Ada yang tertarik kuliah di Amerika Serikat? Kampus-kampus yang tergabung dalam Ivy League sering menjadi target utama mahasiswa internasional. Namun, seberapa sulit masuk Ivy League?
Ivy League merupakan sebutan untuk kumpulan delapan kampus top di wilayah timur laut AS. Dua yang paling terkenal Harvard University dan Yale University.
Awalnya, Ivy League merupakan konferensi atletik pada 1954 yang dikenal karena program olahraganya yang begitu kompetitif dan prestasinya yang mendunia. Hingga kini, Ivy League dikenal sebagai kumpulan kampus yang memiliki reputasi bagus, tidak hanya di program olahraganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa alumni kampus ini yang terkenal sebagai tokoh publik di antaranya adalah Barack Obama, Franklin D. Roosevelt, aktris Emma Watson, aktris Natalie Portman, dan penulis Toni Morrison.
Mengapa Ivy League Menjadi Kampus Bergengsi?
Salah satu alasan kampus Ivy League menjadi perguruan tinggi yang bergengsi adalah program akademik serta pengajar atau profesornya yang cemerlang. Beberapa profesornya disebutkan sebagai penerima Nobel Prize, yang terbaru adalah Michael Woodford dari Universitas Columbia.
Umumnya, kampus Ivy League yang merupakan kumpulan kampus swasta memiliki rata-rata biaya kuliah per tahun mencapai USD 25.000 atau kira-kira setara dengan Rp450,8 juta. Berdasarkan Visual Capitalist, Universitas Cornell memakan biaya tertinggi per tahun sebesar USD 28.700 atau setara dengan Rp517,6 juta.
Kabar baiknya, kampus ini terkenal menerima banyak pendanaan dalam bentuk donasi, dukungan alumni, dan hibah. Mahasiswa dapat mengakses bantuan keuangan selama masa studi, antara lain melalui program beasiswa, kerja paruh waktu di lingkungan kampus, dan pinjaman mahasiswa.
Selain itu, Ivy League juga memiliki kebijakan untuk menilai calon mahasiswa yang mendaftar berdasarkan prestasi, bukan kemampuan finansial. Bahkan, beberapa kampus seperti Harvard, Yale, dan Princeton menerapkan kebijakan ini bagi mahasiswa internasional.
Alasan lain 8 kampus ini menjadi yang terbaik adalah karena jaringan alumninya yang begitu luas, bahkan tidak sedikit yang sukses dan menjadi tokoh berpengaruh. Dengan memanfaatkan jaringan ini, para mahasiswa Ivy League dapat membangun karier melalui kegiatan magang, kerja, hingga mendapatkan koneksi profesional.
Menurut Times Higher Education, banyak lulusan Ivy League mendapati bahwa gelar dari kampus mereka dapat membantu mendapatkan kesempatan karier, khususnya di bidang hukum dan kedokteran.
Lantas kampus mana di Ivy League yang paling ketat? Berikut daftarnya, dikutip dari Visual Capitalist.
Daftar 8 Kampus Top AS di Ivy League yang Paling Susah Ditembus
1. Universitas Harvard
Keketatan: 3,7 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 19.100 (Rp 346 juta dalam kurs Rp 18.150)
2. Universitas Yale
Keketatan: 3,9 persen
Skor SAT: Matematika (740), Membaca dan Menulis (730)
Biaya per tahun: USD 23.800 (Rp 432 juta)
3. Universitas Columbia
Keketatan: 4 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 21.600 (Rp 392 juta)
4. Universitas Princeton
Keketatan: 4,6 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 6.100 (Rp 110 juta)
5. Universitas Brown
Keketatan: 5,4 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 25.200 (Rp 457 juta)
6. Universitas Pennsylvania
Keketatan: 5,4 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 28.700 (Rp 520 juta)
7. Perguruan Tinggi Dartmouth (Dartmouth College)
Keketatan: 5,4 persen
Skor SAT: Matematika (760), Membaca dan Menulis (740)
Biaya per tahun: USD 29.500 (Rp 535 juta)
8. Universitas Cornell
Keketatan: 8,8 persen
Skor SAT: Matematika (770), Membaca dan Menulis (730)
Biaya per tahun: USD 28.700 (Rp 520 juta)
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
