Rhenald Kasali: Bukan IPK, Sarjana Harus Punya Ini untuk Hadapi AI

ADVERTISEMENT

Rhenald Kasali: Bukan IPK, Sarjana Harus Punya Ini untuk Hadapi AI

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 21 Agu 2026 18:00 WIB
Prof Rhenald Kasali
Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali. Foto: Cicin Yulianti/detikcom
Jakarta -

Akademisi sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Prof Rhenald Kasali memberikan pesan kepada ribuan peserta wisuda UI tahun akademik 2025/2026 yang digelar hari ini, Jumat (21/8/2026).

Dalam paparannya, penulis tersebut menyoroti tantangan para sarjana di era kecerdasan buatan (AI). Ia menegaskan bahwa gelar sarjana, master, bahkan doktor bukan lagi jaminan kesuksesan.

Ia menekankan pentingnya self-driving mentality atau mentalitas penggerak diri. Dengan mental tersebut, para lulusan akan terus mengembangkan pengetahuannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini kita menyaksikan pertarungan saudara adalah menghadapi orang-orang yang curious, orang-orang yang mencari pengetahuan sendiri, yang memiliki apa yang disebut sebagai self-driving mentality. Mentalitas bergerak karena inisiatif, karena adanya curiosity," kata Rhenald dalam acara Wisuda UI di Gedung Balairung UI Depok, Jawa Barat pada Jumat (21/8/2026).

ADVERTISEMENT

Sarjana Hadapi Era AI

Selain itu, Rhenald juga menyoroti fenomena human disruption, yang mana teknologi sudah mengubah identitas dan persepsi manusia.

Kini, kemampuan para sarjana bisa kalah saing dari kecerdasan buatan (AI) jika tidak terus dikembangkan. Karena itu, menurutnya, tantangan sarjana di era human disruption cukup berat.

"Human disruption adalah ketika teknologi mengubah apa yang bisa dilakukan oleh manusia, sekaligus mengubah persepsi, identitas, kecepatan, dan segala hal yang melekat pada manusia itu sendiri," ungkapnya.

Rhenald mengingatkan agar para lulusan tidak terkecoh oleh teknologi. Teknologi memang memudahkan, tetapi jangan sampai kehilangan fokus karena algoritma tersebut.

"Apa saja yang telah diubah oleh teknologi itu? Yang pertama adalah attention atau perhatian saudara-saudara. Hari ini sambil saudara mendengarkan para guru besar, saudara membuka ponsel saudara. Dan begitu saudara membuka ponsel saudara, saudara pun terdistraksi karena algoritma," katanya.

Bahaya Berhenti Belajar

Rhenald kemudian mewanti-wanti sarjana agar tidak berhenti belajar. Menurutnya, meskipun seseorang punya nilai IPK sempurna tidak jadi berarti jika ia berhenti belajar.

"Kalau saudara sekolah hanya sekadar untuk mendapatkan ijazah, dan kemudian saudara merasa selesai walaupun saudara menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 maka saudara selesai pada hari ini. Sementara teman-teman saudara yang IPK-nya di bawah itu akan mengatakan 'saya baru memulainya'," katanya.

Kini, seseorang tanpa gelar sudah bisa selangkah lebih maju. Rhenald membagikan kisah bagaimana orang-orang tanpa gelar mampu menciptakan inovasi luar biasa.

Ia mencontohkan, ada seorang Hafiz Al-Qur'an yang mampu menandingi seorang PhD dalam riset farmasi. Ia adalah seorang pedagang ikan hias di Jatinegara yang melakukan pengeditan DNA ikan secara mandiri.

"Para sarjana tengah asyik mencari pekerjaan, tengah asyik membuat CV, sementara mereka (praktisi mandiri) mengembangkan produk-produk baru dan diam-diam menciptakan pasar," tuturnya.



(cyu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads