Rombongan Belajar untuk Pembelajaran Tatap Muka, Bagaimana Penerapannya?

Tim detikcom - detikEdu
Selasa, 30 Mar 2021 18:00 WIB
Siswa siswi belajar secara tatap muka dengan protokol kesehatan di Sekolah Dasar Pekayon Jaya 6, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/3/2021). Sebanyak 88 SD diberikan izin untuk menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) berbasis adaptasi tatatan hidup baru satuan pendidikan (ATHBP-SP). Di Sekolah ini ada 3 kelas siswa SD kelas 6 yang mengikuti proses belajar tatap muka. Setiap kelas terdiri dari 15 siswa siswi.
Pemerintah memberi diskresi bagi sekolah untuk menentukan pembagian rombongan belajar dalam Pembelajaran Tatap Muka terbatas (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Membagi siswa dalam rombongan belajar merupakan salah satu metode yang bisa diterapkan saat Pembelajaran Tatap Muka terbatas agar tak terjadi kerumunan di sekolah. Lantas bagaimana contoh penerapan rombongan belajar ini?

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumeri memberi contoh praktik Pembelajaran Tatap Muka yang telah dilakukan di SD Negeri 03 Pontianak Selatan, Kalimantan Barat.

Metode rombongan belajar dilakukan dengan menerapkan maksimal 50% kapasitas per kelas. "Sehingga dalam satu rombongan belajar terdapat dua kelompok belajar," ujar Jumeri saat Pengumuman Keputusan Bersama tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, Selasa (30/3/2021).

Masing-masing kelompok belajar melakukan Pertemuan Tatap Muka terbatas sebanyak dua kali dalam satu minggu. Siswa dengan nomor absen 1-16 masuk hari Senin dan Rabu, selanjutnya masuk hari Selasa dan Kamis.

"Sekolah ini hanya menerapkan dua hari pembelajaran tatap muka bagi tiap siswa," ujarnya.

Lalu berapa jam Pembelajaran Tatap Muka terbatas dilakukan siswa dalam masa satu minggu? Jumeri memaparkan satu kali pertemuan berlangsung selama 3 jam dari pukul 07.00 hingga 10.00.

"Karena setiap kelompok belajar melakukan dua kali pertemuan dalam satu minggu, maka setiap siswa melakukan PTM terbatas sebanyak 6 jam dalam satu minggu," kata Jumeri.

SDN Negeri 03 Pontianak Selatan pun membuat jam masuk jadi selang-seling dengan jeda beberapa menit tiap kelas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan murid saat waktu kepulangan.

Selain itu, Pembelajaran Tatap Muka juga bisa dikombinasikan dengan pembelajaran jarak jauh. PJJ dilakukan melalui aplikasi grup WhatsApp untuk memberikan materi tugas kepada kelompok belajar yang pada hari tersebut tidak giliran masuk ke sekolah.

Pembahasan tugas kemudian dilakukan melalui pertemuan tatap muka terbatas bagi yang giliran masuk sekolah dan lewat Zoom bagi yang giliran PJJ. Sementara hari Jumat dipakai untuk melakukan evaluasi.

Jumeri juga memaparkan praktik rombongan belajar di SMA Negeri 9 Bengkulu Selatan. Di sekolah ini rombongan belajar dibagi jadi dua shift yaitu pagi dan siang dengan jadwal per tingkat.

Hari Senin dan Kamis dipakai untuk kelas XII, lalu Selasa dan Jumat kelas XI. Sementara hari Rabu dan Sabtu untuk Kelas X. "Berbeda dengan SD, SMA bisa dibagi jadi dua shift karena murid-muridnya relatif lebih dewasa," ujar Jumeri.

Dalam satu minggu siswa di SMAN 9 Bengkulu Selatan melakukan Pembelajaran Tatap Muka terbatas dengan total 4 jam 30 menit. Karena jam belajar tatap muka berkurang maka ditambahkan PJJ dengan memberikan tambahan materi menggunakan berbagai platform yang dikuasai guru.

"Kita berharap contoh praktik baik ini pembelajaran tatap muka dapat berlangsung sekaligus tetap aman dari penyebaran Covid-19," ujar Jumeri.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim menegaskan sekolah harus bisa mengaplikasikan ketentuan social distancing minimal 1,5 meter saat Pembelajaran Tatap Muka terbatas. Karena itu jarak bangku dan kursi harus diatur dan jumlah murid dalam kelas maksimal 18 orang.

Menurut Nadiem, pembagian rombongan belajar untuk memenuhi aturan tersebut merupakan diskresi masing-masing sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. "Dipecah menjadi tiga rombongan belajar atau jadi dua grup silakan. Kita memberikan kebebasan sekolah untuk menentukan," ujarnya.

(pal/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia