Prihantini dan Riana Dwi Kurniawati Tercatat Presentasi di Korsel Hari Ini dan Besok!

ADVERTISEMENT

Prihantini dan Riana Dwi Kurniawati Tercatat Presentasi di Korsel Hari Ini dan Besok!

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 29 Mei 2026 11:30 WIB
Momen saat Prihantini mempresentasikan riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 lalu
Momen saat Prihantini mempresentasikan riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, 18 Mei 2026 lalu. Foto: Dok. WO Dwi Daningrat
Jakarta -

Nama Prihantini yang belakangan mencuat karena kasus dugaan riset palsu, tercatat akan melakukan presentasi dalam forum Asia-Pacific Cardiometabolic Syndrome Congress (APCMS) di Korea Selatan, Sabtu (30/5/2026). Prihantini tercatat akan berbicara pada sesi 19: Young Investigator Award Session di ruang 3 pukul 13.18-13.27 waktu setempat.

Dilihat detikEdu dalam laman resmi APCMS, Prihantini menyertakan asosiasi dengan IMCDS-BioMed Research Foundation, Indonesia dan hendak membawakan judul "Frailty, Orthostatic Systolic Nadir, and Silent Ischemia in Elders Integrating Gait Speed, Hemoglobin, NT-proBNP, High-Sensitivity Troponin, ECG Strain Pattern, and Postural Heart Rate Recovery in Multi-State Event Models".

Selain itu ada juga nama Riana Dwi Kurniawati yang mencatutkan asosiasi dengan Temanggung Public Health Center dan membawakan judul riset "Quantifying Diet and Physical Activity Environmental Determinants of Metabolic Burden: Cross-National Causal Effects of Ultra-Processed Food Exposure and Walkability Decline on CardioMetabolic Disability-Adjusted Life Years". Nama Riana Dwi Kurniawati terjadwal melakukan presentasi hari ini pukul 9.33-9.40 waktu setempat di ruang 1.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini sejumlah netizen juga tengah membahas keikutsertaan Prihantini dalam forum tersebut. APCMS merupakan forum pertukaran akademik antara profesional dan peneliti di bidang kesehatan di wilayah Asia-Pasifik. Forum ini ditetapkan oleh Korean Society of Cardiometabolic Syndrome.

ADVERTISEMENT

Awal Mula Prihantini Mencuat

Kasus ini terungkap ke publik setelah mahasiswa Indonesia mengungkap dugaan riset palsu yang dipresentasikan melalui International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026 lalu.

Wa Ode Dwi Daningrat, mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh S3 di Oxford University membongkar dugaan manipulasi dalam kasus ini melalui akun Instagramnya. Dwi juga telah mengizinkan detikEdu untuk mengutip seluruh pernyataannya.

Salah satu kejanggalan utama merupakan klaim pengumpulan data primer, yang misalnya menyebutkan wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa ada kolaborator atau mitra lokal. Dalam suatu riset internasional, hal ini dinilai nyaris mustahil dilakukan.

Identitas pemateri juga dipertanyakan. Misalnya dalam salah satu sesi ISPPD yang dijadwalkan dengan nama "Riana Dwi Kurniawati" dengan judul riset "Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities", seorang perempuan disebut tampil membawakan materi dan memperkenalkan diri menggunakan nama tersebut.

Namun, 10 menit kemudian pada sesi berbeda, perempuan tersebut berganti jilbab dan mengenakan identitas atas nama Dimas Fajar Prasetyo untuk penelitian yang berjudul "AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities". Dwi mengatakan, perempuan tersebut memperkenalkan diri dengan nama Dimas.

Setelah menelusuri, Dwi menemukan pemateri ternyata bukan bernama Riana, tetapi Prihantini. Akan tetapi, Prihantini tidak ada dalam daftar penulis di penelitian-penelitian yang ia presentasikan.

Prihantini pada forum itu mengirimkan sejumlah judul penelitian yaitu:

  • "Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia"
  • "Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes"
  • "Multiscale Mathematical Modeling of Influenza-Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host-Directed Therapy"
  • "Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia"
  • "Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae".

Berdasarkan laman ISPPD, 4 judul riset tersebut dikerjakan Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.




(nah/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads