Kisah Tamansiswa Kolab dengan ABRI, Dirikan SMA Taruna Nusantara

Tim detikcom - detikEdu
Sabtu, 16 Okt 2021 18:10 WIB
Presiden Jokowi menerima kunjungan siswa SMA Taruna Nusantara Tahun 2018, di Istana Negara, Jakarta.
Presiden Jokowi menerima kunjungan siswa SMA Taruna Nusantara Tahun 2018, di Istana Negara, Jakarta. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Detikers pasti tahu Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Hampir satu abad yang lalu Ki Hajar mendirikan organisasi pendidikan yang dinamakan Tamansiswa di Yogyakarta.

Sejarah kemudian mencatat, Tamansiswa punya peran penting dalam pendirian salah satu sekolah menengah atas terbaik di Indonesia, SMA Taruna Nusantara bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI - kini TNI). SMA ini merupakan sekolah berasrama berbasis semi militer yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Mantan Pengurus Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki R. Bambang Widodo menuturkan pendirian SMA Taruna Nusantara berawal dari hadirnya Panglima ABRI Jenderal LB Moerdani atau Benny Moerdani dalam sarasehan kebudayaan Taman Siswa pada 20 Mei 1985 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Saat itu, Ketua Majelis Luhur Taman Siswa dijabat oleh Ki Suratman yang juga Ketua Komisi IX/Pendidikan DPR RI. Ki Ratman merupakan tokoh senior Tamansiswa yang telah memegang jabatan tersebut sejak 1975.

Salah satu agenda dalam sarasehan tersebut, berziarah ke makam pahlawan nasional yang juga penggagas organisasi Budi Utomo, Wahidin Sudirohusodo di TMP Mlati, Sleman dan makam Ki Hajar Dewantara di Taman Wijaya Brata, Umbulharjo, Yogyakarta.

Ternyata jenderal yang disegani dengan latar belakang belakang intelijen itu kembali hadir pada sarasehan kebudayaan Tamansiswa setahun kemudian bersama Menteri Penerangan Harmoko.

Menurut Bambang Widodo, ketika itu Harmoko berpidato dengan mengungkapkan bahwa Tamansiswa merupakan pondok kebangsaan. Benny Moerdani juga turut bicara dalam sarasehan yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa tersebut.

Jenderal kelahiran Cepu, Jawa Tengah pada 2 Oktober 1932 itu menyinggung persoalan bagaimana menciptakan kader-kader masa depan yang memiliki wawasan kebangsaan dan kebudayaan.

"Panglima ABRI kemudian mencetuskan bagaimana jika mendirikan perguruan taman madya nusantara," ujar Ki Bambang yang juga Ketua Umum Badan Musyawarah Musea (Bahramus) DI Yogyakarta atau organisasi wadah museum di Yogyakarta pada detikedu, Jumat (15/10/2021).

SMA Taruna Nusantara MagelangSMA Taruna Nusantara Magelang Foto: Bagus Kurniawan/detikcom

Seperti diketahui, pada 1988 Presiden Soeharto mengganti Panglima ABRI dan menempatkan Benny Moerdani sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Soeharto kemudian menunjuk Jenderal Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI.

Namun ide Jenderal Benny Moerdani tak terkubur. Gagasannya kemudian dilanjutkan Try Sutrisno. Akhirnya, menurut Ki Bambang pada 20 Mei 1989 bertempat di Balai Persatuan Taman Siswa, kesepakatan kerja sama antara ABRI dan Tamansiswa diteken.

Isi kesepakatan tersebut antara lain Tamansiswa membentuk Yayasan Kebangkitan Nasional sedangkan ABRI mendirikan Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman. "Kedua yayasan ini lalu membentuk Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara," ujar Ki Bambang.

Lembaga ini kemudian mulai membangun SMA Nusantara pada 1989. Kampusnya menempati lahan seluas 18.5 hektar dan terdiri dari komplek akademis, asrama siswa, dan komplek perumahan pamong (guru), di atas tanah milik Akademi Militer.

Dalam masa pembangunan, tokoh-tokoh Tamansiswa seperti Ki Suratman dan Ki Hariyadi merancang logo SMA Taruna Nusantara. Ki Suratman juga menggubah Mars Taruna Nusantara bersama-sama Ki Musman yang menuliskan syairnya.

Hanya dalam waktu satu tahun, proyek tersebut berhasil dirampungkan. Panglima ABRI Try Sutrisno meresmikan SMA Taruna Nusantara pada 14 Juli 1990. Ketua Majelis Luhur Taman Siswa bersama-sama Panglima ABRI menjadi pelindung sekolah tersebut.

Selain itu, Ki Soenarno Hadiwijoyo dari Tamansiswa Jakarta ditempatkan sebagai wakil kepala sekolah. Sebanyak sembilan pamong atau guru Taman Siswa dari berbagai daerah ditarik untuk memperkuat SMA Taruna Nusantara.

"Waktu itu pamong dari Tamansiswa juga mengajar untuk memberi wawasan kebudayaan. Modelnya memang pondok asrama seperti yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara. Pamongnya ada di situ sebagai pengasuh," kata Ki Bambang.

Namun belakangan, jumlah pamong dari Tamansiswa terus merosot dan kini tersisa satu orang. Ki Bambang mengakui hal tersebut disebabkan Tamansiswa kedodoran memberikan pamong dengan kualitas yang diharapkan SMA Taruna Nusantara.

Simak Video "Kemenkes Sebut Klaster Sekolah Banyak Terjadi pada Siswa SMP dan SMA"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia