Untuk kali pertama dalam dua dekade terakhir, lebih banyak warga Inggris yang meragukan manfaat pendidikan tinggi dibandingkan mereka yang meyakininya. Hasil British Social Attitudes Survey 2025 menunjukkan bahwa 34 persen responden menilai gelar universitas tidak lagi sepadan dengan biaya dan waktu yang harus dikeluarkan.
Pada 2005, angka tersebut masih berada pada kisaran 14 persen. Di saat yang sama, keyakinan publik terhadap keuntungan ekonomi yang dijanjikan pendidikan tinggi juga mengalami penurunan yang signifikan. Kenaikan biaya kuliah, membengkaknya utang pendidikan, dan ketidakpastian pasar kerja menjadi faktor yang paling sering disebut sebagai penyebabnya.
Sekilas, fenomena ini tampak sebagai persoalan yang khas negara maju. Namun sesungguhnya, gejala yang sama mulai terlihat di banyak negara, termasuk Indonesia. Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat, transformasi teknologi yang berlangsung sangat cepat, dan pasar kerja yang semakin kompetitif, pertanyaan mengenai nilai universitas kembali mengemuka. Apakah pendidikan tinggi masih layak diperjuangkan? Apakah gelar sarjana masih relevan di era kecerdasan artifisial? Ataukah universitas sedang kehilangan legitimasi sosialnya di hadapan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lahir dari ruang hampa, tapi tumbuh dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan itu sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan tinggi semakin sering dipahami sebagai investasi ekonomi individual. Nilainya diukur berdasarkan kecepatan memperoleh pekerjaan, besarnya pendapatan setelah lulus, dan kemampuan memberikan keuntungan finansial dalam waktu singkat. Ketika harapan-harapan itu tidak terpenuhi, kekecewaan pun muncul. Universitas kemudian dianggap gagal menjalankan fungsi yang dijanjikannya.