Namanya Dicatut, Profesor Jerman Sempat Diminta Hapus Curhat di LinkedIn

ADVERTISEMENT

Namanya Dicatut, Profesor Jerman Sempat Diminta Hapus Curhat di LinkedIn

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Jumat, 30 Okt 2026 07:32 WIB
Artikel yang akhirnya ditarik oleh editor jurnal Ekliptika
Artikel ilmiah yang akhirnya ditarik oleh editor jurnal Ekliptika Foto: Dok. Ines Mergel
Jakarta -

Profesor Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman, mengungkapkan namanya dicantumkan secara curang sebagai penulis artikel ilmiah di jurnal Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan Vol. 7 No. 1 Juli 2026. Setelah tahu namanya dicatut, ia lantas membagikan kronologi membongkar kecurangan tersebut dalam akun LinkedIn pribadinya.

"Pengalaman terbaru saya dalam dunia publikasi akademik. Seseorang mencantumkan nama saya sebagai co-author dalam sebuah publikasi, lengkap dengan afiliasi institusi dan nomor ORCID saya yang benar," tulis Mergel dalam akun LinkedIn miliknya seperti dikutip detikEdu, Jumat (30/10/2026).

"Saya tidak ikut menulis artikel ini, dan pihak jurnal tidak pernah meminta saya memverifikasi status kepenulisan maupun afiliasi saya," lanjut guru besar bidang Administrasi Publik tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam salinan artikel yang didapatkan detikEdu, selain nama Ines Mergel tercantum pula nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin dengan afiliasi Universitas Yudharta Pasuruan. Khafid tercatat sebagai pengajar di Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Yudharta.

Kemudian terdapat juga nama Rini Rachmawati, guru besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ada juga nama guru besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Yudho Giri Sucahyo, dan Marijn Janssen, profesor bidang ICT & Governance di Delft University of Technology, Belanda. Email dengan nama khafid@yudharta.ac.id tercantum sebagai penulis korespondensi (corresponding author).

ADVERTISEMENT

Usai mengetahui namanya tercantum dalam artikel yang berjudul "Kolinearitas dan Regularisasi pada Model Layanan Publik Digital: Simulasi dalam Konteks Green Government", Mergel mencoba mengirimkan protes pada penulis korespondensi. Ia meminta agar namanya dihapus dari artikel yang tidak pernah ditulisnya.

Jurnal EkliptikaJurnal Ekliptika Foto: Dok. Ines Mergel

Namun, balasan yang diterima justru membuatnya bertanya-tanya. Menurut Mergel, penulis korespondensi justru mengaku tidak ingat pernah menulis artikel tersebut dan menyebut topiknya berada di luar bidang keahliannya.

"Ia mengirimkan pernyataan berikut lewat email: 'Terkait masalah ini, saya tidak ingat pernah menulis artikel yang dimaksud. Selain itu, topik artikel tersebut berada di luar bidang keahlian saya'," kata Mergel saat dikonfirmasi detikEdu via email.

Belakangan, Mergel kembali menerima email berisi permintaan maaf dari penulis korespondensi. Perubahan sikap tersebut membuatnya menilai bahwa yang bersangkutan akhirnya mengakui keterlibatannya dalam penulisan artikel, setelah sebelumnya menyatakan tidak ingat pernah menulisnya.

Mergel juga mengungkapkan editor jurnal turut menyampaikan permintaan maaf, meskipun identitas editor yang mengirimkannya tidak disebutkan.

"Tampaknya ia kini mengakui dirinya sebagai penulis artikel tersebut setelah kemarin menyangkalnya. Saya juga menerima permintaan maaf dari editor, tetapi editor tersebut tidak menyebutkan namanya," tulis Mergel dalam unggahan di akun LinkedIn.

Penulis Korespondesi Minta Profesor Mergel Hapus Postingan

Selain minta maaf, penulis korespondensi juga meminta diri Profesor Mergel membuat koreksi publik atas unggahan LinkedIn yang membahas kasus tersebut. Bahkan, ia mengaku diminta menghapus unggahan itu.

Mergel menolak permintaan tersebut. Ia menilai pengungkapan kasus kepada publik merupakan langkah yang perlu diambil untuk menyoroti dugaan pelanggaran integritas akademik.

"Namun, sebagai penulis internasional, satu-satunya pilihan yang saya miliki adalah mengungkap kecurangan akademik ini kepada publik," ujarnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan dukungan hukum yang dihadapi akademisi di Jerman ketika berhadapan dengan kasus dugaan kecurangan akademik.

"Universitas-universitas di Jerman tidak memiliki sumber daya tenaga hukum yang memadai untuk mengambil tindakan hukum dalam kasus-kasus kecurangan akademik yang terang-terangan seperti ini. Karena itu, kami sebagai penulis harus berupaya menjalin komunikasi yang bermakna dengan para editor dan mengungkap kasus-kasus semacam ini kepada publik," katanya.

Selain itu, Mergel mempertanyakan keputusan editor jurnal Ekliptika yang menyampaikan permintaan maaf tanpa mengungkapkanidentitasnya. Ia sekaligus mengkritik respons awal dari pihak editor jurnal yang melakukan penarikan dengan mengoreksi daftar penulis pada artikel.

Dalam pemberitahuan penarikan tersebut, seluruh nama penulis pendamping dihapus. Nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin sebagai penulis korespondensi menjadi satu-satunya nama penulis yang tersisa.

"Sebagai catatan tambahan, saya merasa aneh bahwa editor tetap anonim dalam permintaan maaf resminya. Selain itu, penyelesaian awal yang mereka pilih adalah mengubah artikel tersebut menjadi artikel dengan satu penulis terlebih dahulu, baru pada tahap berikutnya menarik artikel itu sepenuhnya," ujarnya.

Mergel pun mengungkapkan keputusan mempertahankan unggahannya di LinkedIn juga berkaitan dengan pengalaman hampir serupa yang pernah dialaminya. Ia menyebut pencatutan nama dalam publikasi tersebut sebagai kecurangan akademik kedua yang menimpanya.

Pada 2019, Mergel mengaku pernah menjadi korban plagiarisme. Sebagian besar isi artikel ilmiahnya disalin dan diterbitkan kembali dalam jurnal Government Information Quarterly (GIQ) dengan topik transformasi digital.

Kala itu, pelaku plagiarisme memohon agar Mergel tidak mengungkap kasus tersebut kepada publik. Alasannya, khawatir akan menghadapi sanksi dari institusi tempatnya bekerja. Mergel akhirnya memenuhi permintaan tersebut.

Namun, artikel yang memuat hasil plagiarisme itu ternyata tidak dihapus. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi Mergel dalam menyikapi kasus pencatutan namanya. "Saya belajar dari pengalaman tersebut," ujarnya.

Saksikan Live DetikPagi:

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Kemendiktisaintek soal Pemecatan Rektor UP: Belum Terima Laporan"
[Gambas:Video 20detik] (pal/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads