Nadiem Dorong Sekolah Tatap Muka: PJJ Tidak Lagi Efektif

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 05 Mei 2021 16:30 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim hadiri acara penyerahan DIPA 2020 dari Jokowi. Penyerahan itu digelar di Istana Negara.
Foto: Rengga Sancaya/Nadiem Dorong Sekolah Tatap Muka: PJJ Tidak Lagi Efektif
Jakarta - Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudriistek) Nadiem Makarim mengatakan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak lagi efektif dan menimbulkan beberapa masalah. Ia pun mendorong agar sekolah segera melakukan tatap muka.

"Efektivitas PJJ menurun di seluruh dunia ada berbagai macam laporan dan anekdot mengenai berbagai macam kendala yang dialami. Ada berbagai macam laporan kendala, konektivitas yang tidak reliabel, tidak memiliki gawai, permasalahan fundamental. Sehingga pelaksanaan PJJ di berbagai daerah sangat sulit dilakukan," papar Nadiem di Talkshow Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2021 yang diadakan oleh PDI Perjuangan melalui laman Youtube resminya.

Tak kalah penting yang menjadi perhatian Nadiem adalah masalah psikososial murid. Sebab, anak menjadi bosan di rumah, jenuh terlalu banyak video conference, kondisi belajar yang tidak dinamis, banyak yang kesepian, hingga depresi tak bertemu teman dan guru.

"Jika dibiarkan terlalu lama akan ada berbagai macam permasalahan domestik, stres terlalu banyak di rumah, kurang keluar hingga menyebabkan kekerasan di rumah tangga," jelas mantan Bos Go-Jek ini.

Lebih lanjut, Nadiem menyoroti bahwa masalah tersebut juga terjadi pada orang tua. Pasalnya, orang tua harus membimbing anak PJJ di tengah kesibukannya bekerja sehingga membuat rasa stres timbul.

"Jadi sudah jelas bahwa, sudah terlalu lama proses PJJ terjadi, tidak bisa menunggu dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental dari murid-murid kita," terang Nadiem.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei sudah ada 25% sekolah yang melaksanakan sekolah tatap muka. Kapasitas dalam sekolah tatap muka pun diperbolehkan hanya 50%, tidak ada aktivitas di luar pembelajaran, tidak ada kegiatan ekskul, tidak ada kantin, masuk sekolah langsung pulang.

Sekolah tatap muka harus melaksanakan protokol kesehatan (prokes) yang ketat, sanitasi dan masker merupakan hal yang wajib. Nadiem pun berharap agar angka sekolah tatap muka terus bertambah.

"Dari januari sudah bisa tatap muka tapi akselerasi itu masih belum terjadi. Jadi pemerintah mengambil sikap guru-guru menjadi prioritas vaksinasi. Sehingga ketika guru-guru sudah memperoleh vaksinasi sekolah diwajibkan tatap muka dengan ketentuan sekolah masing-masing," terang Nadiem.

Hanya saja, Nadiem kembali mengingatkan bahwa keputusan anak untuk datang ke sekolah tetap berada di tangan orang tua. Sekolah tetap harus melaksanakan sekolah tatap muka secara terbatas.

"Ada orang tua yang merasa kesehatan mental anak sudah sangat rentan sehingga mengembalikan sekolah sangat penting dan juga pengembangan kognitif sang anak. Sekolah diwajibkan melaksanakan sekolah tatap muka terbatas. Tidak bisa menciptakan generasi yang learning loss lagi. Karena itu kita harus sama-sama tanggung jawab dari semua pihak termasuk ortu dengan full prokes," tutup Nadiem.



Simak Video "Syarat-syarat Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia