Lebih dari 1.500 Camaba Indonesia Daftar ke Kampus China-Inggris Ini

ADVERTISEMENT

Lebih dari 1.500 Camaba Indonesia Daftar ke Kampus China-Inggris Ini

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 25 Jun 2026 11:15 WIB
Diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Professor Youmin Xi, Presiden Eksekutif Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) dan Tuty Julfa, alumnus XJTLU. Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Universitas joint venture dari China dan Inggris, Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) mengungkapkan, ada lebih dari 1.500 pelajar asal Indonesia mendaftar ke program sarjananya untuk mulai kuliah pada September 2026 mendatang. Total, pelamar S1 XJTLU asal Indonesia mencapai 38 persen dari total calon mahasiswa internasionalnya.

Di samping data per 1 Juni tersebut, total mahasiswa Indonesia di XJTLU sendiri saat ini tercatat sekitar 700 orang. Para mahasiswa RI di kampus ini tersebar di program sarjana, magister, program musim panas, dan program nongelar bahasa Mandarin.

Dikutip dari laman Beasiswa Garuda, XJTLU juga masuk kampus tujuan bagi peminat beasiswa pemerintah RI ini. Sejumlah jurusan yang ditawarkan dengan Beasiswa Garuda 2026 antara lain Computer Science and Technology, Electrical Enginering & Automation, Software Engineering, hingga Material Science and Engineering.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diketahui, XJTLU merupakan kampus berusia 20 tahun yang berlokasi di Suzhou, China. Sebagai kampus yang terbilang 'baru' ketimbang kampus China dan Inggris lainnya, perguruan tinggi ini tidak masuk peringkat top 10 atau top 20 versi QS atau Times Higher University (THE) seperti sejumlah kampus China lainnya.

ADVERTISEMENT

Lantas, apa yang menarik bagi pelajar Indonesia hingga ramai-ramai mendaftar ke XJTLU?

S1 Double Degree

Diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di Jakarta, Rabu (24/6/2026).Tuty Julfa (kanan), alumnus XJTLU pada Diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di Jakarta, Rabu (24/6/2026). Foto: Trisna Wulandari/detikcom

Alumnus XJTLU, Tuty Julfa, menuturkan, ia semula memilih kampus ini 17 tahun yang lalu karena pertimbangan kampus internasional dengan dua ijazah (dual degree), yakni dari University of Liverpool, UK sebagai parent university yang diakui global dan dari XJTLU yang diakui China. Ia pun memantapkan diri memilih S1 Information and Computing Science di kampus ini, dengan fokus software engineering.

"Di usia 16 tahun, saya merasa, ini yang saya bisa yakini ketika saya kembali lagi ke Indonesia, saya bisa menggunakan sertifikasi saya dengan kesempatan yang lebih luas," ujarnya pada diskusi media dalam rangkaian 20 tahun XJTLU di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Semasa mengerjakan skripsi, Tuty menuturkan, ia juga didorong profesornya hingga menghasilkan publikasi ilmiah di bidang AI. Ia juga terjun menjadi volunteer AIESEC mewakili kampusnya di luar negeri, yang baginya jadi kesempatan untuk mengembangkan interpersonal skill.

"Penelitian itu sekarang ada di CV saya, dan membantu dalam karier saya," tutur praktisi digital marketing dan pemilik brand lokal bidang retail fashion ini.

Dukungan Teman dan Lingkungan Industri

Sementara perkuliahan dilaksanakan dalam bahasa Inggris, ia pun belajar bahasa Mandarin dengan dukungan teman-teman warga lokal. Para teman-teman dari China baginya juga membantu para pelajar asing mengejar standar akademik kampus, berkenalan dengan para profesor, hingga para profesional industri.

Diketahui, kampus yang berlokasi di Suzhou Dushu Lake Science and Education Innovation District, kawasan Suzhou Industrial Park (SIP) dekat pusat ekonomi China, Delta Sungai Yangtze ini melibatkan industri untuk membangun tujuh sekolah (fakultas) industri. Kampus ini juga bermitra dengan sekitar 300 perusahaan untuk membawa masalah nyata di industri untuk diselesaikan mahasiswa dengan bantuan pengajar, mentor eksternal, atau ahli industri.

Kuliah dengan Bahasa Inggris

Presiden Eksekutif XJTLU, Youmin Xi menuturkan, kampusnya merupakan universitas berbahasa Inggris dan universitas internasional. Ia berpendapat, hal ini memungkinkan pelajar Indonesia belajar di China dan tentang China itu sendiri, sambil berkomunikasi dan memahami bisnisnya, serta membuka peluang kerja dan tinggal di sana.

Xi menuturkan, pihaknya juga berupaya mendesain perkuliahan agar sesuai dengan kebutuhan masa depan, sehingga lulusan tidak tergantikan oleh teknologi atau AI.

Dalam hal ini, ia menjelaskan, kampus tidak mengajarkan pengetahuan dalam bahasa Inggris dan memberikan ijazah, tetapi mengajarkan mahasiswa agar mengembangkan kearifan (wisdom) atau kemampuan untuk berpikir, sehingga bisa menyikapi bisnis, dunia, dan masa depannya sendiri.

Kemampuan ini, sambungnya, juga berdampak pada kemampuan mahasiswanya untuk belajar dengan cepat dan kompetitif.

Hal ini menurut Xi juga didukung lingkungan kampus yang diisi staf dari 60 negara dan mahasiswa dari 100 lebih negara. Keberagaman ini menurutnya memungkinkan para mahasiswa belajar memahami budaya berbeda dari seluruh dunia.

"Sehingga mereka sudah terbiasa untuk berhubungan dengan budaya-budaya yang berbeda-beda. Dengan cara seperti ini, mereka bisa terbiasa dan maju dengan sangat cepat," ucapnya.

Hiburan di Shanghai

Sementara fokus kuliah di kampus Suzhou yang tenang, Xi berpendapat, mahasiswa juga bisa liburan akhir pekan ke kota terdekat, Shanghai.

"Jadi saya rasa lokasi yang sangat menarik itu sangat membantu agar banyak mahasiswa tertarik ke sana (masuk XJTLU). Karena kalau mereka suka dengan kehidupan kota, mereka bisa dengan sangat cepat pergi ke Shanghai di akhir minggu dan bermain di sana," ucapnya.

Soal Ranking Kampus

Xi mengaku, kampusnya yang masih muda tak begitu ambil pusing soal reputasi di mata orang tua yang dibangun dari peringkat perguruan tinggi global, kendati tetap masuk daftar ranking versi QS, Times Higher Education (THE) maupun pemeringkatan China. Menurutnya, lebih penting untuk berfokus membantu mahasiswa dalam memperoleh pendidikan yang layak.

"Sejujurnya, di XJTLU, kami tidak suka ranking apapun. Karena kebanyakan ranking telah mengubah perilaku pemimpin kampus. Mereka jadi banyak memerhatikan bagaimana caranya untuk mengikuti kriteria, agar bisa dapat ranking yang lebih tinggi, tapi mereka jadi lupa bagaimana membantu mahasiswa; untuk menjalankan esensi universitas, yaitu membantu mahasiswanya," ujarnya.

Untuk itu, reputasi kampus menurutnya dapat dibangun dari filosofi kampus dan model pendidikan; lulusan yang diakui perguruan tinggi global dan perusahaan.

"Perusahaan-perusahaan sigap menarik lulusan dari universitas (bereputasi itu)," tuturnya.

Xi mengungkapkan, di XJTLU sendiri, hampir 90 persen mahasiswa S1 lanjut pendidikan ke jenjang magister dan PhD. Sementara itu, hampir setengah dari lulusan lanjut studi di 10 kampus teratas dunia versi QS.

Adapun 10 persen lulusan terjun ke pasar kerja. Ia menuturkan, mayoritas lulusan tersebut lanjut bekerja di organisasi nasional dan perusahaan terkemuka.

"Tiap tahun, kami buat laporan analisis employment, mengumpulkan feedback dari para pemberi kerja tentang lulusan kami. Contohnya di Yangtze River Delta, banyak yang menyampaikan ke saya, susah mencari mahasiswa saya karena selalu memilih perusahaan besar. Saya bilang, 'Mohon kerja lebih keras lagi untuk membuat perusahaanmu lebih menarik'," tuturnya sambil tersenyum.

"Saat ini, situasi pendidikan dunia sedang berubah. Kita perlu mendefinisikan ulang kampus untuk memahami lebih baik tentang filosofi pendidikan, model pendidikan, untuk mahasiswa, untuk orang tua," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3
(twu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads