Burnout Akademik: Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Kehabisan Energi?

ADVERTISEMENT

Belajar dari Pakar

Burnout Akademik: Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Kehabisan Energi?

- detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 10:00 WIB
Patricia Adam, S.Psi., M.Psi., Ed.M., Psikolog
Patricia Adam, S.Psi., M.Psi., Ed.M., Psikolog
- Anggota Laboratorium Learning, Education and School Wellbeing - Dosen Fakultas Psikologi UI
Ilustrasi burnout akademik
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh Gemini AI
Jakarta -

Kuliah sering dibayangkan sebagai masa yang seru, penuh kebebasan, dan jadi kesempatan untuk mengenal banyak hal baru. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Di balik jadwal kelas, organisasi, praktikum, tugas kelompok, dan skripsi, banyak mahasiswa justru merasa kehabisan tenaga.

Mereka tetap masuk kelas, mengerjakan tugas, bahkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang cukup baik. Namun, semangat belajar perlahan hilang. Kuliah terasa seperti rutinitas berat yang harus diselesaikan, bukan lagi proses yang menyenangkan. Kondisi ini dikenal sebagai burnout akademik.

Burnout Akademik Bukan Sekadar Capek

Burnout akademik berbeda dari rasa lelah setelah begadang mengerjakan tugas. Lelah biasa umumnya membaik setelah tidur atau beristirahat. Sementara itu, burnout dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi cara mahasiswa melihat kuliah, diri sendiri, serta masa depannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep burnout akademik dikembangkan oleh Wilmar Schaufeli dan rekan-rekannya pada 2002 melalui instrumen Maslach Burnout Inventory-Student Survey atau MBI-SS. Menurut kerangka tersebut, burnout akademik memiliki tiga ciri utama.

Pertama, kelelahan emosional, yaitu kondisi ketika mahasiswa merasa terkuras secara fisik dan mental akibat tuntutan studi.

ADVERTISEMENT

Kedua, sinisme akademik, yaitu munculnya sikap apatis atau menjauh atau tidak lagi peduli terhadap perkuliahan.

Ketiga, menurunnya efikasi diri, yaitu hilangnya keyakinan bahwa diri sendiri mampu menyelesaikan tugas dan mencapai target akademik.

Peneliti Indonesia juga telah mengembangkan alat ukur burnout akademik yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal di Indonesia. Hal ini penting karena tekanan yang dialami mahasiswa Indonesia dapat berkaitan dengan sistem SKS, tugas organisasi, tuntutan keluarga, hingga dorongan untuk lulus tepat waktu.

Artinya, burnout tidak selalu muncul karena seseorang 'kurang kuat'. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh sistem belajar dan lingkungan kampus.

Data Mahasiswa Burnout Akademik di Indonesia

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa burnout akademik cukup banyak dialami mahasiswa Indonesia. Sebuah studi terhadap 250 mahasiswa keperawatan di salah satu universitas negeri menemukan bahwa stres menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi burnout, disusul depresi.

Mahasiswa tahun keempat juga melaporkan tingkat burnout paling tinggi dibanding angkatan lain. Hal ini masuk akal karena mahasiswa tingkat akhir biasanya menghadapi beban yang berlapis, mulai dari skripsi, praktik lapangan, persiapan kelulusan, hingga kecemasan mengenai pekerjaan.

Penelitian lain terhadap 105 mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia menemukan bahwa 73,3 persen responden atau sekitar 77 mahasiswa cenderung mengalami burnout akademik tingkat sedang. Aspek yang paling menonjol adalah kelelahan dan sinisme terhadap aktivitas akademik.

Fenomena Global Mahasiswa Burnout

Fenomena serupa juga ditemukan secara global. Meta-analisis terhadap 55 studi dan melibatkan hampir 28.000 mahasiswa dari 24 negara berpenghasilan rendah dan menengah mencatat prevalensi burnout akademik sekitar 12,1 persen. Mahasiswa pascasarjana memiliki risiko lebih tinggi, yakni 29,2 persen, dibanding mahasiswa sarjana yang berada pada angka 9,1 persen.

Penelitian lain yang melibatkan lebih dari 100.000 mahasiswa menunjukkan bahwa burnout berkaitan dengan penurunan prestasi akademik. Studi terbaru terhadap lebih dari 39.000 mahasiswa juga menemukan hubungan erat antara burnout dan keinginan untuk berhenti kuliah.

Sementara itu, penelitian terhadap mahasiswa internasional di Taiwan menemukan sekitar satu dari delapan mahasiswa mengalami burnout tingkat tinggi. Relasi sosial yang baik diketahui dapat menjadi faktor pelindung.

Kenapa Burnout Bisa Terjadi?

Burnout akademik biasanya tidak disebabkan oleh satu hal saja. Kondisi ini lebih sering muncul akibat tumpukan tekanan yang berlangsung lama.

Salah satu penyebabnya adalah beban akademik yang menumpuk. Dalam satu semester, mahasiswa dapat menghadapi banyak mata kuliah, tugas kelompok, praktikum, presentasi, kegiatan organisasi, magang, hingga skripsi secara bersamaan.

Masalah berikutnya adalah ketidakseimbangan antara tuntutan dan dukungan. Beban tugas yang tinggi dapat semakin berat jika tidak diimbangi dengan umpan balik yang jelas, bantuan dosen, waktu yang cukup, serta ruang bagi mahasiswa untuk mengatur cara belajarnya.

Faktor lain adalah stres digital. Pembelajaran daring, grup percakapan yang aktif tanpa henti, notifikasi tugas, dan tuntutan untuk selalu terhubung dapat membuat mahasiswa sulit benar-benar beristirahat.

Burnout juga dapat terjadi ketika mahasiswa merasa tidak terikat dengan lingkungan kampus. Mereka mungkin hadir di kelas, tetapi tidak merasa menjadi bagian dari komunitas akademik.

Dukungan sosial turut berperan penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan dukungan sosial rendah cenderung memiliki tingkat burnout yang lebih tinggi.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Burnout akademik tidak selalu terlihat secara langsung. Mahasiswa yang mengalaminya masih mungkin datang ke kelas, mengikuti ujian, dan mengumpulkan tugas. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan.

Misalnya, merasa lelah terus-menerus meski sudah beristirahat, mulai bersikap acuh terhadap jurusan yang sebelumnya diminati, atau merasa semua usaha tidak lagi bermakna. Tanda lainnya bisa berupa kesulitan tidur, sakit kepala, mudah tersinggung, dan semakin sering menunda pekerjaan.

Prokrastinasi dalam kondisi ini tidak selalu berarti malas. Bisa jadi kapasitas mental mahasiswa sudah terlalu penuh, sehingga memulai tugas sederhana pun terasa sangat berat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa burnout bukan kegagalan pribadi. Mahasiswa tidak harus menunggu sampai benar-benar kewalahan untuk mencari bantuan.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah membangun resiliensi akademik, yaitu kemampuan untuk bertahan dan bangkit saat menghadapi tekanan belajar. Resiliensi dapat tumbuh melalui keyakinan terhadap kemampuan diri, target yang realistis, serta relasi sosial yang sehat.

Mahasiswa juga perlu memperkuat keterlibatan dengan proses belajar, bukan hanya mengejar nilai. Menghubungkan materi kuliah dengan tujuan pribadi atau cita-cita dapat membantu mengembalikan makna belajar.

Support system juga penting. Teman, senior, mentor, keluarga, dan dosen pembimbing dapat menjadi tempat berbagi sekaligus membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Gejala fisik pun tidak boleh diabaikan. Tubuh yang terus lelah, sulit tidur, atau sering sakit dapat menjadi sinyal bahwa beban sudah terlalu berat.

Layanan konseling kampus juga dapat dimanfaatkan. Datang ke konselor bukan tanda kelemahan, melainkan langkah proaktif untuk menjaga diri agar tetap mampu menjalani masa studi.

Kampus Juga Punya Tanggung Jawab

Penanganan burnout tidak seharusnya dibebankan kepada mahasiswa saja. Kampus perlu mengevaluasi beban tugas, kualitas komunikasi dosen, sistem pendampingan akademik, serta akses terhadap layanan konseling. Dosen juga perlu memberikan instruksi dan umpan balik yang jelas agar mahasiswa tidak merasa bekerja tanpa arah.

Burnout akademik adalah masalah individu sekaligus masalah sistem. Karena itu, solusinya juga harus melibatkan keduanya.

Pada akhirnya, burnout bukan bukti bahwa mahasiswa kurang niat atau tidak cukup tangguh. Kondisi ini adalah tanda bahwa tuntutan sudah lebih besar daripada energi dan dukungan yang tersedia.

Mengenali gejala sejak awal, mencari bantuan, dan berani mengatur ulang ritme belajar merupakan langkah penting agar mahasiswa dapat menyelesaikan kuliah tanpa kehilangan kesehatan, motivasi, dan dirinya sendiri.

*) Patricia Adam, S.Psi., M.Psi., Ed.M., Psikolog
Anggota Laboratorium Learning, Education and School Wellbeing Fakultas Psikologi UI
Dosen Fakultas Psikologi UI

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video Mahasiswa Trisakti-HMI Demo di DPR, Jl Gatsu Arah Slipi Ditutup"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads