Nadiem Makarim Soroti Dampak PJJ pada Anak: Depresi hingga Alami Kekerasan

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 05 Mei 2021 19:00 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim
Foto: Andhika Prasetia/Nadiem Makarim Soroti Dampak PJJ pada Anak: Depresi hingga Alami Kekerasan
Jakarta - Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim tak asal saat mengatakan pembelajaran tatap muka harus segera dilakukan. Pasalnya, berdasarkan hasil survei dampak PJJ juga berpengaruh pada psikososial peserta didik.

Dalam Talkshow Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2021 yang diadakan oleh PDI Perjuangan melalui laman Youtube resminya, Nadiem mengungkap para peserta didik mengalami depresi karena tak bisa berinteraksi dengan teman dan guru secara langsung. Bahkan, data menyebutkan mereka juga mengalami kekerasan di dalam rumah tangga.

"Anak mengalami kebosanan di dalam rumah, jenuh banyak video conference, kondisi belajar yang tidak dinamis, banyak yang kesepian, depresi karena tidak bertemu teman dan guru. Berbagai macam permasalahan domestik, stres terlalu banyak di rumah, kurang keluar hingga menyebabkan kekerasan di rumah tangga," jelas Nadiem Makarim, Rabu (5/5/2021).

Tak hanya pada anak, dampak PJJ juga terjadi pada orang tua. Kata Nadiem, jika berkepanjangan akan memengaruhi tingkat stres orang tua karena harus bekerja serta membimbing anak belajar dalam satu waktu.

Terlebih di daerah dengan infrastruktur jaringan yang kurang, akan semakin memberatkan pelaksanaan PJJ. Sehingga, pelaksanaan PJJ akan merugikan banyak pihak.

"Orang tua juga sibuk tetapi tetap membimbing anak-anak dalam melakukan PJJ. Apalagi di daerah terdepan, terluar, tertinggal yang infrastrukturnya kurang memadai. Jadi sudah jelas bahwa terlalu lama proses PJJ terjadi, tidak bisa menunggu dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental dari murid-murid kita," terang mantan Bos Go-Jek ini.

Untuk itu Nadiem berharap agar sekolah tatap muka secara terbatas dapat terus dilaksanakan. Saat ini tercatat, sudah 25% sekolah yang melaksanakan tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Protokol kesehatan sangat ketat, kapasitas cuma 50%, tidak ada aktivitas di luar pembelajaran sendiri, masuk sekolah tidak ada ekskul tidak ada kantin, masuk sekolah langsung pulang. Semua sekolah ketika tatap muka harus sanitasi wajib, tentunya masker itu wajib, ceklist sudah sangat jelas," tutup dia.

Simak Video "Syarat-syarat Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia