IDAI Bicara Risiko PJJ: Pernikahan Anak hingga Kemiskinan

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 28 Jun 2021 12:33 WIB
Guru memberikan pelajaran kepada murid saat uji coba belajar tatap muka di kawasan SDN 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu (7/4). SDN Pademangan Barat 11 memulai uji coba belajar tatap muka bagi siswa kelas V di tengah pandem COVID-19. Protokol kesehatan menjadi hal utama baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Foto: Pradita Utama/IDAI Bicara Resiko PJJ: Pernikahan Anak hingga Kemiskinan
Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung lama menyebabkan semakin banyak anak-anak kehilangan haknya. Bahkan, ada risiko mulai dari pernikahan hingga kemiskinan yang mengintai.

Hal ini disampaikan Ketua Umum IDAI Aman Pulungan dalam webinar Kajian Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka di Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (26/06/2021). Dalam kesempatan tersebut, Aman menjelaskan jumlah kasus COVID-19 pada anak berdasarkan data UNICEF di Indonesia sekitar 12,5%. Artinya, 1 dari 8 kasus adalah anak-anak.

Terkait hal itu, Aman pun menyoroti rencana sekolah tatap muka. Baginya semakin lama pandemi berlangsung, maka semakin banyak pula hak-hak anak yang akan hilang, seperti terjadinya pernikahan anak dan menurunnya nutrisi.

"Makin lama pandemi berlangsung, semakin banyak anak kehilangan haknya. Sekolah tutup, pembelajaran daring, risiko pernikahan anak, kehamilan, menurunya kualitas kesehatan mental, dan juga masalah nutrisi," ungkapnya.

Selain efek sosial yang disebutkan di atas, dalam webinar tersebut Aman menyampaikan bahwa pembelajaran jarak tau (PJJ) atau daring di kala pandemi COVID-19 dapat semakin memperparah kesenjangan antarkelas sosioekonomi.

Dalam materi yang dibawakannya, anak yang tidak terhubung dengan internet secara memadai, akan semakin tertinggal secara akademis. Dalam jangka panjang, akan sulit terlepas dari kemiskinan.

Di samping itu, dikatakan pula bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat merupakan dampak lain bagi anak-anak.

Walau demikian, Aman menjelaskan bahwa saat ini IDAI belum merekomendasikan anak-anak untuk kembali ke sekolah. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan adanya lonjakan COVID-19 yang tengah terjadi di masyarakat.

"Kita lihat ini setelah dua minggu ini," sambung dia.

Terakhir, Aman menganjurkan beberapa hal agar kasus penyebaran COVID-19 berkurang. Misalnya, dengan memberlakukan lockdown, meningkatkan testing, tracking, dan juga imunisasi pada masyarakat.

"Sebetulnya IDAI itu maunya kami, apa yang harusnya sekarang, boleh dicatat. Lockdown, 3T ditingkatkan, testing-nya 30 kali lipat atau sesuai dengan WHO, tracing-nya juga, dan imunisasi ditingkatkan," tutup dia.

Simak Video "Kasus Turun Namun Banyak Provinsi Belum Update Data Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia