Kemendikbudristek Jawab Permintaan Batalkan Asesmen Nasional

Tim detikcom - detikEdu
Jumat, 30 Jul 2021 12:43 WIB
Guru memberikan pelajaran kepada murid saat uji coba belajar tatap muka di kawasan SDN 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu (7/4). SDN Pademangan Barat 11 memulai uji coba belajar tatap muka bagi siswa kelas V di tengah pandem COVID-19. Protokol kesehatan menjadi hal utama baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan Asesmen Nasional tetap akan dilaksanakan pada akhir tahun 2021 bagi daerah yang dapat melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Daerah yang bisa menggelar diatur dengan ketentuan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang berlaku.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbudristek Anindito Aditomo mengatakan salah satu prinsip kebijakan bidang pendidikan di masa pandemi yakni mempromosikan tumbuh kembang dan kondisi psikososial peserta didik. Asesmen Nasional merupakan bagian penting dari prinsip tersebut dan strategi besar untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Karena itu, menurut Anindito Asesmen Nasional tetap perlu dilaksanakan. Namun, pelaksanaannya harus memperhatikan serta mempertimbangkan prinsip lainnya yakni perlindungan atas kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

"Situasi pandemi yang dinamis di setiap daerah harus menjadi pertimbangan dalam pelaksanaannya. Harus sesuai ketentuan SKB 4 Menteri dan kebijakan PPKM yang berlaku. Agar itu dapat terjadi, kami di Kemendikbudristek terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan memantau kesiapan sekolah dalam persiapannya," ujar Anindito dalam keterangannya pada wartawan, Jumat (29/7/2021).

Seperti diberitakan sebelumnya Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta Kemendikbudristek untuk membatalkan penyelenggaraan Asesmen Nasional selama kondisi masih pandemi COVID-19. Salah satu alasannya yakni masih ada ketimpangan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia. Padahal ada prasyarat Asesmen Nasional harus dilaksanakan di tempat yang memiliki akses internet.

Terkait hal tersebut, Anindito mengatakan sekolah yang infrastrukturnya terbatas, bisa berkoordinasi dan melaksanakan Asesmen Nasional di sekolah terdekat yang siap. "Ini sedang dipetakan oleh Kemendikbudristek bersama dengan dinas pendidikan setempat. Pelaksanaan AN juga bertahap, sehingga lebih fleksibel untuk koordinasi ini," katanya.

Lebih lanjut Anindito mengatakan Kemendikbudristek juga selalu menyampaikan pada sekolah agar mengisi survei dengan jujur dan apa adanya. Karena hasil Asesmen Nasional fungsi utamanya untuk evaluasi diri dan perbaikan oleh masing-masing sekolah. "Itu akan menghasilkan informasi paling akurat dan bermanfaat bagi sekolah sendiri," ujarnya.

Selain itu, interpretasi hasil Asesmen Nasional bertumpu pada progres atau perubahan dari tahun ke tahun. Jadi pemaknaannya menurut Anindito bukan soal pemeringkatan antar sekolah. "Tapi apakah masing-masing sekolah mengalami kemajuan dibanding dirinya sendiri di masa lalu. Ini memang berbeda dari paradigma di masa lalu," katanya.



Simak Video "Alasan Lain Nadiem Hapus UN: Agar Tak Kentara Siswa Miskin dan Kaya"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia