasa, kian mendapati bahwa segala sesuatu tidak harus berjalan sesuai rencana dan ekspektasi. Untuk itu, wajar untuk merasakan kekecewaan dan menceritakannya pada orang tua dan teman. Yang penting, tuturnya, siswa bisa bounce back dan do something atas keadaannya.

"Jadi ketika ada hal yang nggak sesuai ekspektasi, buat plan b, bikin plan c, dan plan d. Jadi tetap punya daya juang di situ," tutupnya.

Gimana detikers, mau pake trik yang mana nih?



Simak Video "Polri Kerahkan 103.190 Personel Amankan Natal dan Tahun Baru 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia