Kuliah sering dibayangkan sebagai masa yang seru, penuh kebebasan, dan jadi kesempatan untuk mengenal banyak hal baru. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Di balik jadwal kelas, organisasi, praktikum, tugas kelompok, dan skripsi, banyak mahasiswa justru merasa kehabisan tenaga.
Mereka tetap masuk kelas, mengerjakan tugas, bahkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang cukup baik. Namun, semangat belajar perlahan hilang. Kuliah terasa seperti rutinitas berat yang harus diselesaikan, bukan lagi proses yang menyenangkan. Kondisi ini dikenal sebagai burnout akademik.
Burnout Akademik Bukan Sekadar Capek
Burnout akademik berbeda dari rasa lelah setelah begadang mengerjakan tugas. Lelah biasa umumnya membaik setelah tidur atau beristirahat. Sementara itu, burnout dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi cara mahasiswa melihat kuliah, diri sendiri, serta masa depannya.
Konsep burnout akademik dikembangkan oleh Wilmar Schaufeli dan rekan-rekannya pada 2002 melalui instrumen Maslach Burnout Inventory-Student Survey atau MBI-SS. Menurut kerangka tersebut, burnout akademik memiliki tiga ciri utama.
Pertama, kelelahan emosional, yaitu kondisi ketika mahasiswa merasa terkuras secara fisik dan mental akibat tuntutan studi.
Kedua, sinisme akademik, yaitu munculnya sikap apatis atau menjauh atau tidak lagi peduli terhadap perkuliahan.
Ketiga, menurunnya efikasi diri, yaitu hilangnya keyakinan bahwa diri sendiri mampu menyelesaikan tugas dan mencapai target akademik.
Peneliti Indonesia juga telah mengembangkan alat ukur burnout akademik yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal di Indonesia. Hal ini penting karena tekanan yang dialami mahasiswa Indonesia dapat berkaitan dengan sistem SKS, tugas organisasi, tuntutan keluarga, hingga dorongan untuk lulus tepat waktu.
Artinya, burnout tidak selalu muncul karena seseorang 'kurang kuat'. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh sistem belajar dan lingkungan kampus.