Universitas joint venture dari China dan Inggris, Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) mengungkapkan, ada lebih dari 1.500 pelajar asal Indonesia mendaftar ke program sarjananya untuk mulai kuliah pada September 2026 mendatang. Total, pelamar S1 XJTLU asal Indonesia mencapai 38 persen dari total calon mahasiswa internasionalnya.
Di samping data per 1 Juni tersebut, total mahasiswa Indonesia di XJTLU sendiri saat ini tercatat sekitar 700 orang. Para mahasiswa RI di kampus ini tersebar di program sarjana, magister, program musim panas, dan program nongelar bahasa Mandarin.
Dikutip dari laman Beasiswa Garuda, XJTLU juga masuk kampus tujuan bagi peminat beasiswa pemerintah RI ini. Sejumlah jurusan yang ditawarkan dengan Beasiswa Garuda 2026 antara lain Computer Science and Technology, Electrical Enginering & Automation, Software Engineering, hingga Material Science and Engineering.
Diketahui, XJTLU merupakan kampus berusia 20 tahun yang berlokasi di Suzhou, China. Sebagai kampus yang terbilang 'baru' ketimbang kampus China dan Inggris lainnya, perguruan tinggi ini tidak masuk peringkat top 10 atau top 20 versi QS atau Times Higher University (THE) seperti sejumlah kampus China lainnya.
Lantas, apa yang menarik bagi pelajar Indonesia hingga ramai-ramai mendaftar ke XJTLU?
S1 Double Degree
Alumnus XJTLU, Tuty Julfa, menuturkan, ia semula memilih kampus ini 17 tahun yang lalu karena pertimbangan kampus internasional dengan dua ijazah (dual degree), yakni dari University of Liverpool, UK sebagai parent university yang diakui global dan dari XJTLU yang diakui China. Ia pun memantapkan diri memilih S1 Information and Computing Science di kampus ini, dengan fokus software engineering.
"Di usia 16 tahun, saya merasa, ini yang saya bisa yakini ketika saya kembali lagi ke Indonesia, saya bisa menggunakan sertifikasi saya dengan kesempatan yang lebih luas," ujarnya pada diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Semasa mengerjakan skripsi, Tuty menuturkan, ia juga didorong profesornya hingga menghasilkan publikasi ilmiah di bidang AI. Ia juga terjun menjadi volunteer AIESEC mewakili kampusnya di luar negeri, yang baginya jadi kesempatan untuk mengembangkan interpersonal skill.
"Penelitian itu sekarang ada di CV saya, dan membantu dalam karier saya," tutur praktisi digital marketing dan pemilik brand lokal bidang retail fashion ini.
Dukungan Teman dan Lingkungan Industri
Sementara perkuliahan dilaksanakan dalam bahasa Inggris, ia pun belajar bahasa Mandarin dengan dukungan teman-teman warga lokal. Para teman-teman dari China baginya juga membantu para pelajar asing mengejar standar akademik kampus, berkenalan dengan para profesor, hingga para profesional industri.
Diketahui, kampus yang berlokasi di Suzhou Dushu Lake Science and Education Innovation District, kawasan Suzhou Industrial Park (SIP) dekat pusat ekonomi China, Delta Sungai Yangtze ini melibatkan industri untuk membangun tujuh sekolah (fakultas) industri. Kampus ini juga bermitra dengan sekitar 300 perusahaan untuk membawa masalah nyata di industri untuk diselesaikan mahasiswa dengan bantuan pengajar, mentor eksternal, atau ahli industri.
(twu/nwk)