Kampus Diminta Transformasi Jurusan Manajemen, Apa Alasannya?

ADVERTISEMENT

Kampus Diminta Transformasi Jurusan Manajemen, Apa Alasannya?

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 22 Okt 2026 16:00 WIB
Ilustrasi manajemen bisnis.
Ilustrasi manajemen. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, mendorong perguruan tinggi untuk mentransformasi pendidikan manajemen. Langkah ini diperlukan agar kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi.

Di Indonesia, bidang manajemen menurut laporan tahunan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang berjudul "Statistik Pendidikan Tinggi 2025" tercatat sebagai jurusan sarjana dengan jumlah mahasiswa terbanyak, yakni 1.096.786 mahasiswa. Jurusan ini memiliki 21.651 dosen dengan di antaranya 803 guru besar dan 7.072 dosen berpendidikan doktor.

Namun, besarnya jumlah mahasiswa tidak lepas dari tantangan di dunia kerja. Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa lulusan manajemen menyumbang proporsi terbesar penganggur berpendidikan minimal S1. Sekitar 10,3% penganggur dari kelompok tersebut berasal dari bidang studi manajemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badri menilai, pendidikan manajemen perlu diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional dan kebutuhan industri strategis.

"Ini peluang bagus, karena pemerintah saat ini tengah berfokus pada sovereignty, kemandirian. Saya yakin nanti akan ada banyak insentif-insentif bagi pengusaha yang ada di Indonesia," kata Badri dalam Seminar Nasional Forum Manajemen Indonesia (FMI) 2026, Rabu (21/10/2026), dikutip dari Kemdiktisaintek.

ADVERTISEMENT

Ada delapan sektor yang menjadi perhatian pemerintah, di antaranya energi, pangan, kesehatan, maritim, digitalisasi, pertahanan, hilirisasi, industrialisasi, juga material dan manufaktur maju. Badri menilai sektor-sektor ini membuka peluang untuk lulusan manajemen gar bisa berkontribusi melalui keahlian yang lebih spesifik.

Menurutnya, besarnya ekosistem pendidikan tinggi bidang manajemen juga berpotensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyiapkan lulusan yang dapat menjawab kebutuhan dunia kerja. Badri menyebut keahlian manajemen diperlukan demi mendukung pengembangan berbagai sektor, mulai dari pengelolaan rumah sakit hingga pertambangan dan industri.

Perlu Upskilling dan Reskilling Dosen Manajemen

Badri menegaskan pengembangan kompetensi lulusan manajemen perlu mempertimbangkan karakteristik sektor industri yang akan dimasuki. Dengan keahlian yang lebih spesifik, lulusan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal.

"Akan jauh lebih bagus ketika transformasi bidang manajemen tadi, lulusannya cukup banyak. Di sisi lain, kita juga menyumbang alumni yang mungkin juga belum bisa berkontribusi optimal karena belum berkesempatan untuk bekerja. Kita bisa fokus, lulusan yang sangat spesifik akan bisa berkontribusi ke masing-masing bidang," ungkap Badri.

Selain itu, Badri juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan kapasitas dosen manajemen. Ia mengatakan kemampuan perguruan tinggi untuk beradaptasi perlu dimulai dari proses belajar dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan, termasuk dengan peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan kembali (reskilling).

"Kami minta di kontrak kinerja rektor, untuk reskilling dan upskilling dosen. Kalau nggak, ketika kecepatan teknologi ini, AI dan lain-lain, apa yang kita ajarkan pasti tidak akan relevan dengan mahasiswa yang Gen Z yang nantinya akan berkontribusi pada 5-10 tahun ke depan," terang Badri.

Transformasi Tidak Harus Buka Prodi Baru

Badri menuturkan, transformasi pendidikan manajemen tidak selalu harus dilakukan melalui pembukaan program studi baru. Perguruan tinggi bisa melakukan evaluasi kurikulum dan silabus, memperbarui metode pembelajaran, hingga pengembangan konsentrasi sesuai kebutuhan industri.

Alumnus National Cheng Kung University Taiwan ini juga menyebut mahasiswa tidak cuma membutuhkan keterampilan praktis, tetapi juga kemampuan sosial, etika, tanggung jawab, dan komunikasi. Ia mengajak seluruh perguruan tinggi dan akademisi terus melakukan evaluasi dan transformasi pendidikan manajemen supaya menghasilkan lulusan yang adaptif, kompeten, serta relevan dengan kebutuhan industri.



(nah/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads