Minim Murid Karena Program KB, Sejumlah SD di Gunung Kidul Digabungkan

Pradito Rida Pertana - detikEdu
Senin, 02 Agu 2021 21:00 WIB
Siswa-Siswi kelas 5 menjalani ujian penilaian akhir sekolah di SD Negeri Kota Baru 2 dan 3, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/6/2021). Ujian ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapakan protokol kesehatan yang ketat dan membagi beberapa sesi kelas untuk ujian. Satu kelas terdiri dari 15 anak. Ujian ini berlangsung hingga 12 Juni 2021. Hanya kelas 4 dan 5 yang melakukan ujian tatap muka kelas lainnya laksanakan ujian secara daring.
Foto Ilustrasi Sekolah Dasar: Agung Pambudhy
Gunung Kidul -

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul mengungkapkan beberapa Sekolah Dasar (SD) di Gunungkidul kekurangan murid dan berakhir dengan regrouping atau penggabungan SD. Minimnya murid disebut karena suksesnya program Keluarga Berencana (KB).

Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Sudya Marsita mengatakan tahun ini SD Negeri Candirejo 2 di Kapanewon Semanu, Gunungkidul akan melebur dengan SD Negeri Sumber di Kapanewon Semin, Gunungkidul. Penggabungan kedua sekolah tersebut karena minimnya jumlah murid.

"Karena minimnya murid, tahun ini ada dua sekolah yang bakal dilebur menjadi satu," ucapnya saat dihubungi wartawan, Senin (2/8/2021).

Kekurangan murid, kata Sudya, apabila jumlah murid untuk satu kelas kurang dari 10 orang. Di mana hal tersebut tidak efisien dan efektif dalam proses belajar mengajar khususnya bagi guru pengampu.

Menyoal penyebab kekurangan murid yang terjadi di beberapa SD di Gunungkidul, Sudya mengaku karena adanya program KB sejak masa orde baru. Di mana program KB menyarankan orangtua hanya memiliki 2 anak saja.

"Jadi minimnya murid ini karena KB (Keluarga Berencana) itu berhasil ya," katanya.

Bahkan, berdasarkan hasil pendataan sejak 2014 tercatat ada 58 SD Negeri di Gunungkidul yang bakal digabung akibat kekurangan murid. Namun hingga saat ini praktiknya masih belasan SD yang terkena penggabungan.

"Tapi hingga saat ini baru 17 sekolah yang berhasil digabung. Sehingga masih ada 41 sekolah yang menunggu untuk digabung," ucapnya.

Menurutnya, kendala penggabungan SD muncul karena orangtua dan tokoh masyarakat setempat belum mau sekolah anak-anaknya digabung. Oleh sebab itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada orangtua murid agar bisa menerima sekolah di wilayahnya digabung.

"Karena itu kita terus melakukan pendekatan ya, semua itu biar (penggabungan sekolah) tidak menimbulkan polemik," ujar Sudya.



Simak Video "Begini Penampakan Ruangan SD di Kota Bogor yang Ambruk"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia