Wacana Kuliah Gratis, Guru Besar Unair: Belum Tentu Hapus Ketimpangan

ADVERTISEMENT

Wacana Kuliah Gratis, Guru Besar Unair: Belum Tentu Hapus Ketimpangan

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 12 Okt 2026 10:30 WIB
A picture of a man holding a graduation hat
Ilustrasi pendidikan tinggi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Chaichan Pramjit
Jakarta -

Pemerintah menyampaikan rencana untuk menggratiskan perkuliahan di PTN. Namun, guru besar Unair berpendapat kebijakan ini belum tentu menghapus ketimpangan.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi menegaskan masyarakat perlu mengkritisi dan mengapresiasi wacana tersebut. Menurutnya, apresiasi terhadap gagasan tersebut sebagai wujud sarana untuk meratakan akses pendidikan.

"Gagasan kuliah gratis dapat menjadi instrumen pemerataan yang dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini paling tidak beruntung mengakses pendidikan tinggi. Seperti kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, yang seringkali mengalami kesulitan mengakses pendidikan tinggi," ujarnya dalam laman Unair dikutip Minggu (12/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak Menghapus Ketimpangan

Meskipun berpotensi meratakan pendidikan, Prof Tuti menegaskan menggratiskan biaya kuliah tidak serta-merta menghapus ketimpangan. Menurutnya, mahasiswa dengan kemampuan finansial akan diuntungkan dengan kebiajkan tersebut.

"Sebaliknya, bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kelas bawah, kondisinya mungkin akan sama saja. Artinya, pendidikan tinggi gratis tidak dapat menyelesaikan persoalan ketimpangan pendidikan," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Jika berkaca dari kebijakan sekolah gratis dari jenjang SD-SMA, kebijakan kuliah gratis tidak sepenuhnya gratis. Ia menekankan biaya operasional pendidikan tinggi sangat bervariasi.

Solusi Alternatif

Selain wacana kuliah gratis, Prof Tuti mengusulkan tiga solusi alternatif, yaitu:

1. Pemerataan Akses Pendidikan Dasar hingga Menengah


Pemerintah bisa mengalokasikan dana kuliah gratis untuk memperbaiki, membenahi, dan meningkatkan kualitas pendidikan dari jenjang dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Hal ini lebih menyasar pada persoalan pemerataan pendidikan.

2. Perbanyak Beasiswa

Prof Tuti juga menyarankan pemerintah memperluas skema beasiswa atau subsidi terhadap mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas. Harapannya, skema kuliah gratis dapat dinikmati secara lebih adil.

3. Kebijakan yang Berfokus pada Kesetaraan dan Keadilan

Pendidikan tinggi gratis perlu didukung kebijakan yang menjamin keadilan dan kesetaraan. Kesetaraan memastikan hak pendidikan yang sama bagi semua mahasiswa, sedangkan keadilan memberikan dukungan sesuai kebutuhan.

"Agar mahasiswa kurang beruntung dapat mencapai kualitas lulusan yang setara," pungkasnya.



(nir/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads