Setelah Setengah Abad, Kok Bisa Ukuran Ayam Membesar Beberapa Kali Lipat?

ADVERTISEMENT

Setelah Setengah Abad, Kok Bisa Ukuran Ayam Membesar Beberapa Kali Lipat?

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 04 Sep 2026 08:30 WIB
Sebuah peternakan di Cimincrang, Bandung, Jawa Barat, diisi penuh ayam broiler. Seperti apa penampakannya?
Foto: Satria Nandha/Ilustrasi Ayam Broiler.
Jakarta -

Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling banyak beredar di pasaran. Salah satu faktor yang membuat ayam terkenal adalah harganya yang tidak setinggi daging sapi atau unggas lain.

Kebutuhannya mulai meningkat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Peternakan ayam milik keluarga yang berskala kecil berubah menjadi perusahaan industri besar.

Di Amerika Serikat (AS), ayam menduduki puncak protein paling laris, di mana menyumbang lebih dari 40 persen untuk seluruh daging yang dikonsumsi di negara tersebut. Berdasarkan US Department of Agriculture (USDA), kini warga AS rata-rata mengonsumsi ayam hampir tiga kali lebih banyak per orang dibandingkan dengan konsumsi pada 1965 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi di Alberta University, Amerika Serikat, mengungkapkan adanya perubahan ukuran tubuh ayam. Dahulu ayam identik dengan hewan kecil yang lincah, tetapi seiring dengan permintaannya yang terus meningkat, ukurannya juga turut berubah.

Peneliti membandingkan sampel garis keturunan ayam yang tidak berubah melalui pembiakan selektif sejak 1957 dengan sampel ayam broiler modern 2005. Hasilnya, di usia 56 hari, ayam dari 1957 rata-rata hanya berbobot 905 gram, sedangkan ayam dari 2005 memiliki berat rata-rata 4,202 gram dengan kondisi pakan yang sama.

ADVERTISEMENT

Kenapa Bisa Membesar?

Masih berdasarkan studi yang sama, perubahan yang sangat signifikan ini diungkapkan bukan karena alasan hormon atau obat-obatan. Peneliti menjelaskan hal ini lebih dipengaruhi oleh seleksi genetik dan kekuatan pasar.

Seiring dengan meroketnya permintaan pasar terhadap kebutuhan ayam, ilmuwan kemudian berlomba-lomba untuk memilih sifat-sifat tertentu dari ayam yang dapat meningkatkan keunggulan ayam yang dikembangbiakkan.

Pada akhir 1940-an, seleksi terhadap sifat-sifat ayam ini semakin intensif. Para peternak pun berlomba-lomba menghasilkan dua jenis ayam yaitu petelur dan pedaging, yang paling sempurna.

Ayam petelur merupakan jenis ayam yang dipelihara untuk menghasilkan telur dalam jumlah besar. Sedangkan, ayam pedaging merupakan jenis ayam yang gemuk berdaging dan utamanya dikonsumsi dagingnya.

The Great Atlantic & Pacific Tea Company atau lebih dikenal dengan A&P bersama dengan USDA mendukung program pembiakan ayam secara nasional dan menyediakan total hadiah uang 10.000 USD pada 1940-an.

Pada 1948, 5.000 USD diberikan kepada ayam hasil persilangan Cornish-New Hampshire milik Charles Vantress. Ayam lainnya adalah Arbor Acres White Plymouth Rocks milik Henry Saglio, yang menjadi peserta ras murni terkemuka dan menempati posisi kedua secara keseluruhan.

Kedua ayam ini kemudian dikawinkan dan menghasilkan jenis Arbor Acre, yang hingga saat ini menjadi standar bagi seluruh jenis ayam yang beredar di pasaran.

Program ini diinisiasi karena adanya kekhawatiran suplai ayam tidak mencukupi permintaan yang meroket. Pada akhirnya, ayam yang tadinya membutuhkan waktu 70 hari hingga siap dipasarkan, kini hanya membutuhkan waktu 47 hari hingga dipasarkan.

Meski diberi makanan dengan jenis yang sama, ayam broiler modern bahkan dapat dipasarkan dalam kurun waktu 35 hari dari sejak menetasnya atau sama dengan setengah waktu dari ayam yang berkembang pada 1948 lalu.

Apa Dampaknya terhadap Ayam?

Meski dapat berkembang hingga empat kali lebih besar, ayam broiler modern memiliki beberapa masalah kesehatan yang fatal. Di antaranya adalah kaki yang lemah, penyakit jantung, hingga masalah pernapasan.

Selain faktor kesehatan fisik, lingkungan sekitar juga berkontribusi menekan ayam. Hidup di peternakan yang intensif untuk menghasilkan daging ayam yang sangat murah dan melimpah, membuat ayam merasa stres. Hal ini kemudian dapat menuntun ayam mengalami penurunan produktivitas hingga kematian mendadak.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads