Jejak Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Dunia Pendidikan

Tangan Kanan Ki Hajar Dewantara dari Surakarta

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Minggu, 02 Mei 2021 17:01 WIB
Ki Sarmidi Mangunsarkoro berbincang bersama Presiden Sukarno (repro buku Guru Patriot)
Foto: Ki Sarmidi Mangunsarkoro berbincang bersama Presiden Sukarno (repro buku Guru Patriot)
Jakarta - Ki Mangunsarkoro tidak asing di beberapa kota besar di Indonesia. Hanya saja nama ini lebih dikenal sebagai nama jalan. Ki Mangunsarkoro bahkan disematkan sebagai salah satu nama jalan di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat.

Siapakah sebenarnya tokoh ini sehingga namanya diabadikan menjadi nama jalan di sejumlah kota di Indonesia? Ki Mangunsarkoro lahir 23 Mei 1904 di Colomadu, Surakarta, Jawa Tengah.

Namanya sebenarnya hanya Sarmidi. Mangunsarkoro adalah nama ayahnya. Ayah Sarmidi ini seorang abdi dalem Keraton Surakarta. Seperti dikutip dari buku Guru Patriot Biografi Ki Sarmidi Mangunsarkoro karya RH. Widada, ayahnya kemungkinan besar adalah kebayan atau pembantu wedana untuk tugas tertentu.

Menurut analisis RH Widada, nama Mangunsarkoro mungkin merupakan pemberian dari Puri Mangkunegaran. Berkaitan dengan tugasnya sebagai penguasa desa Banyuanyar, Colomadu yang terkenal sebagai daerah penghasil gula.

Dari asal usul kata, RH Widada menyebut nama mangunsarkoro bisa dipisah menjadi mangun yang berarti mengelola atau membangun dan sarkoro yang bisa diartikan sebagai gula.

Sarmidi yang masuk dalam golongan priyayi mendapat keistimewaan untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Angka Loro di Sawahan, Surakarta yang memang diperuntukkan bagi masyarakat bumiputra pada zaman kolonial Belanda.

Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Technische School Prinses Juliana School bidang teknik bangunan air pada 1923 di Yogyakarta. Saat bersekolah di PJS ini Sarmidi sudah terlihat menunjukkan minat pada masalah-masalah pendidikan dan psikologi.

Sarmidi pun terlibat dalam dunia pergerakan dengan masuk sebagai anggota Trikoro Dharmo yang kemudian berubah menjadi Jong Java. Terlibat dalam pergerakan membuatnya sering berdiskusi. Ini membuat Sarmidi cakap dalam berdebat.

Lulus dari sekolah teknik, Sarmidi mendapat tawaran menjadi pengawas pembangunan. Tawaran itu ditolak. Menurut Sarmidi pekerjaan tersebut kurang menarik, monoton, dan menjemukan. Akhirnya ia memutuskan melanjutkan studinya di sekolah guru.

Sekolah Guru Arjuna di Jakarta kemudian menjadi pilihannya. Sekolah ini merupakan sekolah yang didirikan Nederlandsch Indie Theosofische Bond voor Opvoeding en Onderwijs. Semangat kebangsaannya semakin berkobar saat berada di sekolah ini.

Selain mendapat ilmu psikologi dan pedagogi, Sarmidi juga mendalami berbagai ajaran, filsafat hidup, ilmu ketuhanan, etika, dan ilmu lainnya. Setelah menamatkan pendidikannya pada 1926, dia kembali ke Yogyakarta. Ia mengajar di Taman Muda Perguruan Tamansiswa.

Tamansiswa didirikan pada 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara. Di lembaga ini pula Sarmidi Mangunsarkoro mendapatkan tambahan gelar Ki di depan namanya. Sarmidi menjadi guru di Taman Muda Perguruan Tamansiswa selama tiga tahun.

Ia kemudian pindah ke Jakarta untuk menjadi kepala sekolah HIS Budi Utomo dan HIS Marsudi Rukun. Mantan Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Tamansiswa Ki Prijo Dwiarso menuturkan Ki Mangunsarkoro kemudian meminta restu pada Ki Hajar Dewantara untuk membuka Tamansiswa cabang Jakarta.

Akhir Ki Sarmidi Mangunsarkoro menggabungkan dua sekolah itu menjadi Tamansiswa. "Ki Mangunsarkoro kemudian menjadi kepala sekolah Tamansiswa di Jakarta," ujar Dwiarso pada detikEdu, beberapa waktu lalu.

Perguruan Tamansiswa cabang Jakarta yang terletak di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat didirikan dengan dana awal 500 gulden. Banyak aktivis pergerakan yang menyekolahkan anak-anaknya ke Perguruan Tamansiswa di Jakarta.

Ini membuat pemerintah kolonial Belanda dengan berbagai cara berusaha merintangi perkembangan sekolah ini. Termasuk membuat aturan yang memasukkan Perguruan Tamansiswa dalam golongan sekolah liar.

Ki Sarmidi nampaknya bisa langsung mendapatkan kepercayaan dari Ki Hajar Dewantara. Kurang lebih baru setahun mejadi Ketua Majelis Perguruan Tamansiswa cabang Jakarta, Ki Hajar bersama pendiri Tamansiswa mengangkatnya sebagai anggota Majelis Luhur.

"Karena kepintarannya Ki Hajar Dewantara mengangkat Ki Sarmidi Mangunsarkoro menjadi salah satu pimpinan Majelis Luhur Tamansiswa," kata Dwiarso.

Beberapa tugas yang dipercayakan diantaranya sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Pengajaran Majelis Luhur Tamansiswa merangkap Pemimpin Umum Tamansiswa Jawa Barat. Kemudian akhirnya, menurut Dwiarso Ki Mangunsarko terpilih menjadi Ketua Majelis Luhur.

Saat Rapat Besar ke-9 Tamansiswa di Yogyakarta pada 1947, Ki Sarmidi Mangunsarkoro dipercaya membentuk tim untuk merumuskan kembali Asas Tamansiswa bernama Panca Dharma Tamansiswa. Panitia ini dikenal sebagai Panitia Mangunsarkoro. "Ki Sarmidi memang tangan kanan Ki Hajar," ujar Dwiarso.

Namun, Panca Dharma Tamansiswa yang terdiri dari Kodrat Alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan itu kemudian dijadikan Ciri Khas Tamansiswa, setelah Presiden Soeharto memberlakukan asas tunggal Pancasila pada masa Orde Baru. (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia