Mahasiswa Stres Kuliah, Kapan Saat Mencari Pertolongan?

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Stres Kuliah, Kapan Saat Mencari Pertolongan?

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 13 Okt 2026 19:16 WIB
Ilustrasi sedih
Ilustrasi burnout. Foto: Getty Images/Filmstax
Jakarta -

Rasa tidak nyaman hingga tekanan atau stres saat memasuki masa kuliah bukan hal yang jarang terjadi pada mahasiswa baru. Situasi ini juga dapat dirasakan bagi mahasiswa ongoing atau yang telah beradaptasi pada semester-semester sebelumnya.

Dosen sekaligus psikolog Layanan Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Syarifa Nadhrah Mustamin MSi MPsi Psikolog, mengatakan stres dapat dialami mahasiswa saat menghadapi tuntutan akademik, proses adaptasi perkuliahan dan pertemanan, maupun persoalan pribadi seperti isu dengan keluarga. Stres juga merupakan respons yang wajar terhadap tekanan.

Ia menambahkan, stres juga tidak selalu menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan mental. Penting menurutnya untuk melihat kembali kemampuan individu dalam mengenali dan mengelola tekanan terhadap dirinya masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, kapan stres perlu mendapatkan perhatian tenaga ahli?

Perhatikan Tanda Kewalahan

Nadhrah mengatakan, penting untuk menghubungi tenaga ahli saat mahasiswa mulai merasa kewalahan menghadapi stres, kesulitan menentukan prioritas, atau tidak mampu mengelola beban yang dihadapi hingga memengaruhi kesejahteraan psikologisnya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, dukungan sosial dan layanan psikologis dari tenaga ahli dapat membantu mahasiswa memahami serta menghadapi tekanan yang dialaminya.

Burnout

Salah satu tanda yang perlu disoroti yaitu burnout, kondisi kelelahan yang berkaitan dengan tekanan berkepanjangan, termasuk tekanan akademik.

Nadhrah menjelaskan, burnout tersebut dapat muncul ketika mahasiswa menghadapi tuntutan perkuliahan yang sulit dikelola, terutama pada masa peralihan dari pendidikan sekolah menuju perguruan tinggi.

Pada masa adaptasi, menurutnya, mahasiswa baru kerap menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran yang menuntut kemandirian lebih tinggi.

"Kalau terkait dengan akademik, tentu pertama itu burnout biasanya. Banyak yang burnout, terlalu kaget sama, misalnya mahasiswa baru kaget sama budaya universitas yang terlalu banyak tugasnya, yang harus banyak mandiri," jelas Nadhrah dalam Unhas TV, dikutip Selasa (13/10/2026).

Memasuki tingkat akhir studi, risiko burnout masih dapat muncul. Contohnya pada masa penyusunan skripsi, yang mengharuskan mahasiswa mengatur jadwal bimbingan dan menyelesaikan penelitian secara mandiri.

Faktor Pemberat Tekanan Psikologis

Selain tuntutan akademi tersebut, ia menyoroti faktor persoalan keluarga, pengalaman kehilangan, maupun kesulitan pribadi yang dapat menambah tekanan psikologis. Faktor-faktor tersebut menurutnya dapat saling berkaitan. Hal inilah yang membuat pengalaman stres setiap mahasiswa dapat berbeda-beda.

Evaluasi Diri Saat Kewalahan

Nadhrah mengingatkan, mahasiswa perlu mulai mengevaluasi kondisi diri saat merasa kewalahan (overwhelmed), kesulitan menentukan pekerjaan yang harus diprioritaskan, atau merasa tidak mampu mengatur berbagai tanggung jawab.

Sebagai langkah awal penanganan stres, ia menyarankan agar mahasiswa merunutkan prioritas dan mengelola waktu.

"Atur waktu, bikin skala prioritas, jangan semuanya mau diambil," tuturnya.

Kemudian, ia mengingatkan agar mahasiswa yang stres untuk menjaga hubungan sosial dan punya ruang untuk menyampaikan persoalan yang ia hadapi. Opsi mencari dukungan sosial ini contohnya seperti pada teman sebaya dan dosen pembimbing akademik.

Jika stres atau tekanan semakin sulit dikelola, Nadhrah mengimbau mahasiswa untuk tidak ragu meminta bantuan tenaga profesional.

Bercerita dan memperoleh respons yang empatik menurutnya dapat bantu mahasiswa mengurai beban emosional yang sebelumnya terpendam.

Konseling dengan Tenaga Profesional

Di Unhas sendiri, ia mencontohkan, Layanan Psikologi di bawah Perpustakaan Pusat Unhas bisa dimanfaatkan juga secara gratis oleh dosen dan tenaga kependidikan yang memenuhi ketentuan universitas.

Nadhrah menuturkan, ia dan rekan-rekan antara lain memberikan layanan konseling dan psikotes. Pada saat konseling, mahasiswa bisa punya ruang untuk didengarkan dengan empati dan tanpa dihakimi, sambil dibantu dalam memahami kondisi yang sedang ia hadapi.

Ia menggarisbawahi, konseling tidak selalu menghasilkan penyelesaian masalah secara langsung. Seseorang yang sedang konseling juga tidak harus langsung menemukan jawaban atas seluruh persoalannya.

Psikolog maupun konselor dalam hal ini berperan dalam memberikan pendampingan agar individu dapat memahami persoalan, mengelola pengalaman emosional, serta mempertimbangkan opsi langkah tindak lanjut secara lebih jernih.

Tepis Stigma ke Psikolog-Psikiater

Atas manfaat tersebut, ia berharap agar mahasiswa tak abai dengan kondisi kesehatan mentalnya sebelum harusditangani ahli. Seperti halnya menjaga kesehatan fisik, perlu menurutnya untuk memberikan waktu untuk beristirahat, mengenali batas kemampuan diri, serta segera mencari dukungan ketika diperlukan.

Ia mengakui masih ada stigma pada orang yang mencari bantuan ahli seperti ke
psikolog atau psikiater. Nadhrah menekankan, mencari bantuan profesional merupakan tindakan yang wajar dan bukan kelemahan, serta orang yang sehat bukan berarti tidak mengalami stres.

Justru, menurutnya, kemampuan mampu mengenali kondisi diri, mengelola tekanan, serta mencari bantuan ketika diperlukan adalah kemampuan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa selama studi.

"Beranilah mencari bantuan, karena mencari bantuan itu adalah hal yang sehat, hal yang wajar," pesannya.



(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads