Mengapa Angka Pengangguran Terdidik Sangat Tinggi di Indonesia? Ini Kata Kemnaker

ADVERTISEMENT

Mengapa Angka Pengangguran Terdidik Sangat Tinggi di Indonesia? Ini Kata Kemnaker

Antara - detikEdu
Senin, 17 Agu 2026 18:00 WIB
Sejumlah pencari kerja menghadiri kegiatan Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Pemerintah Kabupaten Kendal menggelar bursa kerja yang diikuti 34 perusahaan dengan membuka 4.703 lowongan kerja untuk penempatan di dalam dan luar negeri sebagai upaya memperluas kesempatan kerja dan menekan angka pengangguran terbuka yang berlangsung hingga 23 Juli. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Potret Job Fair. (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta -

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pengangguran terdidik mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026. Mengapa angka pengangguran terdidik Indonesia sangat tinggi?

Pengangguran terdidik sendiri termasuk mereka yang lulusan diploma IV, S1, S2, hingga S3. Angka ini mencakup sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta pengangguran nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menilai faktor utama tingginya jumlah pengangguran terdidik Indonesia ada pada ketidaksesuaian antara kompetensi angkatan kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

"Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi disebabkan adanya mismatch antara kompetensi jabatan dengan keterampilan yang dimiliki, hingga rendahnya literasi digital dan soft skills," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker Anwar Sanusi dilansir Antara, dikutip Senin (17/8/2026).

ADVERTISEMENT

Faktor lainnya adalah melambatnya pertumbuhan lapangan kerja formal. Di lain sisi, jumlah lulusan baru perguruan tinggi semakin tinggi.

"Pertumbuhan lapangan kerja formal belum sebanding dengan jumlah lulusan baru, ditambah preferensi lulusan yang cenderung menunggu pekerjaan formal tertentu," ujarnya.

Sistem Pendidikan yang Tertinggal

Ia memandang perkembangan teknologi dan transformasi industri yang berlangsung cepat belum diikuti oleh sistem pendidikan dan pelatihan. Kondisi ini menyebabkan banyak lulusan belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.

Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono menambahkan keterbatasan pengalaman kerja, penguasaan soft skills, dan sertifikasi kompetensi juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya penyerapan tenaga kerja.

"Sektor yang paling merasakan tantangan ini adalah sektor industri padat teknologi. Di beberapa kawasan industri, seperti di Batam misalnya, investasi yang masuk membutuhkan kualifikasi yang sangat spesifik," kata Faried.

Langkah Kemnaker Mengatasi Missmatch Industri

Faried mengatakan, Kemnaker terus berupaya untuk mengatasi mismatch antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri. Beberapa langkah yang dilakukan melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, keterlibatan industri dalam proses pembelajaran, dan peningkatan kompetensi tenaga pendidik.

"Selanjutnya, perluasan praktik kerja dan pengalaman industri bagi siswa, serta evaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja," ujarnya.



(nir/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads