Dunia akademik Indonesia kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan pencatutan nama sejumlah akademisi dalam sebuah publikasi ilmiah. Setelah profesor dari Jerman mengungkapkan namanya dicantumkan tanpa izin, kini guru besar Universitas Indonesia (UI) juga menyampaikan hal serupa.
Sebelumnya, Profesor Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman, mengungkapkan namanya dicantumkan dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di Indonesia tanpa sepengetahuannya.
Guru besar bidang Administrasi Publik itu menegaskan tidak pernah terlibat dalam penulisan artikel tersebut, meskipun nama, afiliasi institusi, dan nomor ORCID miliknya tercantum secara benar. "Saya sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan artikel tersebut, tidak pernah menulis satu kata pun di dalamnya," ujar Mergel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artikel yang dipersoalkan berjudul "Kolinearitas dan Regularisasi pada Model Layanan Publik Digital: Simulasi dalam Konteks Green Government". Tulisan tersebut diterbitkan dalam Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, Vol. 7 No. 1, edisi Juli 2026, halaman 17-30.
Berdasarkan salinan artikel yang diperoleh detikEdu, nama Mergel tercantum bersama sejumlah akademisi lain. Mereka adalah Muhammad Khafid Ainul Yaqin dari Universitas Yudharta Pasuruan, Rini Rachmawati dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yudho Giri Sucahyo dari UI, serta Marijn Janssen, profesor bidang ICT dan Governance di Delft University of Technology, Belanda.
Artikel tersebut masuk ke redaksi Ekliptika pada 5 Mei 2026, direvisi pada 1 Juni 2026, dan disetujui untuk diterbitkan pada 7 Juli 2026. Email dengan nama khafid@yudharta.ac.id tercantum sebagai penulis korespondensi (corresponding author).
Guru Besar UI Akui Namanya Turut Dicatut
Kini, Yudho Giri Sucahyo juga menyatakan tidak mengetahui namanya tercantum dalam artikel tersebut. Guru besar Ilmu Komputer UI itu mengaku mengalami hal serupa dengan Mergel. "Ya, nama saya juga dicatut," ujar Yudho kepada detikEdu, Kamis (29/10/2026).
Yudho menyatakan keberatan atas pencantuman namanya tanpa sepengetahuan dan persetujuannya. Ia berencana menindaklanjuti persoalan tersebut melalui jalur resmi. "Tentu nanti saya akan menyatakan keberatan melalui jalur resmi," katanya.
Ia menegaskan agar para pengajar mengutamakan etika akademik dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi. "Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi para pihak untuk dapat mengedepankan etika akademik dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi," tuturnya.
Profesor Jerman Bongkar Pencatutan Nama
Mergel mengaku sebenarnya tidak menyadari pencatutan nama yang disebutnya sebagai sebuah kecurangan akademik itu hingga menerima notifikasi dari Google Scholar. Platform itu mengirimkan pemberitahuan agar ia menambahkan artikel tersebut ke daftar publikasi akademiknya.
"Seandainya Google secara otomatis memasukkan artikel itu ke dalam daftar publikasi saya, mungkin saya tidak akan menyadarinya untuk beberapa waktu," ujarnya.
Setelah mengetahui hal tersebut, Mergel menghubungi penulis korespondensi melalui email. Ia meminta agar namanya dihapus dari artikel yang tidak pernah ditulisnya.
Namun, balasan yang diterima justru menimbulkan pertanyaan baru. Menurut Mergel, penulis korespondensi mengaku tidak ingat pernah menulis artikel tersebut dan menyebut topiknya berada di luar bidang keahliannya.
"Ia mengirimkan pernyataan berikut lewat email: 'Terkait masalah ini, saya tidak ingat pernah menulis artikel yang dimaksud. Selain itu, topik artikel tersebut berada di luar bidang keahlian saya'," kata Margel.
Artikel dalam Jurnal Ekliptika yang mencatut nama sejumlah akademi Foto: Dok. Ines Mergel |
Belakangan, Mergel kembali menerima email berisi permintaan maaf dari penulis korespondensi. Perubahan sikap tersebut meyakinkannya bahwa yang bersangkutan akhirnya mengakui keterlibatannya dalam penulisan artikel, setelah sebelumnya menyatakan tidak ingat pernah menulisnya.
"Tampaknya ia kini mengakui dirinya sebagai penulis artikel tersebut setelah kemarin menyangkalnya. Saya juga menerima permintaan maaf dari editor, tetapi editor tersebut tidak menyebutkan namanya," tulis Mergel dalam unggahan di akun LinkedIn.
Menurut Mergel, respons awal dari pihak editor jurnal adalah melakukan penarikan dengan mengoreksi daftar penulis pada artikel. Dalam pemberitahuan penarikan (retraction notice), seluruh nama penulis pendamping dihapus. Nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin sebagai penulis korespondensi menjadi satu-satunya nama penulis yang tersisa.
Kebijakan koreksi kepenulisan tersebut sangat tidak memuaskan Mergel. Ia keberatan karena koreksi tersebut berpotensi memberikan kesan seolah-olah dirinya secara sukarela memilih untuk tidak lagi dicantumkan sebagai penulis.
"Pemberitahuan tersebut benar-benar konyol, seolah-olah menyatakan saya telah berubah pikiran dan tidak lagi ingin dicantumkan sebagai penulis," ujarnya.
Setelah melalui proses tersebut, Dewan Editor Ekliptika akhirnya memutuskan untuk menarik artikel secara penuh. Dikutip dari pemberitahuan penarikan yang telah diperbarui pada 29 Oktober 2026, keputusan untuk menarik artikel tersebut didasarkan pada pertimbangan di antaranya sejumlah individu dicantumkan dalam daftar penulis artikel yang telah diterbitkan tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka sebelumnya.
"Jurnal mengakui pencantuman tersebut tidak memenuhi persyaratan otorisasi kepenulisan yang semestinya," dalam surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Editor Pelaksana Ekliptika Rudi Kurniawan, ST, MT.
Dewan Editorial juga menyatakan informasi kepenulisan yang dipublikasikan tidak secara akurat mencerminkan keterlibatan ilmiah semua individu yang namanya tercantum. Pihak jurnal menegaskan individu-individu yang terdampak tidak pernah menjadi penulis pendamping (co-author) yang sah untuk artikel tersebut.
"Koreksi nama dan afiliasi mereka setelahnya tidak boleh ditafsirkan sebagai pengunduran diri sukarela dari status kepenulisan yang sebelumnya telah mereka terima," seperti dikutip dari surat tersebut.
DetikEdu berusaha menghubungi Muhammad Khafid Ainul Yaqin yang tercantum sebagai penulis korespondensi dan Editor Pelaksana Ekliptika Rudi Kurniawan, ST, MT untuk mengonfirmasi keterangan Ines Mergel. Namun, hingga laporan ini ditulis, mereka tidak menanggapi pesan yang dilayangkan.

